- In Situ/In Vitro, Percakapan Ekologis Dua Seniman dalam Bayang-bayang Antroposen
- Konsep Indonesia Naik Kelas, Kunci Tekan Kemiskinan di Bawah 5%
- Beyond Energy: Langkah Baru Pertamina Pimpin Transisi Energi Hijau
- Presiden Prabowo: Ketahanan Pangan Jadi Urusan Keamanan Negara
- Polri Akan Membangun 10 Gudang Ketahanan Pangan Baru di 2026
- Berhenti Makan 3 Jam Sebelum Tidur Agar Jantung Lebih Sehat
- Diversifikasi Jadi Kunci Masa Depan Pertanian
- Cara Anak Muda Mengelola Keuangan di 2026, Gaya Hidup Jalan Uang Tetap Aman
- Whoosh Resmi Go Global, Kini Bisa Dipesan Dunia Lewat Trip.com
- 5 Cara Biar Remaja Tetap Aman di Internet, Tanpa Drama dan Jadi Polisi Gadget
Diversifikasi Jadi Kunci Masa Depan Pertanian
Ladang yang beragam adalah ladang yang tangguh

Keterangan Gambar : Masa depan pertanian tidak lagi berada pada keseragaman, melainkan pada keberagaman yang terencana dan berkelanjutan
Bayangkan hamparan ladang yang hanya ditanami satu jenis tanaman, sejauh mata memandang. Praktis, mudah diatur, dan terlihat efisien. Namun di balik keseragaman itu, ada risiko besar, tanah cepat lelah, hama mudah menyerang, dan petani rentan saat harga jatuh.
Sebuah penelitian global berskala besar mengirimkan pesan yang tegas, pertanian yang beragam (diversifikasi) bukan sekadar pilihan alternatif, melainkan kebutuhan untuk masa depan. Studi yang dipimpin tim Universitas Kopenhagen dan Universitas Hohenheim ini melibatkan 58 peneliti dari lima benua.
Baca Lainnya :
- Saat Tanah Menjerit, Siapa yang Mendengar?0
- Secangkir Kopi di Pagi Hari, Sahabat Jantung atau Ancaman Tersembunyi?0
- Ingat! Sejumput Garam Bisa Menentukan Hidup dan Mati0
- Ketika Lapar Tak Hanya Soal Perut, Krisis Sunyi di Balik Ketidakamanan Pangan0
- BRIN Pimpin Penelitian Internasional Pemuliaan Pisang Liar untuk Perkuat Ketahanan Pangan0
Mereka menganalisis data dari 24 proyek penelitian berbeda, mencakup 2.655 peternakan di berbagai belahan dunia. Hasilnya dipublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi Science. Kesimpulannya jelas, semakin beragam praktik pertanian yang diterapkan, semakin besar manfaat yang dirasakan—baik bagi lingkungan, ketahanan pangan, maupun kesejahteraan petani.
Beragam, Lebih Banyak Cuan
Diversifikasi di sini bukan sekadar menanam dua jenis tanaman sekaligus. Praktiknya bisa berupa menanam pohon di lahan pertanian, mengombinasikan tanaman dan ternak, hingga menerapkan konservasi tanah. Peneliti menemukan bahwa strategi seperti diversifikasi ternak dan konservasi tanah memberikan dampak paling kuat, terutama terhadap keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan. Artinya, ladang tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi berbagai organisme yang menjaga ekosistem tetap seimbang.
Menariknya, anggapan bahwa pertanian beragam akan menurunkan hasil panen ternyata tidak terbukti. Tidak ada penurunan hasil yang signifikan. Bahkan dalam banyak kasus, ketahanan pangan justru meningkat—terutama pada pertanian skala kecil dan di wilayah dengan lahan luas.
Di Malawi misalnya, petani menanam pohon buah di sela-sela ladang jagung. Hasilnya bukan hanya tambahan pendapatan dari buah yang dijual, tetapi juga pola makan keluarga yang lebih beragam dan bergizi. Model seperti ini menunjukkan efek “menang-menang”, pendapatan meningkat, gizi membaik, dan lahan tetap produktif dalam jangka panjang.
Menariknya, efek positif diversifikasi terlihat di berbagai tipe lanskap—dari wilayah pertanian intensif hingga kawasan yang masih relatif alami. Artinya, pendekatan ini tidak eksklusif untuk satu negara atau satu sistem pertanian tertentu.
Memang ada catatan kecil. Beberapa praktik, seperti menanam pohon di lahan pertanian, membutuhkan tambahan tenaga kerja pada tahap awal. Namun dampak ini bersifat sementara. Dalam jangka panjang, manfaat ekonomi dan ekologisnya jauh lebih besar. Dengan kata lain, kerja ekstra di awal bisa menjadi investasi untuk masa depan yang lebih stabil.
Temuan ini membawa implikasi besar bagi pembuat kebijakan dan pelaku bisnis. Jika diversifikasi terbukti menguntungkan petani sekaligus menjaga kesehatan planet, maka sudah waktunya ada insentif yang mendorong praktik ini. Pertanian tidak lagi dipandang sekadar soal produksi sebanyak-banyaknya, tetapi juga tentang menjaga tanah, air, dan keanekaragaman hayati agar tetap lestari.
Di tengah ancaman krisis pangan dan perubahan iklim, pesan penelitian ini sangat relevan, ladang yang beragam adalah ladang yang tangguh. Masa depan pertanian tampaknya tidak lagi berada pada keseragaman, melainkan pada keberagaman yang terencana dan berkelanjutan.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

