BRIN Gagas Agro Techno Park, Sulap Lahan Bekas Tambang Kaltim Menjadi Kawasan Peternakan Terpadu
LAHAN bekas tambang kerap dipandang
sebagai tantangan besar untuk dikembalikan menjadi kawasan produktif. Namun,
melalui riset dan inovasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melihat
lahan bekas tambang sebagai peluang untuk membangun sistem agribisnis baru yang
terintegrasi dan berkelanjutan.
Gagasan tersebut disampaikan dalam Webinar Risnov Ternak
Series #31 bertema “Prospek Pengembangan Usaha Peternakan Terpadu pada Lahan
Bekas Tambang: Tantangan dan Peluang, Contoh Kasus – Kalimantan Timur” yang
diselenggarakan Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan
(ORPP) BRIN secara daring, Rabu (9/9).
Kepala Pusat Riset Peternakan, ORPP BRIN, Santoso,
menegaskan bahwa pengembangan peternakan di lahan bekas tambang membutuhkan
pendekatan berbeda dibandingkan lahan pertanian pada umumnya. Kondisi tanah dan
lingkungan, produktivitas serta kesehatan ternak, hingga investasi dan
kelayakan usaha perlu dikaji secara terpadu.
Baca Juga
“Kita tidak ingin sekadar membuktikan bahwa ternak dapat
dipelihara di lahan bekas tambang. Yang lebih penting adalah menentukan model
seperti apa yang tepat, teknologi apa yang diperlukan, komponen apa yang harus
dioperasikan, dan dalam kondisi seperti apa usaha tersebut dapat berkembang,”
ujar Santoso.
Menurut Santoso, konsep peternakan terpadu harus ditempatkan
sebagai sebuah sistem yang menghubungkan ternak dengan tanaman, hijauan pakan,
dan berbagai kegiatan agribisnis lainnya. Dengan demikian, manfaat yang
dihasilkan tidak berhenti pada produk peternakan, tetapi juga menciptakan
efisiensi sekaligus nilai tambah.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, Sindu
Akhadiarto, pada kesempatan yang sama, memaparkan gagasan pembangunan “Agro
Techno Park” (ATP) pada Lahan Bekas Tambang di Kaltim. Gagasan ini, menurutnya,
merupakan hasil kajian dan survei BRIN bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan
Timur untuk mengoptimalkan lahan bekas tambang menjadi kawasan produktif
berbasis teknologi dan inovasi.
Salah satu lokasi yang disiapkan berada di Loa Kulu,
Kalimantan Timur, melalui kolaborasi BRIN dan PT Bramasta Sakti. Kawasan
tersebut dirancang sebagai percontohan peternakan terpadu yang mengintegrasikan
peternakan, perikanan, hortikultura, tanaman pangan, dan perkebunan, dengan
dukungan teknologi modern serta smart farming.
Konsep ini menjadikan peternakan bukan sekadar kegiatan
produksi daging dan telur. Dalam sistem yang terintegrasi, aktivitas peternakan
dapat menghasilkan pupuk organik, menyediakan hijauan pakan, mengurangi limbah
biomassa, sekaligus membuka sumber pendapatan bagi masyarakat.
“Peternakan tidak hanya menghasilkan daging dan telur untuk
manusia, tetapi juga menjadi mesin biologis yang mempercepat pemulihan fungsi
ekonomi. Maka terjadilah konsep bioekonomi sirkular,” jelas Sindu.
Lebih jauh, ATP tidak hanya diarahkan sebagai lokasi
produksi. BRIN membayangkannya sebagai kawasan percontohan sekaligus ekosistem
kolaborasi yang mempertemukan pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku
usaha, dan BRIN.
Kawasan tersebut, kata Sindu, juga diarahkan untuk mendukung
riset dan produksi, pengembangan agroeduwisata, serta penerapan teknologi
pertanian dan peternakan terpadu yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan
karakteristik sesuai.
Perspektif pengembangan usaha turut disampaikan Guru Besar
Fakultas Pertanian, Jurusan Peternakan Universitas Mulawarman Samarinda, Prof.
Taufan Purwokusumaning Daru. Dirinya mengurai berbagai tantangan sekaligus
peluang pengembangan usaha peternakan di lahan bekas tambang, khususnya dalam
konteks Kalimantan Timur.
Sementara itu, Direktur PT Bramasta Sakti, Wiwin Suhartanto,
memberikan perspektif pelaku usaha mengenai pemanfaatan lahan bekas tambang
untuk kegiatan agribisnis, termasuk pengalaman dan tantangan pengembangan
ternak di kawasan tersebut.
Melalui Webinar Risnov Ternak Series #31, BRIN mempertemukan
perspektif peneliti, akademisi, pemerintah daerah, dan pelaku usaha untuk
membangun pemahaman bersama mengenai optimalisasi lahan bekas tambang.
Pendekatan yang ditawarkan tidak semata-mata mengubah lahan
bekas tambang menjadi kawasan peternakan, tetapi membangun sistem produksi
terpadu berbasis teknologi, bioekonomi sirkular, dan kolaborasi. Model tersebut
diharapkan mampu menghasilkan kawasan yang produktif, layak secara ekonomi,
berkelanjutan, sekaligus memiliki potensi untuk diterapkan di wilayah lain.
(nurm/ed:ade,ugi)
