- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
- Presiden Prabowo: Ketahanan Pangan Jadi Urusan Keamanan Negara
- Polri Akan Membangun 10 Gudang Ketahanan Pangan Baru di 2026
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat
- Diversifikasi Jadi Kunci Masa Depan Pertanian
- Cara Anak Muda Mengelola Keuangan di 2026, Gaya Hidup Jalan Uang Tetap Aman
- Whoosh Resmi Go Global, Kini Bisa Dipesan Dunia Lewat Trip.com
- 5 Cara Biar Remaja Tetap Aman di Internet, Tanpa Drama dan Jadi Polisi Gadget
In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
Pameran ini menyajikan kegelisahan para seniman tentang krisis ekologis

Keterangan Gambar : Pameran YIRI ARTS bertajuk In Situ/In Vitro menjadi ruang bagi pengunjung untuk memikirkan kembali hubungan manusia dengan alam
Di sebuah sudut Jakarta yang riuh oleh lalu lintas dan gedung-gedung pencakar langit, YIRI ARTS menghadirkan sebuah ruang hening. Ruang untuk memikirkan kembali hubungan manusia dengan alam. Bertajuk In Situ/In Vitro, pameran duo ini mempertemukan dua perupa dari latar berbeda, Tsai Pou-Ching dan Rega Ayundya, dalam sebuah percakapan yang tidak selalu sejalan, tetapi terasa penting.
Sebagai pameran duo pertama YIRI ARTS di Jakarta setelah sebelumnya menggelar pameran grup, proyek ini menandai kelanjutan komitmen galeri dalam membangun jembatan budaya antara Taiwan dan Indonesia. Namun yang dipertukarkan bukan sekadar karya atau nama, tetapi cara pandang, jarak, dan kepekaan dalam membaca krisis ekologis yang sama—hilangnya spesies, perubahan lingkungan, dan bayang-bayang antroposen, masa ketika aktivitas manusia menjadi kekuatan dominan yang membentuk bumi—dengan cara yang nyaris berseberangan. Ada dampak signifikan aktivitas manusia terhadap ekosistem dan sistem bumi.
Baca Lainnya :
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat0
- Whoosh Resmi Go Global, Kini Bisa Dipesan Dunia Lewat Trip.com0
- 5 Cara Biar Remaja Tetap Aman di Internet, Tanpa Drama dan Jadi Polisi Gadget0
- 6 Cara Menjaga Kesehatan Jantung, Organ yang Menentukan Hidup Kita0
- Secangkir Kopi di Pagi Hari, Sahabat Jantung atau Ancaman Tersembunyi?0
“Bagaimana kedua seniman ingin membagi kecemasannya kepada publik. Bahwa apa yang kita konsumsi saat ini atau kita produksi saat ini sebagai manusia itu sangat berpengaruh terhadap ekosistem yang lain,” ujar Ari Nugraha, Program and Project Development sekaligus kurator dan penulis kuratorial YIRI ARTS saat ditemui porosbumi.com, di pameran Sabtu (14/2).
Begitu memasuki ruang pamer, pengunjung seakan berdiri di antara dua pendekatan yang berbeda suhu, melintasi dua dunia yang berbeda—namun berbicara tentang kegelisahan yang sama. Di satu sisi, ada hutan pegunungan Taiwan yang sunyi, tempat seekor burung kecil, Russet Sparrow bertahan hidup di tengah fragmentasi habitat. Di sisi lain, ada meja eksperimental dengan cawan petri, plastisin, dan animasi yang terasa seperti laboratorium masa depan—atau mungkin ruang bermain seorang anak yang sedang membayangkan ulang dunia.

Dengan kata lain, di satu sisi ada praktik yang tumbuh dari keterlibatan langsung dengan habitat—mengamati, menyentuh, menyatu dengan lingkungan. Di sisi lain, ada praktik yang berangkat dari spekulasi—ruang imajinatif yang merekonstruksi dunia dalam skala yang lebih terkendali, bahkan kadang terasa seperti eksperimen yang menyenangkan.
Namun In Situ/In Vitro tidak berupaya mendamaikan perbedaan itu. Pameran ini justru merawat ketegangannya. Istilah in situ dan in vitro di sini tidak dimaknai sebagai dua kutub yang saling meniadakan. Sebaliknya, keduanya dibaca sebagai bagian dari satu kontinum—sebuah spektrum cara kerja artistik. Dari interaksi paling dasar dengan habitat nyata hingga penciptaan ruang-ruang imajinatif yang dibangun ulang, dari kedekatan fisik hingga jarak reflektif.
Tsai Pou-Ching dan Rega Ayundya berdiri di posisi yang berbeda dalam spektrum itu. Posisi mereka dibentuk oleh konteks geografis, pengalaman personal, dan sensibilitas masing-masing terhadap krisis ekologi. Namun keduanya sama-sama memandang seni sebagai sistem—bukan sekadar objek visual, melainkan cara berpikir dan beroperasi di tengah dunia yang sedang berubah.
Di tengah wacana lingkungan yang kerap penuh nada darurat dan tuntutan solusi cepat, pameran ini mengambil jalur lain. Tidak menawarkan jawaban tunggal atau pesan moral yang tegas. Yang ditawarkan adalah ruang untuk membaca ulang, bagaimana seni bekerja ketika spesies menghilang, ketika lanskap berubah, ketika manusia menyadari dirinya bukan lagi pengamat netral, melainkan bagian dari sistem yang rapuh.
Dengan membingkai praktik artistik sebagai gerak dari in situ ke in vitro, YIRI ARTS mengajak publik Jakarta menyaksikan bahwa keterlibatan ekologis dapat hadir dalam berbagai bentuk—baik melalui sentuhan langsung pada habitat maupun melalui eksperimen spekulatif yang membayangkan ulang relasi kita dengan alam.
Di antara kedekatan dan jarak itu, In Situ/In Vitro menjadi lebih dari sekadar pameran duo. Ini menjadi sebuah pengingat bahwa dalam menghadapi krisis ekologis, mungkin yang kita butuhkan bukan hanya solusi, tetapi juga cara-cara baru untuk melihat, merasakan, dan memikirkan kembali posisi kita di dalam sistem kehidupan yang saling terhubung.
Dari Hutan yang Nyata

Tsai Pou-Ching bekerja dengan kedekatan yang hampir intim terhadap alam. Melalui proyek Song of the Russet Sparrow, ia melakukan riset lapangan jangka panjang, mengikuti jejak spesies endemik Taiwan yang kini berada di bawah perlindungan tertinggi. Ia mengamati perubahan habitat, mencatat dampak bencana alam, dan menyaksikan bagaimana pembangunan manusia perlahan menggeser keseimbangan ekosistem pegunungan.
“Dia (Pou-Ching) melakukan riset sejak 2022 mengenai satu spesies burung pipit di Taiwan. Burung pipit ini ternyata statusnya sangat tinggi dan populasinya semakin berkurang. Kalau tidak salah hanya tersisa 2 ribu yang tersebar di Taiwan. Itu menjadi konsep utama dalam proses pembuatan karya PouChing,” papar Ari.
Karya-karyanya berupa wadah keramik yang mungkin tampak sederhana di galeri. Namun benda-benda itu bukan sekadar objek pajangan. Pou-Ching merancangnya untuk dikembalikan ke hutan, menjadi bagian dari habitat, memungkinkan interaksi langsung dengan burung yang menjadi pusat perhatiannya. Di titik ini, seni tak lagi berhenti pada representasi. Tetapi menjadi sistem—sebuah mekanisme yang terus bekerja bahkan ketika lampu galeri dipadamkan.
“Dalam karyanya, Pou-Ching membuat sangkar burung dari tanah liat di mana proses pembuatannya adalah hasil dari material-material yang dia temukan di habitat aslinya. Nantinya, karya-karyanya ini akan ditempatkan di habitat aslinya,” jelas Ari.
Inilah pendekatan in situ Pou-Ching, seni yang tumbuh dari keterlibatan langsung dengan lingkungan konkret. Bukan metafora, melainkan relasi nyata. Bukan sekadar simbol, tetapi negosiasi. Pou-Ching menempatkan praktik artistiknya di antara penelitian ilmiah, ekologi, dan kehidupan sehari-hari spesies lain. Ia seolah bertanya, dapatkah seni menjadi bentuk koeksistensi?
Dari Ruang Eksperimen Imajinasi

Jika Pou-Ching berangkat dari hutan, Rega Ayundya memulai dari kegelisahan personal. Dalam proyek Mirageologi, ia tidak berbicara dengan nada kampanye atau peringatan ilmiah. Ia justru bergerak lewat spekulasi, intuisi, dan rasa ingin tahu yang nyaris “kekanak-kanakan”.
Cawan petri, plastisin, dan animasi menjadi perangkat visualnya. Bahasa ilmiah dihadirkan, tetapi tak pernah sepenuhnya serius. Ada unsur permainan di sana—ruang di mana eksperimen dan fantasi saling menyusup. Dalam dunia Rega, batas antara fiksi dan kenyataan sengaja dibiarkan kabur.
Dalam karyanya, Rega menampilkan bentuk sekuens dari moving image. Bagaimana satu gambar ketika disatukan akan menjadi satu video animasi. Rega menampilkan goresan deretan burung rangkong di atas material bubble wrap, dibungkus dengan akrilik.
Nantinya, dari setiap rangka atau bingkai gambar itu mengalami proses perubahan. Hingga akhirnya burung rangkong yang identik memiliki tanduk, itu akan hilang. Di sini Rega mencoba berspekulasi dan berimajinasi.
“Burung rangkong itu statusnya sangat dilindungi. Karena populasinya kurang dari 10 ribu. Tapi illegal logging masih terjadi. Itulah kekhawatiran atau kecemasan Rega terhadap rangkong. Mungkin saja pada akhirnya rangkong akan lahir atau tumbuh tanpa tanduk dan hilang,” papar Ari.

Rega juga menampilkan karya mengenai proses perubahan ikan menjadi katak. Ia mengambil satu spesies ikan endemik di sungai Citarum yang kini sudah lindap akibat pencemaran. “Jika ikan tidak bisa hidup di air, kenapa tidak bisa berevolusi dan hidup di darat. Rega berimajinasi dari sana dan membuat proses perubahan bagaimana ikan sangat mungkin berubah menjadi katak,” papar Ari.
Inilah bentuk kecemasan Rega terhadap perbuatan kita sebagai manusia yang mungkin kadang lupa atau tidak terkontrol, yang mengakibatkan proses kerusakan atau efek yang lain terhadap ekosistem.
Inilah pendekatan in vitro yang ditampilkan Rega, praktik yang bekerja dalam ruang terkontrol, memungkinkan jarak, rekonstruksi, dan percobaan spekulatif. Bukan karena menjauh dari realitas, tetapi karena membutuhkan ruang untuk membayangkan ulang relasi manusia dengan organisme lain.
Alih-alih menawarkan solusi atau posisi moral, Rega membuka ruang refleksi. Karyanya seperti cermin yang tidak menghakimi. Ia mengajak pengunjung merenung, bagaimana tindakan kecil kita—konsumsi, kebiasaan, pilihan sehari-hari—beresonansi dalam sistem kehidupan yang lebih luas.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

