Pelopor Bank Pedesaan Muhammad Yunus, dari Kegelisahan Menerobos Kuldesak

By PorosBumi 10 Feb 2026, 09:46:50 WIB Tilikan
Pelopor Bank Pedesaan Muhammad Yunus, dari Kegelisahan Menerobos Kuldesak

M. Ghaniey Al Rasyid

Pengliping dan Penikmat Sastra, Tinggal di Surakarta

 

Baca Lainnya :

SELEPAS kuliah, pada 1974 Univeristas Chittagong di fakultas ekonomi membisu sendu. Ruang-ruang berkuliahan tak lagi mengasyikan. Buku-buku tergeletak mengelupas, para mahasiswa menopang dagu, sambil melamun, apakah angka-angka dan perdebatan di ruang kelas dapat mengatasi kuldesak masalah ekonomi bernama kemiskinan.

Di samping itu, seorang dekan menggosok-gosok keningnya. Ia bergumam memandangi rumus dan kamus ekonomi yang hanya dapat dibaca kalangannya sendiri. Padahal ilmu itu seharusnya dapat menuntaskan kuldesak. Bangladesh waktu itu yang dililit kemiskinan ekstrim.

Tergeletak di halaman rumah, manusia yang dagingnya mengering. Tak berbeda mana yang balita dan lansia. Para pengemis memegangi perutnya, memaksa kecamuk lapar yang mengutuk. Bocah-bocah meringkuk layu, sambil memainkan batu-batu yang diimajinasikan sebagai makanan.

Seorang ekonom Bangladesh, namanya Muhammad Yunus. Pria yang menggeluti dunia ekonomi, itu memaksa diri untuk menghantam kegelisahannya. Sambil menenteng buku, menyelipkan pena di sakunya, Yunus berjalan di gang-gang Bangladesh, kebun-kebun yang kering kerontang dan ruang-ruang yang lekat dengan keputusasaan.

Pengamatannya itu mengajaknya menggandeng, rekan-rekan di Fakultasnya. Sebuah asa munucul. Penyediaan modal untuk golongan melarat. Ide besar itu mulanya membikin kikuk. Bagaimana bisa mereka yang melarat, mendapatkan modal. Apa jaminannya?

Agaknya seperti itu adanya, di diktat-diktat perekonomian, khususnya menyoal perbankan ataupun akuntanasi. Bank, modal dan semerbak pasar hanya dapat dicicip oleh mereka yang sudah beruntung wangkus dan sangkil dalam urusan permodalan.

Mereka yang kurang beruntung, misalnya pengemis, gelandangan, tunawisma ataupun tunakisma, penyedia modal akan melapisi dirinya dengan ratusan pertanyaan hingga (ujungya) adalah agunan bagi mereka yang ingin hengkang dari lumpur kemelaratan. Kalau tidak demikian, akan ada mekanisme yang amat rumit, sehingga asa untuk hengkang dari lumpur kemelaratan itu pupus.

“Yang melarat nambah melarat, yang kaya semakin kaya.” Yunus bergeming sambil mencatat setiap gumamannya. Bergumpal-gumpal teori yang tersirat di dalam diktat perekonomian, ia kesampingkan setitik. Selebihnya, ia tujukan kepada mereka yang melarat.

Adalah Grameen Bank. Sebuah bank yang dipelopori oleh Muhammad Yunus, sempat membikin dunia persilatan ekonomi dunia terperanjat. Ditilik dari namanya Grameen yang berarti adalah pedesaan. Bank Pedesaan, kurang lebih demikian.

Dari rakyat oleh rakyat, bantu yang melarat. Muhammad Yunus mencatat dengan tekad. Sebuah buku membeberkan tekad itu, dalam Bank Kaum Miskin gubahan Muhammad Yunus oleh Penerbit Marjin Kiri, 2007. Buku itu beraroma memorabilia. Di tiap halamannya menceritakan Yunus bersama mahasiswa untuk turun ke lapangan, mengaplikasikan diskusi bertema ekonomi dan kemelaratan selepas mengajar, di kantor Yunus.

Diketahui, Muhammad Yunus adalah Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Chittagong pada 1972. Dua tahun setelah Yunus menjabat, tepatnya 1974 kemiskinan kronis menghantam Bangladesh. Diksi kemiskinan mafhum menguar di ruang-ruang kelasnya.

Bersama hati yang terketuk, Yunus mengajak mahasiswanya untuk melakukan praktik dan mencatat beberapa kendala saat berada di lapangan. Langkahnya tidaklah mudah. Saat ia berbincang dengan, ‘mohon maaf’ gelandang, dan pekerja serabutan, mereka memicingkan mata mengacuhkan tekad Yunus.

Mafhum, sebut saja Suyifa Begum seorang pedagang keliling berusia dua puluh satu tahun. Ia berjalan menembus debu dan terik matari yang membakar kulitnya sambil menenteng purdah (baca: tirai). Sufiya tak memiliki alat produksi dan modal. Ia mendapatkannya dari seorang perantara.

Tiap barang yang terjual, Sufiya harus menyisihkan uangnya untuk diberikan kepada perantara itu. Sufiya hanya menerima ‘recehan’ dengan nominal dua sen perhari. Itu pun tak cukup untuk membayar hidup. Agar tetap hidup, ia harus menggali lubang, kemudian menambalnya dengan bunga yang amat besar, bersama perut yang melilit lapar.

Sufiya Begum dan puluhan rakyat Bangladesh lainnya, tercatat rapi oleh mahasiswa Yunus. Yunus geram, marah mungkin menyebut istighfar. “Di ruang kuliah saya berteori mengenai jumlah miliaran dolar, tapi di sini, di hadapan mata saya, masalah hidup-mati ditentukan oleh sejumlah recehan. Ini tidak benar…. Saya marah kepada diri saya sendiri dan Fakultas Ekonomi saya dan ribuan profesor pintar yang tidak pernah mencoba membahas permasalahan ini,” (hlm. 46).

Kementerangan ilmu ekonomi dan tetek bengeknya kalut di antara mekanisme perekonomian yang memberatkan rakyat Bangladesh. Melalui catatan Yunus, kreditur yang tersebar waktu itu, mekanisme bukan berorientas kepada pelaku ekonomi, akan tetapi kepada keuntungan yang membuncah.

Pinjaman dengan bunga tinggi direngguhnya. Memang, sebelum Grameen berdiri tak ada cara lain. Mereka harus menandatangani kesepakatan. Bayangkan, saat Bangladesh dihantam kelaparan, ada sebuah mekanisme kreditur yang turut mengiksis usus dua belas jari.

Gabah jadi pinjaman. Satu maund gabah senilai 37 kilogram akan dipinjamkan mereka yang membutuhkan. Selanjutnya peminjam harus mengembalikannya dua maund saat masa panen mendatang. Tak hanya itu ada banyak lagi yang dirasa Yunus perlu dirombak, khususnya sikap acuh bank untuk meminjamkan dana kepada mereka yang memiliki asa untuk lebih baik, meskipun dalam situasi kantong bolong.

Kurang lebih sewindu Yunus dan kawan-kawan berjuang. Menyisir gang-gang pusat perekonomian, permukiman kumuh dan ruang-ruang penuh keputusasaaan. Sejak 1974 hingga 1983. Alhasil pada tahun 1983 Grameen resmi berdiri, disambut penuh suka dan cita.

Mereka yang kurang beruntung dapat mendapatkan pinjaman untuk melangsungkan praktik perekonomian. Melalui kepercayaan dan disiplin sepenuhnya untuk memajukan ekonomi mereka yang melarat, Grameen ada mengangkat mereka dari kubangan kelaparan dan kemelaratan. Dalam majalah Basis Edisi Nomor 03-04, Tahun ke-58 April 2009 sebuah kisah mengenai Grameen terbesit. Di situ tersirat pula pidato Muhammad Yunus.

Grameen punya pendekatan yang agaknya berbeda dengan bank-bank konvensional lainnya. Agunan, pinjam, dan bayar. Bila gagal bayar sama dengan disita. Tidak, tidak seperti itu. Pada sela-sela pemberian modal, hingga keberlanjutannya, mereka turut pula menanamkan kesadaran bagaimana ekonomi bekerja, bukan sekadar transaksionil.

Mereka turut mendorong, meskipun ada pula kasus gagal bayar dari nasabah. Grameen membikin mekanisme kelompok. Dari kelompok yang terdiri beberapa orang, diberikan tanggung jawab atas modal yang telah diberikan. Mereka tetap harus mengangsur dengan cicilan yang disepakati sekecil mungkin.

Bagi mereka yang mengolah uang pinjaman untuk usaha, maka pihak Grameen akan memberikannya insentif. Bagi yang belum dapat mengembalikan, akan diberikan sanksi, namun bukan dengan menyandra ‘jaminan’, akan tetapi diberikan waktu untuk menyelesaikan masalah kelompok itu. Alkisah, berkat ide keresahannya inilah, Yunus mendapatkan Nobel untuk Perdamaian pada tahun 2006. Yang menjadi luar biasa, tingkat pengembalian Grameen Bank sempat menyentuh 98 persen.

Yunus menyulut, kemiskinan terjadi bukan karena mereka malas, akan tetapi tidak adanya ruang penjembatan bernama modal dan kepercayaan. Lebih dari itu, Yunus memberi tahu, bahwa perbankan bukan hanya angka laba dan rugi, di sana turut pula terbesit sebuah rasa untuk tetap tekun dan tabah menggandeng dan mendidik mereka yang membutuhkan. Sekian.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment