BRIN Antarkan Indonesia Raih Tiga Medali Sains Nuklir di Ajang Internasional INSO ke-3
BADAN Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN) melalui Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) membina
delegasi Indonesia dalam ajang International Nuclear Science Olympiad (INSO)
ke-3, yang berlangsung di Arab Saudi pada 2 hingga 9 Agustus 2026. Pembinaan
tersebut dilakukan pada aspek penguatan teori hingga praktikum delegasi sebelum
berkompetisi.
Upaya tersebut membuahkan hasil dan delegasi Indonesia
meraih dua medali perak dan satu medali perunggu pada bidang sains nuklir. Dua
medali perak diraih Gusti Komang Abhika Atmaja dan Aloysius Gonzaga Duta
Setyawan. Sedangkan Faris Patria Chariansyah berhasil membawa pulang medali
perunggu.
“Keberhasilan meraih tiga medali pada INSO ke-3 tidak hanya
menjadi prestasi bagi para siswa, tetapi juga mencerminkan hasil dari proses
pembinaan, pendampingan, dan kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung
pengembangan generasi muda di bidang nuklir,” ungkap Direktur Poltek Nuklir
BRIN, Zainal Arief, Selasa (11/8). Dalam hal ini, ia berperan sebagai National
Project Counterpart (NPC) Indonesia sekaligus penanggung jawab kegiatan.
Baca Juga
INSO merupakan bagian dari IAEA Project Number RAS0095:
‘Supporting Nuclear Science and Technology Education at the Secondary and
Tertiary Levels – Phase II.’ Delegasi Indonesia pada INSO ke-3 terdiri atas dua
orang team leader dosen Poltek Nuklir BRIN, yaitu Fifi Nurfiana dan Lutfi
Aditya Hasnowo, serta empat siswa yaitu Hilmy Lazuardhy Nurramadhan, Faris
Patria Chariansyah, Gusti Komang Abhika Atmaja, dan Aloysius Gonzaga Duta
Setyawan.
“Bangga dengan perjuangan tim Indonesia selama mengikuti
INSO ke-3. Sejak proses pembinaan sampai kompetisi, para siswa menunjukkan
semangat dan kerja keras,” ungkap Fifi.
Menurutnya, tiga medali yang berhasil diraih merupakan
pencapaian yang membanggakan sekaligus menjadi pengalaman para siswa
berkompetisi di tingkat internasional. Hal tersebut menjadi bekal penting untuk
pengembangan diri mereka ke depan. “Semoga pengalaman ini menjadi motivasi bagi
mereka untuk terus berkembang dan menginspirasi generasi muda Indonesia di
bidang sains nuklir,” lanjutnya.
Lutfi menerangkan, persiapan delegasi dilakukan melalui
program pembinaan yang dilaksanakan Poltek Nuklir BRIN sebagai bagian dari
skema Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Para dosen dan pengajar Poltek Nuklir
BRIN memberikan pembelajaran dan pendampingan dengan materi yang disusun
mengacu pada silabus INSO.
“Pembinaan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan
peserta agar memiliki pemahaman dan kompetensi yang diperlukan untuk
berkompetisi di tingkat internasional,” ungkap Lutfi. Pembinaan berlangsung
secara daring pada 6–24 Juli 2026, dilanjutkan luring pada 27–31 Juli 2026 di
kampus Poltek Nuklir.
Keikutsertaan Indonesia dalam INSO ke-3 memperoleh dukungan
pembiayaan dari International Atomic Energy Agency (IAEA). Sementara itu,
proses pembinaan dan dukungan teknis bagi delegasi Indonesia dilaksanakan oleh
Poltek Nuklir BRIN dan International Nuclear Agency (INuA) Indonesia.
Proses seleksi delegasi Indonesia dilaksanakan oleh Poltek
Nuklir BRIN bekerja sama dengan Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas).
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaring,
menyeleksi, dan membina talenta-talenta muda Indonesia di bidang sains nuklir.
Keberhasilan delegasi Indonesia pada INSO ke-3 diharapkan
tidak berhenti sebagai pencapaian kompetisi. Prestasi tersebut menjadi momentum
untuk semakin mengenalkan sains dan teknologi nuklir kepada generasi muda,
sekaligus mendorong lahirnya talenta-talenta baru yang kelak dapat
berkontribusi dalam pengembangan teknologi nuklir bagi kemajuan Indonesia dan
dunia. (fn, tek, ksa/ed: tnt)
