Logo Porosbumi
22 Sep 2026,
22 September 2026
LIVE TV

Sempat Runtuh Pada 2018, BRIN Ungkap Tubuh Gunung Anak Krakatau Tumbuh Kembali

PorosBumi 22 Sep 2026, 12:00:54 WIB
Sempat Runtuh Pada 2018, BRIN Ungkap Tubuh Gunung Anak Krakatau Tumbuh Kembali

GUNUNG Anak Krakatau sedang menjalani babak baru dalam perjalanan geologinya. Setelah sebagian tubuh gunung runtuh ke laut pada Desember 2018, aktivitas erupsi yang berlangsung setelahnya secara bertahap kembali membangun tubuh gunung.

Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), University of Birmingham, ITB, Penn State Univerity, British Geological Survey, University of Oxford, dan PVMBG mencatat proses pertumbuhan tersebut masih berlangsung hingga 2026.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, menjelaskan perjalanan Anak Krakatau memperlihatkan bahwa gunung api merupakan sistem yang dinamis. Sejak muncul dari dasar laut pada akhir 1920-an, tubuh Anak Krakatau berkembang melalui siklus panjang pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali.

“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru,” jelas Dini dalam pesan tertulisnya, Senin (21/09).

Perjalanan tersebut bermula ketika Anak Krakatau muncul pada 1927 sebagai fase pembangunan kembali sistem gunung api setelah runtuhnya Krakatau akibat erupsi 1883. Pada periode awal, pusat erupsi masih berada di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut.

Interaksi magma panas dengan air laut menghasilkan erupsi Surtseyan berupa ledakan uap, abu, dan material vulkanik. Endapan yang terus terakumulasi kemudian membentuk daratan Anak Krakatau yang muncul secara permanen di atas permukaan laut pada Agustus 1930.

Pertumbuhan berlanjut selama puluhan tahun. Pada periode 1930–1959, aktivitas didominasi erupsi freatomagmatik akibat interaksi magma dan air. Erupsi berulang dengan lontaran material dan kolom abu secara perlahan memperbesar tubuh Anak Krakatau

Memasuki periode 1959–2018, ketika kawah semakin terisolasi dari laut, aktivitas bergeser menjadi lebih dominan Strombolian–Vulcanian dan efusif. Letusan menghasilkan material pijar, bom vulkanik, abu, serta aliran lava. Akumulasi produk erupsi selama puluhan tahun membuat kerucut Anak Krakatau tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 330 meter sebelum mengalami kolaps pada 2018.

 

Tubuh Gunung Berubah Drastis pada 2018

Perjalanan pertumbuhan itu mengalami perubahan besar pada 22 Desember 2018. Sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik. Peristiwa tersebut menghilangkan sebagian besar tubuh gunung yang berada di atas permukaan laut, menurunkan ketinggian puncak dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter, serta memicu tsunami di Selat Sunda.

Keruntuhan tidak hanya mengubah bentuk fisik Anak Krakatau. Sistem erupsinya juga mengalami perubahan. Hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba mengurangi tekanan pada saluran magma, sementara air laut masuk ke kawah yang terbuka.

Kondisi tersebut menyebabkan aktivitas berubah cepat dari erupsi Strombolian menjadi Surtseyan yang lebih eksplosif. Interaksi kembali antara magma dan air laut juga membentuk ulang morfologi kawah Anak Krakatau.

 

Perubahan besar tersebut terlihat pada perbandingan morfologi Anak Krakatau, pada 2013, 2019, 2020, dan 2021. Kerucut yang relatif tinggi sebelum keruntuhan berubah menjadi bentuk lebih rendah dan terbuka pada 2019, kemudian mulai mengalami pembangunan kembali akibat aktivitas berikutnya.

“Perbandingan morfologi sebelum dan setelah runtuhan 2018 menunjukkan perubahan yang sangat besar. Bentuk kerucut yang sebelumnya relatif tinggi berubah menjadi morfologi yang lebih rendah dan terbuka, kemudian secara bertahap dibangun kembali oleh aktivitas erupsi berikutnya,” terang Dini.

Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase yang disebut sebagai rekonstruksi dan pertumbuhan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava.

Material yang dihasilkan dari aktivitas tersebut secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps. Salah satu proses pertumbuhan terlihat dari pembentukan lava pada 2020 yang menumpuk di atas material hasil aktivitas setelah runtuhan.

“Setelah kolaps, Anak Krakatau memasuki fase pembangunan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju Strombolian, lava fountain, dan aliran lava, yang secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps,” kata Dini.

 

Pertumbuhan Anak Krakatau Tidak Simetris

Hasil penelitian mencatat bahwa pertumbuhan Anak Krakatau tidak berlangsung secara simetris. Gunung ini berdiri di tepi kaldera bawah laut dengan tingkat kemiringan yang berbeda pada setiap sisinya.

Sektor barat daya berkembang di atas lereng kaldera yang lebih curam, sementara bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang relatif lebih dangkal. Perbedaan kondisi dasar tersebut menyebabkan kedua sektor mempunyai karakter kestabilan yang berbeda.

Tubuh Anak Krakatau juga tersusun dari material dengan sifat fisik berbeda. Pada fase awal pertumbuhan, interaksi magma dengan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif ringan dan berpori. Setelah sekitar 1960, ketika aktivitas lebih didominasi erupsi Strombolian - Vulcanian, lava yang lebih padat mulai menumpuk di atas endapan tuf tersebut.

Penumpukan lava yang lebih berat di atas material yang lebih ringan, ditambah posisi sektor barat daya di atas lereng kaldera yang curam, secara bertahap meningkatkan beban tubuh gunung dan berkaitan dengan ketidakstabilan lereng. Kondisi inilah yang menjadi bagian penting dalam memahami evolusi morfologi Anak Krakatau.

Dini menjelaskan, perjalanan Anak Krakatau menunjukkan bahwa memahami gunung api tidak cukup hanya dengan melihat satu kejadian erupsi. Perubahan sistem magma, material penyusun, bentuk tubuh gunung, gaya erupsi, hingga kondisi lingkungan saling berkaitan dan dapat berubah dari waktu ke waktu.

“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” ujar Dini.

Proses yang berlangsung sejak Anak Krakatau muncul dari laut, tumbuh hingga ratusan meter, mengalami keruntuhan besar pada 2018, kemudian kembali membangun kerucutnya hingga 2026 menjadi bagian penting untuk memahami evolusi gunung api tersebut. (pur)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```