- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Rempah-rempah: Komoditas Strategis dalam Sejarah Penjajahan Indonesia
.jpg)
JAKARTA - Indonesia, sejak
beberapa abad lalu tersohor sebagai gudangnya rempah-rempah dunia. Begitu
berharganya rempah-rempah pada masa tersebut, sehingga menjadi daya tarik utama
bangsa asing mengarungi samudera. Mereka ingin mendapatkan rempah-rempah
langsung dari sumbernya. Hal inilah yang menarik perhatian Ryan Crewe,
Sejarawan Amerika Latin di Departemen Sejarah Universitas Colorado Denver,
Amerika.
“Kami lakukan untuk menelusuri jejak jalur rempah yang
menjadi pemicu perang di kancah global, antara bangsa Amerika, Eropa, dan
Asia,” kata Ryan yang disampaikannya dalam forum Berbagi Pusat
Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN “Benih Perselisihan: Perang Rempah
dalam Sejarah Global”, Senin (28/07), di BRIN Gatot Subroto, Jakarta.
Dalam 10 tahun terakhir, Ryan melakukan penelitian,
di antaranya, ditemukannya beberapa dokumen berbahasa Meksiko yang berhubungan
dengan sejarah di Indonesia pada abad 16 terutama Ternate dan Tidore. Bukunya
“The Mexican History” berhasil mendapatkan penghargaan prestisius atas
kontribusinya di bidang sejarah kolonialisme Amerika Latin.
Baca Lainnya :
- Jangan Asal Klik! Penipuan Berkedok Paket Bisa Kuras Data dan Uangmu0
- Ingin Mulai Jadi Kreator Konten? Ini 9 Alat Pemotretan Yang Kamu Butuhkan0
- Pertamina Group Kembangkan Pusat Rehabilitasi Orang Utan di Kaltim0
- Istri, Logo, Buku0
- 600 Alumni SMAN 7 Jakarta Semarakkan Sevenist CFD, Fun Walk & Fun Bike0
Menurutnya, perang rempah merujuk pada serangkaian konflik
antara bangsa Eropa yakni Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris untuk
memonopoli perdagangan rempah dunia.
“Penelitian ini berfokus pada dimensi trans-pasifik
dari perang rempah yang menjadi bagian penting dari sejarah dunia. Berawal dari
kolonialisasi Spanyol di Meksiko yang sangat kaya pada masa itu menjadikan
Meksiko sebagai pusat dari jaringan imperialisme Spanyol,” terangnya.
Dengan keberhasilan tersebut, lanjutnya, Spanyol melebarkan
kekuasaannya ke Filipina dan berlanjut dengan upaya pendudukan Maluku yang
merupakan penghasil rempah utama di Indonesia. Koneksi yang terbangun dua ratus
tahun lalu antara Indonesia, Filipina dan Meksiko merupakan kunci dari jalur
perdagangan rempah yang beredar di pasar global Eropa.
“Penelitian saat ini berfokus pada kajian sejarah terkait
rempah di Indonesia bagian timur, bagaimana kekuatan Eropa masuk dan memantik
konflik di tingkat lokal antar kerajaan di Ternate dan Tidore. Penelitian ini
juga bertujuan untuk menelusuri lebih detail perbedaan implementasi semboyan
bangsa Eropa yaitu gold, glory dan gospel di masa pendudukan
Spanyol dan Belanda,” imbuhnya.
Dirinya menambahkan, Spanyol bertujuan untuk kepentingan
dagang semata, sedangkan Hindia Belanda ingin menguasai sepenuhnya dari aspek
ekonomi, kemasyarakatan hingga sektor pemerintahan. Dalam penelitian tahap
selanjutnya, Ryan akan melakukan site visit ke beberapa daerah yakni
Ternate, Tidore, Makassar, dan Ambon untuk mengumpulkan kepingan riwayat
sejarah dari kisah masyarakat lokal.
Dalam kesempatan ini, Dedi Adhuri Peneliti Kelompok Riset
Warisan Budaya PRMB BRIN membahas riset yang berfokus pada isu-isu maritim
kontemporer. Ia menyarankan suatu pendekatan dalam penelitian yaitu sejarah
lisan dan tradisi lisan layak digunakan dalam penelitiannya.
“Selain kajian rempah, sebaiknya juga melibatkan
komunitas yang menghubungkan jalur maritim di Maluku. Selain itu juga
mengangkat tentang komoditas lokal di sana yakni teripang,” jelas Dedi.
Berbeda dengan rempah yang berdimensi sangat politis, yang
selalu memicu terjadinya konflik dan peperangan, komoditas teripang tidak
bersentuhan dengan konteks politik. Secara harmonis menghubungkan masyarakat
Maluku dengan dunia luar, seperti Australia dan China.
Ditegaskannya, perang rempah merupakan suatu periode “kelam”
Indonesia, di mana kekayaan alam Nusantara yang berlimpah.
“Hal ini menjadi daya tarik yang memicu konflik global yang
berujung pada penjajahan selama berabad-abad. Dengan diadakannnya forum budaya
ini, diharapkan dapat menjadi landasan untuk menggali potensi kolaborasi lebih
lanjut dalam riset jalur rempah dan warisan budaya Indonesia,” pungkasnya. (Lus/Ed:
And, ns)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

