- Dari Sawah ke Panggung Dunia, Obsesi Besar Mentan Amran untuk Kedaulatan Pangan Indonesia
- Music Awards Japan 2026 Bakal Kembali Gegerkan Asia, Siap Mengubah Peta Musik
- Kemenkoinfra Luncurkan Podcast InfraMe, Hadirkan Wajah Pembangunan Nasional yang Lebih Humanis
- Villas for Rent in Bali: Menikmati Keindahan Alam Pulau Dewata dari Sebuah Vila
- Menjelajah 10 Negara Terkecil di Dunia
- Mentan Minta Kontrak Cetak Sawah Rakyat 101 Ribu Hektare Tuntas dalam Sebulan
- AHY Dorong Infrastruktur Jadi Garda Terdepan sebagai Benteng Negara di Ruang Siber
- Perpanjangan Operasi Freeport: Perpanjang Krisis dan Derita di Tanah Papua
- Begini Jurus AHY Amankan Ketahanan Air sebagai Kunci Kemandirian Bangsa
- Menguak Misteri dan Potensi Hidroponik, Pola Bercocok Tanam Tanpa Tanah
Dari Sawah ke Panggung Dunia, Obsesi Besar Mentan Amran untuk Kedaulatan Pangan Indonesia
Dari sawah, mimpi besar itu sedang ditanam

Keterangan Gambar : Mentan Amran dalm acara Leadership Camp ASN yang digelar di Asrama Haji Sulawesi Selatan, Makassar. (dok.Kementan)
Di sebuah ruangan di Asrama Haji Sulawesi Selatan, Makassar, ratusan aparatur sipil negara duduk menyimak dengan serius. Di hadapan mereka berdiri Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian yang dikenal blak-blakan dan penuh energi. Hari itu, dalam Leadership Camp ASN Sulawesi Selatan, ia tidak sekadar berbicara tentang jabatan. Ia berbicara tentang keberanian mengubah sistem.“Memimpin itu indah dalam mimpi, tetapi tidak mudah dalam kenyataan,” ucapnya tenang namun tegas.
Kalimat itu seperti penanda bahwa kepemimpinan, baginya, bukan soal kursi atau struktur, melainkan soal tanggung jawab dan keberanian mengambil keputusan yang tak selalu populer. Dalam acara yang juga dihadiri Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman serta Pangdam XIV/Hasanuddin Kodam XIV/Hasanuddin itu, sorotan utama Mentan Amran tetap pada pesan besar,pertanian adalah fondasi kedaulatan bangsa, dan hanya kepemimpinan transformatif yang bisa membuatnya melompat.
Perjalanan Amran bukan kisah instan. Lebih dari dua dekade ia menjadi birokrat, tiga periode duduk di kabinet, dua puluh tahun bergelut sebagai pengusaha, dan lebih dari satu dekade menjadi dosen. Bahkan, ia pernah menjadi penyuluh pertanian lapangan, berhadapan langsung dengan lumpur sawah dan keluh kesah petani.
Baca Lainnya :
- Kemenkoinfra Luncurkan Podcast InfraMe, Hadirkan Wajah Pembangunan Nasional yang Lebih Humanis0
- Mentan Minta Kontrak Cetak Sawah Rakyat 101 Ribu Hektare Tuntas dalam Sebulan0
- AHY Dorong Infrastruktur Jadi Garda Terdepan sebagai Benteng Negara di Ruang Siber 0
- Perpanjangan Operasi Freeport: Perpanjang Krisis dan Derita di Tanah Papua0
- Begini Jurus AHY Amankan Ketahanan Air sebagai Kunci Kemandirian Bangsa 0
Baginya, tekanan dan ujian bukan hambatan, melainkan proses pembentukan karakter. Ia percaya, sektor pertanian Indonesia terlalu lama terjebak dalam sistem yang berbelit. Jika ingin hasil berbeda, maka caranya pun harus berbeda. “Kalau kita hanya melakukan hal yang sama dan berharap hasil berbeda, itu tidak masuk akal,” katanya lugas.
Membongkar Sistem Lama
Salah satu gebrakan yang ia soroti adalah reformasi pupuk bersubsidi. Sebanyak 145 aturan dipangkas. Jalur distribusi yang sebelumnya panjang dan rumit disederhanakan. Kini, hanya melibatkan Kementerian Pertanian, PT Pupuk Indonesia, serta kelompok tani atau pengecer sebagai ujung tombak. Hasilnya, biaya pupuk turun hingga 20 persen. Volume pupuk meningkat 700 ribu ton tanpa tambahan anggaran negara. Bagi petani, ini bukan sekadar angka. Ini soal kepastian pasokan dan nafas usaha yang lebih lega.
Tak berhenti di situ, pemerintah merencanakan pembangunan tujuh pabrik pupuk baru. Langkah ini menjadi strategi jangka panjang agar Indonesia tak lagi bergantung dan lebih kuat menghadapi gejolak global. Namun reformasi hulu saja tidak cukup. Mentan Amran menekankan pentingnya hilirisasi, mengolah komoditas di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati rakyat sendiri. Ia mencontohkan kelapa. Di tengah pergeseran pola konsumsi global, termasuk di China, permintaan susu nabati berbasis kelapa meningkat. Peluang nilainya disebut bisa mencapai Rp5.000 triliun.
Setali tiga uang dengan gambir. Sekitar 80 persen bahan bakunya dikuasai Indonesia, tetapi pengolahannya masih banyak dilakukan di luar negeri. Produk setengah jadi itu diekspor, diolah kembali, lalu dijual lebih mahal ke pasar global seperti Amerika Serikat. Ironi yang menurutnya harus diakhiri.
Begitu juga pada komoditas CPO, di mana Indonesia menguasai sekitar 60–70 persen pasar dunia. Dengan strategi biofuel dan pengurangan impor solar, nilai tambahnya diyakini bisa melonjak signifikan. Tiga komoditas saja, katanya, berpotensi menghasilkan Rp15 ribu triliun jika dikelola dengan strategi hilirisasi yang tepat.
Bagi Amran, transformasi pertanian bukan sekadar pertumbuhan ekonomi. Ini soal survival dan martabat bangsa di tengah kompetisi global yang kian tajam. Ia menutup arahannya dengan pesan sederhana namun dalam, bekerja adalah bagian dari iman. Doa penting, tetapi tindakan jauh lebih menentukan.
Optimismenya terasa jelas. Dengan kepemimpinan yang berani membongkar sistem lama, memperkuat hulu hingga hilir, dan menempatkan petani sebagai pusat kebijakan, ia yakin Indonesia bukan hanya mampu menjaga kedaulatan pangan, tetapi juga melompat menjadi kekuatan ekonomi dunia. Dari sawah, mimpi besar itu sedang ditanam. Tinggal bagaimana seluruh elemen bangsa ikut merawatnya hingga panen benar-benar tiba.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

