Kisah Hubungan Ratu Inggris Victoria dengan Pemuda Muslim India yang Sempat Dikubur Seabad

By PorosBumi 05 Feb 2026, 10:17:51 WIB Jejak
Kisah Hubungan Ratu Inggris Victoria dengan Pemuda Muslim India yang Sempat Dikubur Seabad

LEBIH dari 100 tahun lamanya, Kerajaan Inggris berusaha mengubur satu kisah yang dianggap “tidak pantas” untuk dikenang. Bukan soal perang, bukan pula skandal politik, melainkan tentang persahabatan tak biasa antara seorang penguasa imperium terbesar dunia dengan seorang pemuda Muslim dari India. Namanya Abdul Karim—dan kehadirannya mengguncang istana Buckingham dari dalam.

Kontroversi hubungan Ratu Victoria dengan Abdul Karim sudah bergaung sejak akhir abad ke-19. Namun kisah itu sengaja ditutup rapat, disapu di bawah karpet sejarah, seolah tak pernah ada. Hingga akhirnya, tabir itu tersingkap lewat buku Victoria & Abdul: The True Story of the Queen’s Closest Confidant karya Shrabani Basu, yang lalu diadaptasi menjadi film pada 2017.

Kisah Ratu Victoria dan Abdul Karim adalah persahabatan platonis yang tidak biasa namun mendalam antara Ratu Inggris (68) dan pelayan Muslim India (24). Bagi banyak orang, kisah ini terdengar seperti dongeng. Tapi Basu menegaskan: ini bukan fantasi. Ini fakta—dan justru karena itulah ia terasa begitu mengganggu bagi zamannya.

Dari Agra ke Jantung Imperium

Abdul Karim tiba di Inggris pada 1887, di usia 24 tahun, tepat saat Ratu Victoria merayakan Golden Jubilee—50 tahun naik takhta. Ia datang dari Agra, India, sebagai pelayan biasa. Tak ada yang menyangka, dalam waktu kurang dari setahun, pemuda Muslim ini akan menjadi orang paling dipercaya oleh sang Ratu.

Victoria mengangkat Abdul sebagai Munshi, guru bahasa Urdu pribadinya. Selama 13 tahun, sang Ratu mempelajari bahasa dan budaya India darinya. Abdul tak hanya mengajar, ia membawa India ke dalam istana: dari cerita-cerita tentang tanah jajahan, buah mangga yang membuat Victoria ketagihan, hingga kari yang perlahan jadi menu rutin kerajaan.

“Ini semua benar-benar terjadi,” tegas Basu. Ratu belajar Urdu, meminta mangga, membela Abdul mati-matian. Di mata istana, itu tampak seperti kegilaan. Di mata Victoria, itu adalah hubungan manusiawi yang tulus.

Kedekatan ini membuat keluarga kerajaan dan staf istana gusar. Bukan semata soal etika, tapi soal ras, agama, dan hierarki kekuasaan. Abdul adalah pria India berkulit gelap, Muslim, dan—yang paling menyakitkan—diperlakukan setara dengan bangsawan kulit putih.

Setelah Victoria wafat pada 1901, pembalasan terjadi. Putranya, Edward, memerintahkan semua surat dan dokumen tentang Abdul dibakar. Abdul dan keluarganya diusir dari rumah pemberian Ratu dan dipulangkan ke India. Putri Victoria, Beatrice, menghapus semua jejak Abdul dari jurnal pribadi sang Ratu. Sejarah dipaksa lupa.

Selama Ratu masih berkuasa, Abdul Karim hidup di bawah perlindungan penuh. Ia diajak bepergian ke Eropa, diberi gelar, kursi khusus di jamuan kenegaraan, hadiah-hadiah pribadi, bahkan keluarganya ikut diurus—ayahnya mendapat pensiun, namanya diminta untuk ditulis pers.

Banyak sejarawan menilai kecemburuan istana tak terhindarkan. Sejak kematian John Brown—ajudan Skotlandia yang dulu sangat dekat dengan Ratu—tak ada lagi pembantu yang bisa masuk ke lingkaran terdalam Victoria. Hingga Abdul datang.

“Bagi istana, ini penghinaan,” tulis sejarawan Carolly Erickson. Seorang India duduk satu meja, hidup sehari-hari bersama bangsawan Eropa? Itu tak bisa diterima.

Surat-Surat Sang Ratu dengan Tanda Ciuman

Yang sering disalahpahami adalah sifat hubungan keduanya. Banyak gosip liar beredar. Namun Shrabani Basu menegaskan: ini bukan kisah asmara, melainkan ikatan emosional seperti ibu dan anak—bahkan sahabat sejati.

Abdul berbicara pada Victoria sebagai manusia, bukan sebagai Ratu. Saat semua orang menjaga jarak, tunduk, dan takut salah, Abdul justru hadir apa adanya. Ia mendengarkan keluhan Victoria, tentang usia, kesepian, bahkan konflik dengan anak-anaknya sendiri.

Dalam surat-suratnya, Victoria menandatangani dengan kalimat seperti “ibu yang mencintaimu” dan “sahabat terdekatmu”, bahkan menambahkan tanda ciuman—sesuatu yang sangat jarang dilakukan pada era itu. Di usia senja, setelah ditinggal Pangeran Albert, Abdul memberi Victoria alasan untuk hidup kembali.

Salah satu simbol kedekatan mereka adalah dapur. Kari ayam, dal, dan pilau buatan Abdul membuat Victoria jatuh hati. Hidangan itu bukan sekadar makanan, tapi gerbang menuju ketertarikan mendalam pada budaya India.

Dalam buku hariannya, Victoria menulis betapa menariknya bahasa Hindustan dan masyarakatnya. Ia bahkan meminta jam pelajaran ditambah agar bisa berkomunikasi lebih lancar dengan Abdul. Dari pelayan, Abdul dipromosikan menjadi Munshi, lalu sekretaris yang sangat dihormati.

Persahabatan yang Terlalu Jujur untuk Zamannya

Kisah persabahatan terlarang di balik tahta megah Ratu Victoria dan Abdul Karim sempat disembunyikan seabad lamanya sebelum akhirnya terungkap kembali, menegaskan hubungan yang melampaui batas kelas dan ras pada masa kejayaan Kekaisaran Inggris. 

Hingga akhirnya Shrabani Basu menemukan buku harian Abdul Karim, yang disimpan keluarganya di India dan Pakistan sejak kematiannya pada 1909. Di sanalah terungkap kehidupan Abdul selama 10 tahun di Inggris—versi yang tak sempat dicatat oleh istana. Dari buku inilah kisah mereka hidup kembali, lalu diadaptasi ke layar lebar lewat film Victoria and Abdul, dibintangi Ali Fazal dan Judi Dench.

Di puncak kejayaan Imperium Inggris, seorang pemuda Muslim India berdiri di sisi Ratu paling berkuasa di dunia. Bukan sebagai simbol politik, tapi sebagai teman bicara, guru, dan penghibur jiwa.

Mungkin itulah yang paling ditakuti istana: bukan pengaruh Abdul, melainkan fakta bahwa kekuasaan tertinggi pun tetap butuh persahabatan yang tulus—dan itu datang dari orang yang paling tak mereka duga. Sejarah boleh dibakar, tapi kebenaran selalu menemukan jalannya sendiri.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment