- Kolaborasi Telkomsel x Muslim Pro, Bikin Ramadan Makin Khusyuk dalam Satu Genggaman
- Waspada! Polusi Udara Bisa Mengancam Kesehatan Otak di Usia Senja
- Mengapa Garam Bisa Meningkatkan Tekanan Darah? Begini Penjelasannya dan Cara Mengatasinya
- Selama Ramadan, Pengguna LRT Jabodebek Boleh Buka Puasa di Kereta hingga Pukul 19.00 WIB
- Awal Ramadan 1447 H, Memahami Perbedaan dalam Kebersamaan
- Pemerintah Tetapkan Puasa Ramadan Kamis, 19 Februari 2026
- Kemenag Gelar Sidang Isbat, Ikhtiar yang Memadukan Sains dan Syariat Menentukan Awal Ramadan 2026
- Mitos atau Fakta? Rahasia Manfaat Wortel dan Penglihatan Malam
- Jejak Transformasi Hijau Pertamina di Tanjung Sekong
- Pemerintah Atur Skema Pembelajaran Saat Ramadan 2026 Lebih Adaptif dan Humanis
Waspada! Polusi Udara Bisa Mengancam Kesehatan Otak di Usia Senja
Kebijakan udara bersih bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan investasi kesehatan jangka panjang

Keterangan Gambar : Waspada, polusi udara ternyata bisa menggerogoti ingatan
Kita sering mendengar peringatan tentang polusi udara; paru-paru terancam, jantung bekerja lebih keras, risiko stroke meningkat. Namun kini, ada kekhawatiran lain yang tak kalah serius, polusi udara ternyata bisa menggerogoti ingatan.
Sebuah penelitian dari Yanling Deng dari Emory University menelusuri data kesehatan lebih dari 27 juta warga Amerika berusia 65 tahun ke atas. Mereka semua tercatat dalam program Medicare antara tahun 2000 hingga 2018. Para peneliti tidak sekadar melihat siapa yang sakit. Mereka memetakan tempat tinggal para peserta, mengukur paparan jangka panjang dari polusi udara, lalu mencermati siapa yang kemudian didiagnosis Alzheimer. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal ilmiah PLOS Medicine, dan temuan itu cukup mengkhawatirkan.
Baca Lainnya :
- Mengapa Garam Bisa Meningkatkan Tekanan Darah? Begini Penjelasannya dan Cara Mengatasinya0
- Kemenag Gelar Sidang Isbat, Ikhtiar yang Memadukan Sains dan Syariat Menentukan Awal Ramadan 2026 0
- Jejak Transformasi Hijau Pertamina di Tanjung Sekong0
- Viral Kisah Punch, Bayi Kera Kesepian yang Menemukan Ibu dalam Sebuah Boneka0
- Antara Lari dan Seni, Saat Kecepatan Jadi Inspirasi0
Alzheimer dan Ancaman yang Tak Terlihat
Penyakit Alzheimer adalah bentuk demensia paling umum di dunia. Penyakit ini perlahan menghapus memori, mengacaukan orientasi, dan membuat aktivitas sederhana terasa rumit. Secara global, puluhan juta orang hidup dengan kondisi ini dan jumlahnya terus bertambah seiring populasi menua.
Selama ini, para ilmuwan sudah tahu bahwa polusi udara berkaitan dengan tekanan darah tinggi, stroke, bahkan depresi. Semua kondisi tersebut juga merupakan faktor risiko demensia. Maka muncul pertanyaan besar, apakah polusi hanya memicu penyakit lain yang kemudian berdampak pada otak, ataukah langsung merusak otak itu sendiri? Penelitian terbaru ini mengarah pada kemungkinan kedua.
Fokus utama penelitian ini adalah partikel halus di udara yang sering disebut partikel mikroskopis hasil dari kendaraan bermotor, pabrik, dan pembakaran bahan bakar. Ukurannya sangat kecil, bahkan lebih tipis dari sehelai rambut manusia. Orang lanjut usia yang tinggal di daerah dengan kadar partikel halus lebih tinggi tercatat lebih sering terkena Alzheimer. Hubungan ini tetap terlihat bahkan setelah memperhitungkan penyakit lain seperti hipertensi atau depresi.
Menariknya, riwayat stroke tampak sedikit memperkuat dampak polusi terhadap risiko Alzheimer. Namun tekanan darah tinggi dan depresi tidak menunjukkan efek penguat yang sama. Artinya, polusi mungkin bukan sekadar faktor pendorong lewat penyakit lain, melainkan ancaman langsung bagi otak.
Para ahli menduga partikel polusi dapat masuk ke aliran darah, lalu mencapai otak. Di sana, partikel ini bisa memicu peradangan kronis dan merusak sel saraf secara perlahan. Prosesnya sunyi, bertahun-tahun, hingga gejala akhirnya muncul.
Dari Isu Lingkungan ke Isu Memori
Penelitian ini memang belum bisa membuktikan sebab-akibat secara mutlak. Namun menambah bukti kuat bahwa kualitas udara bukan hanya soal pernapasan, tetapi juga soal daya ingat dan kemandirian di usia tua.
Pesannya jelas, kebijakan udara bersih bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan investasi kesehatan jangka panjang. Semakin baik kualitas udara, semakin besar peluang menekan angka demensia di masa depan. Di tingkat individu, langkah kecil tetap berarti. Mengurangi paparan dengan menghindari area lalu lintas padat jika memungkinkan, menggunakan pembersih udara dalam ruangan, serta mendukung kebijakan ramah lingkungan bisa menjadi bagian dari perlindungan diri.
Ingat! Dunia sedang menua. Jumlah lansia meningkat, dan risiko penyakit degeneratif pun ikut naik. Dalam situasi ini, memahami faktor risiko yang bisa dicegah menjadi semakin penting. Jika udara yang kita hirup setiap hari turut memengaruhi kesehatan otak, maka menjaga kualitasnya bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Udara bersih mungkin tak terlihat. Namun dampaknya pada memori, kejernihan berpikir, dan kemandirian, sangat nyata.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

