- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Tiga Pakar Ungkap Bahaya Megathrust dan Strategi Mitigasinya di Indonesia
.jpg)
BANDUNG – Risiko gempa megathrust
menjadi perhatian komunitas ilmiah global, pemahaman tentang pergerakan kerak
bumi, tanda-tanda awal sebelum gempa besar, serta upaya mitigasi bencana. Pusat
Riset Kebencanaan BRIN mengulas topik tersebut dalam Geohazard Webinar #5
dengan tema “Understanding Geohazard With GNSS” secara daring, Selasa (2/12).
Prof. Kosuke Heki dari Hokkaido University sebagai Visiting
Researcher di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN memberikan insight mengenai
“Nankai Trough Earthquake in Southwest Japan: What can we learn to mitigate
disasters in Indonesia?.” Menurutnya, gempa besar di zona Nankai Trough di
Jepang bukan sekadar ancaman lokal, namun juga sumber pembelajaran global bagi
negara rawan megathrust seperti Indonesia.
Ia menjelaskan dasar mengenai siklus megathrust. “Kami
memahami bahwa gempa bumi berkekuatan 8 terjadi dalam interval yang jauh lebih
pendek sekitar 50 hingga 100 tahun. Jadi, ini adalah pandangan klasik kami
sebelum gempa bumi,” jelas Heki.
Baca Lainnya :
- Nyamuk Ditemukan di Islandia: Pertanda Iklim Global Semakin Menghangat0
- BRIN Kembangkan Platform GEOMIMO untuk Ketahanan Pangan hingga Perdagangan Karbon0
- Menyingkap Rahasia Langit: Jejak Arkeoastronomi di Indonesia0
- Jejak Megalitik Pasemah: Ruang Sakral dan Warisan Leluhur0
- Tonggak Sejarah Medis Tanah Air: Robot Bedah Otak Pertama di Indonesia Hadir di Siloam Hospitals0
Menurut Heki, potensi gempa besar tetap menjadi perhatian
serius, meskipun waktu pastinya sulit diprediksi. Ia menekankan pentingnya
pengamatan deformasi jangka panjang melalui Global Navigation Satellite System
(GNSS) dan pengukuran dasar laut.
“Kemudian kita dapat melihat bahwa kopling antar-seismik
yang saling mengunci terjadi hampir di sumbu palung. Jadi, bahkan di bagian
batas besar yang sangat dangkal, terdapat regangan yang terakumulasi untuk
gempa berikutnya,” tuturnya.
Heki juga menjelaskan, slow slip event (SSE) atau
preslip, meskipun gerakannya kecil, dapat menjadi indikator penting sebelum
terjadinya gempa besar. “Fenomena ini telah diamati berulang di Nankai Trough
dan bagian lain Jepang. Salah satu peristiwa pergeseran lambat ini mungkin
memicu gempa palung Nankai berikutnya,” katanya.
Penjelasan ini sangat relevan bagi Indonesia, yang memiliki
zona subduksi aktif seperti Mentawai, Jawa, Bali, Lombok, hingga Maluku.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan jaringan GNSS
guna mendeteksi deformasi jangka panjang dan preslip sebelum gempa. “Saat ini
saya sedang mengerjakan masalah ini di Indonesia,” ucap Heki
Dengan kombinasi data GNSS di darat dan teknologi geodesi
dasar laut, Heki menekankan bahwa Indonesia dapat mulai memetakan akumulasi
tegangan yang berpotensi memicu gempa besar di masa depan.
Endra Gunawan, Associate Professor di Global Geophysics RG,
Program Studi Teknik Metalurgi ITB, memaparkan hasil riset terbarunya
mengenai seismogenic potential Sesar Jakarta menggunakan metode GNSS
slip-rate analysis.
Ia menunjukkan bahwa deformasi kerak di wilayah Jakarta
dapat terukur secara periodik, sekaligus membuka peluang pemodelan bahaya gempa
di wilayah perkotaan padat penduduk. Riset ini sekaligus memperkuat pesan Prof.
Heki bahwa pemantauan berbasis deformasi merupakan fondasi mitigasi modern.
“Analisis kami berdasarkan pendekatan GPS, dan kami
menemukan bahwa patahan di bagian selatan Jakarta ini menghasilkan laju
pergeseran sekitar tiga milimeter per tahun dengan kedalaman penguncian tujuh
dan sudut kemiringan 63 ke selatan,” ujar Endra.
Sementara itu, narasumber ketiga Muhammad Al Kautsar, ahli
GNSS CORS di Direktorat Sistem Referensi Geospasial Badan Informasi Geospasial
(BIG), menekankan pentingnya integrasi data GNSS nasional untuk pemantauan
geohazard. Ia menjelaskan bagaimana jaringan CORS yang dikelola BIG digunakan
untuk memantau pergerakan mikro dan deformasi harian yang berkaitan dengan
potensi gempa.
“Dinamika pergerakan lempeng di Indonesia membawa implikasi
serius. Akibat dari pergerakan tersebut, Indonesia akan banyak mengalami gempa
bumi dan aktivitas gunung berapi,” kata Kautsar menutup paparannya. (nu,
btp/ ed. kg, ns)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

