Jejak Transformasi Hijau Pertamina di Tanjung Sekong
Bukan sekadar sayur, gerakan hidroponik ini mengubah wajah Tanjung Sekong

By Yani Andriyansyah 17 Feb 2026, 11:48:48 WIB Nadi Negeri
Jejak Transformasi Hijau Pertamina di Tanjung Sekong

Keterangan Gambar : Perwira Pertamina didampingi Anggota Kelompok Wanita Tani Wanita Hidroponik Sadar Pangan (KWT Wahid Sapa) memisahkan basket dan mencabut akar daun selada di Area Rumah Hidroponik Binaan Pertamina Energy Terminal Tanjung Sekong. (dok.Pertamina).


Pagi itu, di Kapling Baru 2, Kota Cilegon, Kecamatan Pulau Merak, deretan pipa putih tersusun rapi di dalam sebuah rumah hidroponik. Di atasnya, daun-daun selada dan pakcoy tumbuh segar, hijau mengilap. Di antara rak tanaman itu, suara tawa ibu-ibu terdengar ringan, mereka bukan sekadar bercocok tanam, tetapi sedang menanam harapan.


Di sinilah Kelompok Wanita Tani (KWT) Wahid Sapa bergerak. Awalnya hanya aktivitas sederhana, dikerjakan manual dengan peralatan seadanya. Kini, kebun hidroponik itu menjelma menjadi simbol perubahan, dari coba-coba menjadi usaha bersama yang terkelola, dari ketergantungan energi fosil menuju energi bersih.

Baca Lainnya :


Program ini lahir dari inisiatif CSR PT Pertamina Energy Terminal (PET) melalui Terminal LPG Tanjung Sekong, bertajuk “KreaSea Tumbuh.” Program tersebut menjadi bagian dari pilar Green Terminal, sebuah konsep yang memadukan operasional energi dengan keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan warga sekitar.


Salah satu perubahan paling terasa adalah sumber energi. Rumah hidroponik ini kini ditenagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp. Artinya, aliran listrik yang menghidupkan pompa air dan sistem tanam tak lagi sepenuhnya bergantung pada energi fosil.


Langkah ini bukan sekadar simbolis. Ada dampak nyata, estimasi penurunan emisi karbon mencapai 1,75 ton CO2 ekuivalen per tahun. Di tingkat kampung, angka itu mungkin terdengar teknis. Namun bagi warga, yang mereka rasakan sederhana, listrik tetap menyala, tanaman tumbuh, dan biaya operasional lebih efisien.


Tak berhenti di sana, PET juga membantu menyelesaikan persoalan klasik yang sempat membuat ibu-ibu kewalahan, aliran air yang tak stabil. Kini, dengan pemasangan tangki tekan air dan sistem pelindung pipa berlapis (double wall insulation), distribusi air ke rak tanaman lebih lancar dan minim gangguan lumut. Hasilnya? Panen lebih konsisten. Ketua KWT Wahid Sapa, Ani Sosiawati, masih ingat betul masa awal merintis. “Dulu semuanya manual, belum tertata,” katanya.


Setelah rumah hidroponik berdiri pada September 2024 dan pendampingan rutin diberikan, sistem kerja menjadi lebih rapi. Jadwal tanam jelas, perawatan terukur, dan hasil panen meningkat. Perubahan itu terasa dalam angka. Jika pada 2023 anggotanya hanya sembilan orang, kini sudah berkembang menjadi 30 orang. Bukan hanya ibu rumah tangga, program ini juga melibatkan kelompok Pemuda Berani Inovasi (PBI), keluarga penerima PKH, lansia, hingga pengangguran usia produktif. 


Kebun ini berubah menjadi ruang belajar lintas generasi. Bagi Ani, manfaatnya tak semata soal uang. “Dari yang awalnya tidak paham, sekarang kami bisa berbagi pengetahuan ke keluarga dan teman-teman lain,” ujarnya. 


Ilmu yang dulu terasa rumit, kini menjadi kebanggaan. Setiap panen, keuntungan disisihkan dan rencananya dibagikan menjelang bulan puasa, sebagai bentuk kebersamaan. Tak butuh waktu lama sampai kabar tentang sayuran segar ini menyebar. Mariana, warga Kapling Lama, hampir tak pernah absen setiap panen tiba. “Biasanya setiap panen pasti beli. Bagus-bagus dan awet,” katanya. 


Ia menilai kualitasnya lebih unggul dan harganya lebih ramah dibanding pasar. Permintaan pun meningkat. Harapan Mariana sederhana, produksi makin banyak, panen makin cepat. Sementara Ani dan anggota KWT punya mimpi yang lebih jauh, tak hanya sayuran, tetapi juga budidaya buah ke depan.


Di balik deretan selada yang tertata rapi itu, ada gagasan besar yang sedang diuji, operasional terminal energi bisa berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar. Melalui integrasi teknologi ramah lingkungan seperti PLTS dan pemberdayaan manusia lewat pelatihan serta pendampingan, Terminal LPG Tanjung Sekong menunjukkan bahwa transformasi energi tak selalu hadir dalam bentuk proyek raksasa. Kadang hanya tumbuh pelan, di sudut kampung, lewat tangan-tangan ibu rumah tangga yang telaten merawat tanaman. Dari sinar matahari, air yang mengalir stabil, hingga panen yang dibagikan menjelang Ramadan, semuanya menjadi bagian dari perjalanan menuju Green Terminal Tanjung Sekong.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment