- BP Taskin dan Kemenkop Merajut Jalan Permanen Pengentasan Kemiskinan lewat Koperasi Merah Putih
- Gentengisasi: Strategi Apik Prabowo Menumbuhkan Industri Rakyat dari Desa
- Tinjauan Lingkungan Hidup WALHI 2026: Membayar Mahal Ambisi Pertumbuhan
- Prabowo Optimistis Tiga Tahun Indonesia Swasembada Semua Komoditas Pangan Strategis
- 7 Alasan Nomor Anda Sering Terblokir Saat Broadcast WhatsApp
- Pelopor Bank Pedesaan Muhammad Yunus, dari Kegelisahan Menerobos Kuldesak
- Cerita Seekor Semut Berusia 40 Juta Tahun Yang Tersembunyi Dalam Amber Goethe
- Masih Berpikir Air Kemasan Lebih Bersih Dibanding Air Keran Yang Diolah?
- Ampas Kopi Ternyata Bisa Menghilangkan Logam Beracun Dari Air Yang Terkontaminasi
- Senyawa Lidah Buaya Dapat Membantu Mengobati Penyakit Alzheimer
Pelopor Bank Pedesaan Muhammad Yunus, dari Kegelisahan Menerobos Kuldesak

M. Ghaniey Al Rasyid
Pengliping dan Penikmat Sastra, Tinggal di Surakarta
Baca Lainnya :
- Cafe Jamu Indonesia, Dari Warisan Leluhur ke Masa Depan Kesehatan Global0
- Kisah Hubungan Ratu Inggris Victoria dengan Pemuda Muslim India yang Sempat Dikubur Seabad0
- Seung Tae dan Yayasan Dupamade Asa Raya Salurkan Bantuan di Aceh Tamiang0
- Climb On Student Open Bouldering 20261
- Sinema Inklusif Nusantara Membuka Jalan untuk Difabel Berkarya di Industri Film 0
SELEPAS kuliah, pada 1974 Univeristas
Chittagong di fakultas ekonomi membisu sendu. Ruang-ruang berkuliahan tak lagi
mengasyikan. Buku-buku tergeletak mengelupas, para mahasiswa menopang dagu,
sambil melamun, apakah angka-angka dan perdebatan di ruang kelas dapat
mengatasi kuldesak masalah ekonomi bernama kemiskinan.
Di samping itu, seorang dekan menggosok-gosok keningnya. Ia
bergumam memandangi rumus dan kamus ekonomi yang hanya dapat dibaca kalangannya
sendiri. Padahal ilmu itu seharusnya dapat menuntaskan kuldesak. Bangladesh
waktu itu yang dililit kemiskinan ekstrim.
Tergeletak di halaman rumah, manusia yang dagingnya
mengering. Tak berbeda mana yang balita dan lansia. Para pengemis memegangi
perutnya, memaksa kecamuk lapar yang mengutuk. Bocah-bocah meringkuk layu,
sambil memainkan batu-batu yang diimajinasikan sebagai makanan.
Seorang ekonom Bangladesh, namanya Muhammad Yunus. Pria yang
menggeluti dunia ekonomi, itu memaksa diri untuk menghantam kegelisahannya.
Sambil menenteng buku, menyelipkan pena di sakunya, Yunus berjalan di gang-gang
Bangladesh, kebun-kebun yang kering kerontang dan ruang-ruang yang lekat dengan
keputusasaan.
Pengamatannya itu mengajaknya menggandeng, rekan-rekan di
Fakultasnya. Sebuah asa munucul. Penyediaan modal untuk golongan melarat. Ide
besar itu mulanya membikin kikuk. Bagaimana bisa mereka yang melarat,
mendapatkan modal. Apa jaminannya?
Agaknya seperti itu adanya, di diktat-diktat perekonomian,
khususnya menyoal perbankan ataupun akuntanasi. Bank, modal dan semerbak pasar
hanya dapat dicicip oleh mereka yang sudah beruntung wangkus dan sangkil dalam
urusan permodalan.
Mereka yang kurang beruntung, misalnya pengemis,
gelandangan, tunawisma ataupun tunakisma, penyedia modal akan melapisi dirinya
dengan ratusan pertanyaan hingga (ujungya) adalah agunan bagi mereka yang ingin
hengkang dari lumpur kemelaratan. Kalau tidak demikian, akan ada mekanisme yang
amat rumit, sehingga asa untuk hengkang dari lumpur kemelaratan itu pupus.
“Yang melarat nambah melarat, yang kaya semakin kaya.” Yunus
bergeming sambil mencatat setiap gumamannya. Bergumpal-gumpal teori yang
tersirat di dalam diktat perekonomian, ia kesampingkan setitik. Selebihnya, ia
tujukan kepada mereka yang melarat.
Adalah Grameen Bank. Sebuah bank yang dipelopori oleh
Muhammad Yunus, sempat membikin dunia persilatan ekonomi dunia terperanjat.
Ditilik dari namanya Grameen yang berarti adalah pedesaan. Bank Pedesaan,
kurang lebih demikian.
Dari rakyat oleh rakyat, bantu yang melarat. Muhammad Yunus
mencatat dengan tekad. Sebuah buku membeberkan tekad itu, dalam Bank Kaum Miskin gubahan Muhammad Yunus
oleh Penerbit Marjin Kiri, 2007. Buku itu beraroma memorabilia. Di tiap
halamannya menceritakan Yunus bersama mahasiswa untuk turun ke lapangan,
mengaplikasikan diskusi bertema ekonomi dan kemelaratan selepas mengajar, di
kantor Yunus.
Diketahui, Muhammad Yunus adalah Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Chittagong pada 1972. Dua tahun setelah Yunus menjabat, tepatnya
1974 kemiskinan kronis menghantam Bangladesh. Diksi kemiskinan mafhum menguar
di ruang-ruang kelasnya.
Bersama hati yang terketuk, Yunus mengajak mahasiswanya
untuk melakukan praktik dan mencatat beberapa kendala saat berada di lapangan.
Langkahnya tidaklah mudah. Saat ia berbincang dengan, ‘mohon maaf’ gelandang,
dan pekerja serabutan, mereka memicingkan mata mengacuhkan tekad Yunus.
Mafhum, sebut saja Suyifa Begum seorang pedagang keliling
berusia dua puluh satu tahun. Ia berjalan menembus debu dan terik matari yang
membakar kulitnya sambil menenteng purdah
(baca: tirai). Sufiya tak memiliki alat produksi dan modal. Ia mendapatkannya
dari seorang perantara.
Tiap barang yang terjual, Sufiya harus menyisihkan uangnya
untuk diberikan kepada perantara itu. Sufiya hanya menerima ‘recehan’ dengan
nominal dua sen perhari. Itu pun tak cukup untuk membayar hidup. Agar tetap
hidup, ia harus menggali lubang, kemudian menambalnya dengan bunga yang amat
besar, bersama perut yang melilit lapar.
Sufiya Begum dan puluhan rakyat Bangladesh lainnya, tercatat
rapi oleh mahasiswa Yunus. Yunus geram, marah mungkin menyebut istighfar. “Di ruang kuliah saya berteori mengenai
jumlah miliaran dolar, tapi di sini, di hadapan mata saya, masalah hidup-mati
ditentukan oleh sejumlah recehan. Ini tidak benar…. Saya marah kepada diri saya
sendiri dan Fakultas Ekonomi saya dan ribuan profesor pintar yang tidak pernah
mencoba membahas permasalahan ini,” (hlm. 46).
Kementerangan ilmu ekonomi dan tetek bengeknya kalut di
antara mekanisme perekonomian yang memberatkan rakyat Bangladesh. Melalui
catatan Yunus, kreditur yang tersebar waktu itu, mekanisme bukan berorientas
kepada pelaku ekonomi, akan tetapi kepada keuntungan yang membuncah.
Pinjaman dengan bunga tinggi direngguhnya. Memang, sebelum
Grameen berdiri tak ada cara lain. Mereka harus menandatangani kesepakatan.
Bayangkan, saat Bangladesh dihantam kelaparan, ada sebuah mekanisme kreditur
yang turut mengiksis usus dua belas jari.
Gabah jadi pinjaman. Satu maund gabah senilai 37 kilogram akan dipinjamkan mereka yang
membutuhkan. Selanjutnya peminjam harus mengembalikannya dua maund saat masa panen mendatang. Tak
hanya itu ada banyak lagi yang dirasa Yunus perlu dirombak, khususnya sikap
acuh bank untuk meminjamkan dana kepada mereka yang memiliki asa untuk lebih
baik, meskipun dalam situasi kantong bolong.
Kurang lebih sewindu Yunus dan kawan-kawan berjuang.
Menyisir gang-gang pusat perekonomian, permukiman kumuh dan ruang-ruang penuh
keputusasaaan. Sejak 1974 hingga 1983. Alhasil pada tahun 1983 Grameen resmi
berdiri, disambut penuh suka dan cita.
Mereka yang kurang beruntung dapat mendapatkan pinjaman
untuk melangsungkan praktik perekonomian. Melalui kepercayaan dan disiplin
sepenuhnya untuk memajukan ekonomi mereka yang melarat, Grameen ada mengangkat
mereka dari kubangan kelaparan dan kemelaratan. Dalam majalah Basis Edisi Nomor
03-04, Tahun ke-58 April 2009 sebuah kisah mengenai Grameen terbesit. Di situ
tersirat pula pidato Muhammad Yunus.
Grameen punya pendekatan yang agaknya berbeda dengan
bank-bank konvensional lainnya. Agunan, pinjam, dan bayar. Bila gagal bayar
sama dengan disita. Tidak, tidak seperti itu. Pada sela-sela pemberian modal,
hingga keberlanjutannya, mereka turut pula menanamkan kesadaran bagaimana
ekonomi bekerja, bukan sekadar transaksionil.
Mereka turut mendorong, meskipun ada pula kasus gagal bayar
dari nasabah. Grameen membikin mekanisme kelompok. Dari kelompok yang terdiri
beberapa orang, diberikan tanggung jawab atas modal yang telah diberikan.
Mereka tetap harus mengangsur dengan cicilan yang disepakati sekecil mungkin.
Bagi mereka yang mengolah uang pinjaman untuk usaha, maka
pihak Grameen akan memberikannya insentif. Bagi yang belum dapat mengembalikan,
akan diberikan sanksi, namun bukan dengan menyandra ‘jaminan’, akan tetapi
diberikan waktu untuk menyelesaikan masalah kelompok itu. Alkisah, berkat ide
keresahannya inilah, Yunus mendapatkan Nobel untuk Perdamaian pada tahun 2006. Yang
menjadi luar biasa, tingkat pengembalian Grameen Bank sempat menyentuh 98
persen.
Yunus menyulut, kemiskinan terjadi bukan karena mereka malas, akan tetapi tidak adanya ruang penjembatan bernama modal dan kepercayaan. Lebih dari itu, Yunus memberi tahu, bahwa perbankan bukan hanya angka laba dan rugi, di sana turut pula terbesit sebuah rasa untuk tetap tekun dan tabah menggandeng dan mendidik mereka yang membutuhkan. Sekian.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

