Mentan Ajak HIPMI Dongkrak Pertanian Indonesia Naik Kelas ke Panggung Dunia lewat Hilirisasi
Mengubah komoditas menjadi kekuatan industri, petani menjadi bagian dari rantai nilai global

By Yani Andriyansyah 16 Feb 2026, 10:32:52 WIB Nadi Negeri
Mentan Ajak HIPMI Dongkrak Pertanian Indonesia Naik Kelas ke Panggung Dunia lewat Hilirisasi

Keterangan Gambar : Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak HIPMI mempercepat hilirisasi sektor pertanian. (dok.kementan/m.digi)


Ada semangat berbeda pada acara Sidang Dewan Pleno HIPMI 2026 yang digelar di Four Points by Sheraton Makassar, Minggu (15/2/2026)Bukan sekadar forum organisasi, melainkan panggilan untuk naik kelas. Di hadapan ratusan pengusaha muda yang tergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melontarkan pesan tegas, Indonesia tak boleh lagi puas menjadi penjual bahan mentah.


Acara ini lebih dari sekadar ajang konsolidasi, tetapi berubah menjadi panggung visi besar—bagaimana pertanian bisa menjadi mesin utama Indonesia memainkan peran di ekonomi global. Amran mengawali ceritanya dengan kilas balik setahun terakhir. 

Baca Lainnya :


Saat pertama kali ditugaskan Presiden Prabowo Subianto, target swasembada pangan diminta dipercepat. Dari empat tahun menjadi tiga tahun. Bahkan sempat diarahkan menjadi satu tahun. Dengan penduduk 286 juta jiwa dan ancaman El Nino, target itu terdengar nyaris mustahil. “Kalau satu tahun tanpa dukungan kebijakan penuh, hampir pasti tidak bisa,” ujarnya.


Namun kerja kolektif lintas kementerian dan dukungan dunia usaha membuahkan hasil. Awal Januari 2026, Indonesia diumumkan mencapai swasembada dalam waktu tercepat sepanjang sejarah. Produksi dan stok beras disebut berada di posisi tertinggi sejak kemerdekaan. Sektor pertanian tumbuh 10,52 persen dan menjadi penopang penting PDB nasional.


Tak hanya itu, Indonesia juga mendapat dua penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) atas kontribusinya memperkuat sistem pangan global. Namun bagi Amran, itu baru pemanasan. Babak berikutnya, kata dia, adalah hilirisasi besar-besaran. Pemerintah menyiapkan dukungan hingga Rp371 triliun dalam tiga tahun ke depan. “Hilirisasi bukan pilihan, tapi keharusan,” tegasnya.


Indonesia adalah produsen kelapa terbesar di dunia. Harga kelapa mentah sekitar Rp1.350 per butir. Tapi jika diolah menjadi santan kemasan, air kelapa, atau produk turunan lainnya, nilainya bisa melonjak hingga 100 kali lipat. Dari ekspor Rp24 triliun, potensinya bisa naik menjadi ribuan triliun rupiah.


Hal serupa terjadi pada gambir. Sekitar 80 persen bahan bakunya dikuasai Indonesia, namun justru diolah di luar negeri sebelum kembali dijual ke pasar global. Potensinya disebut bisa menembus Rp5.000 triliun.


Pada komoditas CPO, Indonesia menguasai 60-70 persen pasar dunia. Dengan strategi fleksibelmenyerap saat harga rendah untuk biofuel dalam negeri dan mengekspor saat harga tingginilai tambahnya dinilai bisa berkali-kali lipat. "Kalau tiga komoditas saja kita hilirisasi serius—kelapa, gambir, dan CPO—itu setara tujuh tahun APBN," katanya. 


Pesannya jelas, Indonesia terlalu lama puas menjual bahan mentah dan membiarkan negara lain menikmati nilai tambahnya. Di sinilah peran HIPMI menjadi krusial. Amran menegaskan, masa depan ekonomi Indonesia lima hingga lima belas tahun ke depan sangat ditentukan oleh keberanian generasi pengusaha muda. “Perputaran ekonomi republik ini ada di pengusaha,” katanya.


Ia mengingatkan, tak akan ada lompatan besar jika cara kerja masih biasa-biasa saja. Mengutip Albert Einstein, ia menyinggung kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan berharap hasil berbeda.


Pesan itu bukan sekadar retorika. Kementerian Pertanian membuka peluang konkret, program cetak sawah baru, pengembangan kakao hampir satu juta hektare dengan dukungan Rp10 triliun, hingga pembangunan pabrik kelapa senilai Rp1,5 triliun per unit lewat skema kolaborasi pembiayaan.


Amran bahkan menggunakan analogi yang membumi. Jangan lagi maju dua langkah, mundur dua langkah, seperti poco-poco. Indonesia, katanya, harus keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap). Caranya? Keberanian kebijakan, konsistensi hilirisasi, dan kemauan berubah.


Swasembada pangan mungkin sudah dicapai, tetapi pertarungan sebenarnya baru dimulai, mengubah komoditas menjadi kekuatan industri, dan petani menjadi bagian dari rantai nilai global.Pertanyaannya tinggal satu, apakah generasi pengusaha muda siap mengambil panggung itu?




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment