Pengalaman Menakjubkan Tim KIH03 Reborn 5 Hari Menjelajah Taman Nasional Meru Betiri Jawa Timur
TAMAN Nasional Meru Betiri di Jawa
Timur, adalah salah satu harta karun alam Indonesia. Taman nasional ini
terkenal dengan keanekaragaman hayatinya yang luar biasa serta pemandangan alam
yang menakjubkan.
Menjelajah kawasan Meru Betiri bukanlah hal yang mudah dan
sudah barang tentu penuh tantangan. Cerita perjalanan melewati belantara Meru
Betiri inilah yang dirasakan tim KIH03 Reborn, selama mengikuti Exploration
Camp Competition (ECC) 2026 yang diselenggarakan Balai Taman Nasional Meru
Betiri, pada 1–5 Agustus 2026.
Bagi tim KIH03 Reborn, perjalanan lima hari melintasi
pesisir, hutan, perbukitan, sungai, dan teluk dalam kawasan Taman Nasional Meru
Betiri bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang belajar di alam terbuka secara
langsung. Kompetisi ini mempertemukan keterampilan penjelajahan alam dengan
pengamatan keanekaragaman hayati.
Baca Juga
Diketahui, Taman Nasional Meru Betiri memiliki luas 66.068,55
hektare atau sekitar 58.000 hektare berdasarkan penunjukan awal daratan. Kawasan
taman nasional ini membentang di pesisir selatan Jawa Timur, meliputi wilayah
Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi.
Kawasan konservasi ini melindungi bentang alam yang beragam,
mulai dari ekosistem mangrove, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah, aliran
sungai, hingga pantai-pantai yang menjadi habitat berbagai jenis satwa liar. Pantai
Sukamade, yang berada di bagian timur kawasan, dikenal sebagai salah satu
lokasi penting pendaratan dan peneluran penyu. Bentang alam tersebut menjadi
ruang pelaksanaan Exploration Camp Competition (ECC) 2026.
Kegiatan ini menggabungkan eksplorasi lapangan, hiking,
pendidikan konservasi, keterampilan bertahan hidup, kerja sama tim, dan
kompetisi. Panitia menyediakan kuota untuk 200 peserta. Pada pelaksanaannya,
ECC 2026 diikuti 176 peserta yang tergabung dalam 44 tim, terdiri atas 168
peserta Indonesia dan delapan peserta mancanegara. Kegiatan ini juga menjadi
bagian dari rangkaian menuju Hari Konservasi Alam Nasional 2026.
Bagi Tim KIH03 Reborn, yang beranggotakan Ninil Jannah,
Wahyu DW, Ahmad Dainuri, dan Nanang Ndo, perjalanan dari Bandealit menuju
Sukamade melalui Teluk Meru dan Pantai Permisan merupakan bentuk pendidikan
lingkungan hidup yang dijalani langsung di alam terbuka. Selain persiapan fisik
yang prima, pengetahuan serta perlengkapan yang mumpuni, perjalanan itu juga
menuntut perpaduan antara keterampilan aktivitas alam bebas dan kemampuan
mengamati keanekaragaman hayati.
Peserta tidak hanya harus mampu berjalan jauh, mengatur
perlengkapan, membaca medan, menyeberangi aliran air, dan bekerja dalam tim,
tetapi juga ditantang untuk mengenali tumbuhan, satwa, jejak, suara, serta
perubahan ekosistem yang ditemui sepanjang perjalanan.
“Pengamatan
keanekaragaman hayati sebenarnya tidak harus selalu dimulai dari kemampuan yang
sangat lanjut. Hal terpenting adalah kesediaan untuk melihat lebih teliti,
mencatat, memotret, membandingkan, lalu mempelajari kembali apa yang
ditemukan,” kata Ninil Jannah.
Tiga Etape Panjang dengan Beragam Medan Jelajah
Secara resmi, rute eksplorasi ECC 2026 dibagi menjadi tiga etape. Etape pertama membawa peserta dari kawasan Bandealit menuju Teluk Meru. Etape berikutnya berlangsung dari Teluk Meru menuju Pantai Permisan, sebelum perjalanan dilanjutkan dari Permisan hingga Pantai Sukamade.

Menurut perhitungan tim KIH03 Reborn di atas peta, jarak
dari Bandealit menuju kawasan tujuan tidak lebih dari sekitar 21 kilometer.
Namun, jarak di atas peta tidak sepenuhnya menggambarkan tingkat kesulitan
perjalanan. Peserta harus menghadapi jalur yang naik dan turun mengikuti
perbukitan, melewati hutan, menyeberangi anak sungai dan muara, serta menyusuri
sejumlah bagian pantai.
Medan yang beragam membuat perjalanan berlangsung lebih
panjang dan menuntut pengelolaan tenaga, air, logistik, waktu, serta kekompakan
tim. Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi, pemeriksaan kesehatan,
orientasi medan, pengarahan teknis, dan penanaman mangrove di Bandealit.
Pada hari berikutnya, peserta berjalan menuju Teluk Meru
sambil mengikuti materi keterampilan bertahan hidup dan observasi ekosistem. Dari
Teluk Meru, peserta melanjutkan perjalanan ke Pantai Permisan. Di lokasi ini
berlangsung tantangan tim, materi lapangan lanjutan, evaluasi perjalanan, dan
sesi berbagi pengalaman.
Etape terakhir membawa peserta menuju Sukamade untuk
mengikuti pendidikan konservasi penyu, pengamatan penyu pada malam hari,
refleksi perjalanan, dan penutupan kegiatan. Kegiatan konservasi lainnya
mencakup penanaman mangrove, penghitungan stok karbon, aksi bersih pantai,
pelepasan tukik, serta kegiatan komunikasi lingkungan bersama generasi muda.
Rangkong, Elang Jawa, Jejak Satwa, dan Pohon
Pakem
Pada pos etape terakhir, panitia meminta setiap tim
menyampaikan temuan penting selama perjalanan. Tim KIH03 Reborn melaporkan
sejumlah perjumpaan dengan satwa dan tumbuhan yang mereka amati di sepanjang
jalur.
Tim mencatat keberadaan burung yang mereka identifikasi
sebagai rangkong, beberapa jenis elang, terkhusus elang jawa. Salah satu
perjumpaan yang paling membekas terjadi ketika mereka melihat dua ekor rangkong
terbang dan dikejar oleh seekor elang.
“Kami melihat dua burung rangkong dikejar seekor elang.
Peristiwa itu berlangsung cepat, tetapi memperlihatkan bagaimana interaksi
satwa dapat disaksikan secara langsung ketika kita berada di dalam habitatnya,”
kata anggota tim.
Catatan tersebut merupakan hasil pengamatan peserta selama
perjalanan dan masih dapat dilengkapi melalui pemeriksaan foto, ciri morfologi,
suara, lokasi, serta konsultasi dengan pengamat burung atau petugas taman
nasional. Di lokasi berkemah di Pantai Permisan, tim juga menemukan banyak
tanda kehadiran mamalia. Di sekitar tempat berkemah terdapat kotoran dan jejak
satwa yang diduga berasal dari rusa atau kancil.
Bagi peserta, jejak semacam itu menjadi pengingat bahwa
keberadaan satwa liar tidak selalu ditandai oleh perjumpaan langsung. Temuan
lainnya adalah pohon pakem, tumbuhan yang buahnya menjadi sumber kluwek dan
dikenal pula dengan nama kepayang atau pucung di sejumlah daerah.
“Kami masih menemukan pohon pakem, sumber kluwek, di
sepanjang perjalanan,” terang Ahmad Dainuri. Nama ilmiah pohon tersebut adalah
Pangium edule, jenis pohon kawasan tropis yang tumbuh secara alami di berbagai
wilayah Asia Tenggara dan Pasifik Barat, termasuk Pulau Jawa.
Nanang Ndo menambahkan bahwa tim juga mendokumentasikan
beragam jamur yang tumbuh di lantai hutan, batang lapuk, dan lokasi-lokasi
lembab. “Banyak jenis jamur yang kami temukan sepanjang perjalanan. Kami
mengambil foto-fotonya dan akan mencoba melakukan identifikasi setelah
kegiatan,” katanya.
Menyalakan Kembali Semangat Permata Alam KIH
Konsep perjalanan seperti ECC mengingatkan anggota KIH03 Reborn pada kegiatan Klub Indonesia Hijau (KIH) pada masa lalu yang dikenal sebagai Perjalanan dan Pengamatan Alam, disingkat Permata Alam. “Klub Indonesia Hijau pernah memiliki kegiatan dengan rute dan konsep yang serupa. Namanya Permata Alam. Perbedaannya, kegiatan itu tidak menggunakan format kompetisi dan tidak dilaksanakan dalam rombongan sebesar ECC,” kata Ninil.

Wahyu DW menilai format kompetisi tim yang digunakan dalam
ECC sesuai dengan kecenderungan kegiatan generasi masa kini. Kompetisi dapat
menjadi pintu masuk untuk menarik peserta, sementara substansi kegiatan tetap
diarahkan pada pembelajaran konservasi dan pengalaman lapangan.
“Sebagai peserta, kami mengapresiasi gagasan kompetisi
eksplorasi. ECC dapat menjawab tren kompetisi saat ini, tetapi tetap membawa
peserta masuk ke dalam pengalaman konservasi yang nyata. Menurut saya, kegiatan
seperti ini tidak hanya menarik bagi generasi muda,” ujar Wahyu.
Bagi Ahmad Dainuri dan Nanang Ndo, perjalanan di Meru Betiri
juga memiliki makna yang lebih personal. Meskipun perjalanan lintas alam bukan
pengalaman pertama bagi mereka, Meru Betiri menghadirkan kesan berbeda. “Meru
Betiri memiliki daya magnet spiritual tersendiri bagi sejumlah senior pegiat
lingkungan hidup dan konservasi. Ada pengalaman yang sulit diterangkan hanya
melalui jarak, medan, atau catatan perjalanan,” tutur mereka.
Pengalaman KIH03 Reborn menunjukkan bahwa perjalanan alam
bebas dapat ditempatkan sebagai metode pendidikan lingkungan hidup. Pengetahuan
tidak hanya diperoleh melalui ceramah, papan informasi, atau buku panduan,
tetapi melalui hubungan langsung dengan bentang alam.
Peserta belajar bahwa pantai, hutan, sungai, bukit,
tumbuhan, burung, mamalia, jamur, dan manusia merupakan bagian dari satu sistem
ekologis. Mereka juga belajar bahwa setiap catatan lapangan perlu disertai
ketelitian dan sikap rendah hati. Tidak semua jenis dapat segera dikenali, dan
tidak setiap jejak dapat langsung dipastikan pemiliknya.
Dalam konteks tersebut, kompetisi bukan tujuan akhir.
Kompetisi dapat menjadi perangkat untuk membangun disiplin, ketahanan,
pembagian peran, dan kerja sama. Namun, nilai terpentingnya terletak pada
tumbuhnya rasa ingin tahu, kepedulian, serta kesediaan peserta untuk menjaga
kawasan yang telah memberi mereka pengalaman.
Perjalanan dari Bandealit menuju Sukamade akhirnya bukan
hanya perjalanan melintasi ruang geografis. Bagi KIH03 Reborn, perjalanan itu
juga menjadi lintasan pembelajaran—dari melihat menjadi mengamati, dari
mengetahui menjadi memahami, dan dari menikmati alam menuju kesediaan untuk
ikut menjaganya. (fadlik al iman)
