- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Petani Tebu Nilai Bulog Tak Bisa Stabilkan Harga Gula

Jakarta-Kalangan petani tebu mengeluhkan Badan Urusan Logistik belum bisa menstabilkan harga gula. Bulog dinilai belum mampu menjadi stabilisator harga gula yang tinggi.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) Soemitro Samadikoen menilai, Bulog gagal menstabillkan harga gula di tahun lalu. Dia menyebut harga gula mencapai Rp 14 ribu per kg. Menurutnya, saat itu padahal Bulog mengantongi izin impor 100 ribu ton white sugar dan 267 ribu ton raw sugar.
“Mestinya, dengan kegagalan tersebut pemerintah tidak lagi memberikan penugasan impor gula lagi kepada BULOG” ujar Soemitro dalam keterangannya, Selasa (7/2/2017).
Baca Lainnya :
- Ini Penampakan Mutiara RI Terbaik di Dunia0
- Menkeu: pertumbuhan kredit bantu kinerja investasi 20170
- Harga cabai rawit di Bojonegoro Rp140.000/kilogram0
- Pedasnya Harga Cabai Terus Berlanjut hingga Maret0
- Harga Cabai Rawit Merah Masih Tinggi, Ini Komentar Mentan0
Tingginya harga gula nasional dinilai akibat kurangnya stok gula nasional, sehingga perlu kebijakan impor. Tahun 2016 Kementerian BUMN menugaskan BULOG untuk mengimpor 100 ribu ton white sugar dan raw sugar 267 ribu ton. “Impor tersebut selain mengakibatkan petani tebu merugi, juga tidak berpengaruh pada stabilisasi harga gula di tingkat eceran”, ujar Soemitro.
Sementara itu, Sekjen DPN APTRI Nur Khabsin menambahkan, ketika rencana impor digulirkan tahun lalu, Kementerian BUMN menjanjikan kompensasi kepada petani berupa rendemen 8,5 persen. Janji tersebut dingkari, isapan jempol saja, sehingga petani tetap merugi. Impornya jalan terus rendemennya tetap di kisaran angka 5 persen sampai 6 persen saja.
Selain itu, Soemitro juga mengkritik Bulog terkait kebijakan pembelian pabrik gula PT Gendhis Multi Manis (PT GMM) pada September 2016. Akuisisi perusahaan gula swasta di Blora, Jawa Tengah dinilai APTRI menimbulkan tanda tanya besar, di mana pada saat ini rencana penutupan 11 Pabrik Gula BUMN tidak diambilalih Bulog, tanpa harus mengeluarkan keuangan sebagaimana yang dilakukan dengan pembelian PT GMM.
“Hasil kajian Bahana Securitas menyimpulkan bahwa perusahaan tersebut tidak efisien. Tapi anehnya Bulog tetap ngotot membelinya,” pungkasnya.
Untuk diketahui, saat ini telah dilakukan Memorandum of Understanding antara produsen gula dan distributor. Dari kerja sama ini disepakati harga jual gula sebesar Rp 12.500 per kg di tingkat konsumen.
Sumber: bisnis.liputan6.com
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

