Logo Porosbumi
02 Jun 2026,
02 June 2026
LIVE TV

BRIN Ungkap Potensi Laut Indonesia Jadi Kekuatan Masa Depan Bangsa

PorosBumi 02 Jun 2026, 07:59:26 WIB
BRIN Ungkap Potensi Laut Indonesia Jadi Kekuatan Masa Depan Bangsa

SELAMA ini laut Indonesia sering dipandang hanya sebagai sumber ikan dan jalur pelayaran. Padahal, di balik laut seluas jutaan kilometer persegi itu, tersimpan masa depan Indonesia dalam bidang pangan, energi, teknologi, hingga peradaban bangsa. Isu tersebut dibahas dalam National Policy Dialogue Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Jumat (22/5).

Dewan Pengarah BRIN, I Gede Wenten, menegaskan bahwa laut Indonesia harus dipandang sebagai laboratorium hidup terbesar bangsa. Menurutnya, laut bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga tempat lahirnya ilmu pengetahuan, inovasi, dan kekuatan masa depan Indonesia. “Laut adalah kampus, laboratorium, pabrik alam, benteng ekologis, sekaligus ruang masa depan Indonesia,” ujar Wenten.

Dalam paparannya bertajuk Juanda 2.0: Reaktualisasi Deklarasi Juanda dalam Paradigma Ekonomi Biru Berbasis Pengetahuan, ia menjelaskan bahwa Indonesia perlu memperbarui semangat agar tidak hanya berhenti pada pengakuan wilayah laut, tetapi juga menjadikan laut sebagai pusat pengembangan sains, teknologi, dan inovasi nasional.

Wenten menilai, Indonesia selama ini masih sering dipersepsikan hanya sebagai negara dengan luas daratan sekitar 1,9 juta kilometer persegi. Padahal, sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki wilayah kedaulatan darat dan laut mencapai sekitar 5,1 juta kilometer persegi.

“Kesadaran ini penting untuk menguatkan posisi Indonesia sebagai negara kepulauan besar yang berdaulat. Bukan untuk menciptakan kedaulatan baru, tetapi untuk memulihkan dan mengunci kesadaran nasional-internasional bahwa Indonesia bukan hanya 1,9 juta km² daratan, melainkan negara kepulauan berdaulat ±5,1 juta km²,” katanya.

Ia menambahkan, konsep ‘Juanda 2.0’ merupakan agenda strategis nasional untuk membangun ekonomi biru berbasis pengetahuan. Dengan konsep itu, laut tidak hanya dimanfaatkan untuk mencari hasil alam, tetapi juga menjadi pusat penciptaan nilai tambah melalui riset dan teknologi.

Riset dan Tantangan untuk Pengembangan Bioekonomi Biru

Dalam forum tersebut, sejumlah tokoh nasional turut menyoroti besarnya potensi kelautan Indonesia yang selama ini belum tergarap maksimal. Rokhmin Dahuri, anggota komisi IV DPR RI menyebut kekayaan biodiversitas laut Indonesia dapat menjadi kekuatan besar dalam bidang pangan, farmasi, energi, kosmetik, hingga biomaterial industri. Menurutnya, laut Indonesia dapat menjadi fondasi bioekonomi biru dunia jika didukung riset dan inovasi yang kuat.

 “Kekayaan laut kita bukan sekedar warisan alam, melainkan cetak biru kedaulatan bangsa. Oleh karena itu, melalui integrasi riset, inovasi genetik, dan sinergi lintas sektor, Indonesia akan bangkit sebagai episentrum bioekonomi biru dunia,” ungkapnya.

Sementara itu, Budi Setiadi Daryono dari UGM menilai tantangan utama sektor kelautan bukan pada minimnya potensi, tetapi lemahnya hilirisasi riset, rendahnya nilai tambah produk laut, dan belum terintegrasinya tata kelola ruang laut.

“Oleh karenanya, diperlukan transformasi pengelolaan laut melalui percepatan hilirisasi rumput laut dan bioproduk kelautan, penguatan industri pangan laut bergizi, pengembangan riset terapan berbasis bioprospeksi, serta pemanfaatan data keanekaragaman hayati yang terintegrasi untuk mendukung konservasi, pengambilan kebijakan, dan pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Andes Hamuraby Rozak. Ia mengatakan kekayaan biodiversitas laut Indonesia belum optimal dimanfaatkan karena masih minim eksplorasi, lemahnya hilirisasi riset, serta tingginya ketergantungan impor bahan baku farmasi. “Biodiversitas laut tidak boleh hanya berhenti menjadi bahan penelitian. Harus menjadi sumber inovasi dan penggerak ekonomi nasional,” ujarnya.

Dari sektor industri, Kuncoro C. Nugroho selaku ketua Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia menyoroti lemahnya rantai pasok dan minimnya produk olahan bernilai tambah. Ia menilai Indonesia terlalu lama hanya menjadi pemasok bahan mentah hasil laut ke pasar dunia. “Indonesia harus naik kelas menjadi pusat industri protein laut dunia, bukan hanya penjual bahan baku,” tegasnya.

Di sisi geopolitik, Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno, mengingatkan bahwa posisi Indonesia sangat strategis di kawasan Indo-Pasifik. Namun, Indonesia juga menghadapi berbagai ancaman seperti illegal fishing, polusi laut, konflik geopolitik, hingga lemahnya pengawasan maritim.

Menurutnya, penguatan riset kelautan, teknologi, pertahanan maritim, dan diplomasi internasional menjadi kunci agar Indonesia mampu menjaga kedaulatan laut sekaligus menjadi kekuatan maritim dunia.

Senada dengan itu, Marsetio dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi menyoroti masih rendahnya riset kelautan nasional, terbatasnya kapal riset, serta minimnya pendanaan sektor maritim. Karena itu, ia menilai Indonesia perlu memperkuat strategi geomaritim melalui kolaborasi riset, peningkatan kualitas SDM, dan penguasaan teknologi kelautan agar mampu bersaing secara global.

Forum ini menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak hanya berada di daratan, tetapi juga di lautnya sendiri. Dengan kekayaan hayati dan posisi strategis yang dimiliki, laut Indonesia dinilai dapat menjadi fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. (tek, ky/ed:jml)

 

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```