- Pemerintah Atur Skema Pembelajaran Saat Ramadan 2026 Lebih Adaptif dan Humanis
- Viral Kisah Punch, Bayi Kera Kesepian yang Menemukan Ibu dalam Sebuah Boneka
- Antara Lari dan Seni, Saat Kecepatan Jadi Inspirasi
- Mentan Ajak HIPMI Dongkrak Pertanian Indonesia Naik Kelas ke Panggung Dunia lewat Hilirisasi
- Di Rakortas Alih Fungsi Lahan, Mentan Serukan Jaga Sawah dan Perjuangkan Petani Desa Hutan
- Pertamina Group Boyong 35 Trofi PRIA 2026, Bukti Transparansi Komunikasi ke Publik
- Dari Dapur ke Langit, Ketika Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Masa Depan
- Baterai Kalsium Siap Menantang Litium, Jadi Alternatif Energi Terbarukan Masa Depan
- Majelis Dikdasmen PC Muhammadiyah Tawangsari Adakan Penguatan Ideologi
- Bikin Takjub, Ilmuwan Ciptakan Cairan yang Bisa Menyimpan Tenaga Matahari
Antara Lari dan Seni, Saat Kecepatan Jadi Inspirasi
Saat ini lari menjadi gaya hidup yang digemari hampir semua kalangan

Dulu, orang berlari untuk sehat. Sekarang, berlari juga soal gaya hidup, komunitas, bahkan ekspresi diri. Di tengah tren itu, Adizero EVO SL melihat satu hal menarik, lari tak lagi sekadar olahraga. Ia menjelma jadi budaya.
Fenomena inilah yang dirayakan lewat pameran foto bertajuk “The Art of Fast”, kolaborasi adidas Indonesia bersama dua fotografer gaya hidup, Alif Ghifari dan Bill Satya. Selama dua hari, 14–15 Februari 2025, ruang kreatif Melting Pop di kawasan M Bloc Space berubah menjadi panggung tempat olahraga dan seni saling menyapa.
Baca Lainnya :
- Pikir Dulu Sebelum Mengirim Pertanyaan ke AI, Data Pribadi Anda Bisa Terungkap0
- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen0
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat0
- Whoosh Resmi Go Global, Kini Bisa Dipesan Dunia Lewat Trip.com0
- 5 Cara Biar Remaja Tetap Aman di Internet, Tanpa Drama dan Jadi Polisi Gadget0
Bagi Alif Ghifari, lari bukan sekadar gerak cepat menuju garis finis. Ia memilih Atjong Tio Purwanto—pemegang rekor nasional 3.000 meter steeplechase—sebagai muse. Lokasinya di Pengalengan, tempat pelatihan atlet, dengan udara dingin dan kontur alam yang menantang.

Hasilnya bukan foto kemenangan penuh selebrasi. Justru sebaliknya. Kamera Alif menangkap napas yang memburu, wajah tegang, dan keringat yang menetes. Ada sisi rapuh yang jarang terlihat. Lari tampil sebagai proses panjang yang manusiawi—bukan sekadar angka di stopwatch.
Berbeda dengan pendekatan personal Alif, Bill Satya membawa lari ke ruang kota. Ia mengikuti gerak komunitas adidas Runners Jakarta yang membelah jalanan ibu kota. Lewat lensanya, lari terlihat hidup di antara klakson kendaraan, lampu lalu lintas, dan gedung-gedung tinggi.
Detail kecil yang sering terlewat—langkah kaki yang sinkron, tatapan orang di trotoar, cahaya kota yang memantul di aspal—menjadi elemen visual yang kuat. Lari bukan lagi aktivitas individu, melainkan gerakan kolektif yang menyatu dengan denyut urban.

“The Art of Fast” tak berhenti di dinding galeri. Ada community run bareng berbagai komunitas seperti Degen, OA Running, USS Running, Full Send, Minutes of Miles, hingga Sweat & Smile Running Club. Ada juga sesi kustomisasi sepatu Adizero EVO SL bersama ilustrator Muklay, hingga free running photo session yang bikin peserta bisa punya potret estetik versi dirinya sendiri. Diskusi pun jadi bagian penting. Dalam talkshow “To be Fast: in Mindset and in Lifestyle Change”, dr. Maria B.Med.Sc., P.G.Dip.SEM, Sp.K.O dan Igor Saykoji membahas bagaimana cepat bukan cuma soal fisik, tapi juga pola pikir.
Sementara talkshow “Marathon for Women” menghadirkan Melanie Putria, Namira Adjani, dan Sarah Usman, mengangkat cerita perempuan di dunia maraton yang kian berani menantang batas. Acara ini juga diramaikan para brand ambassador seperti Tarra Budiman, Andrea Dian, dan Regina Poetiray, serta atlet seperti Mila Karmila dan Ardhi Wirayuda.
Yang menarik, tren lari hari ini melampaui batas usia dan latar belakang. Dari atlet profesional hingga pekerja kantoran, dari pelari subuh hingga night runners, semua menemukan alasan masing-masing untuk berlari.
Sepatu mungkin menjadi awal cerita. Tapi yang membuatnya bertahan adalah rasa kebersamaan, pencarian makna, dan dorongan untuk terus bergerak—secara fisik maupun mental. Di “The Art of Fast”, kecepatan bukan hanya soal siapa paling dulu sampai. Tetapi tentang proses, keberanian, dan ekspresi diri. Di situlah lari berubah menjadi seni.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

