Memahami Lahan Basah sebagai Penjaga Siklus Air Tropis
PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah cara ilmuwan memahami
sistem hidrologi lahan basah tropis. Ekosistem yang selama ini identik dengan
kawasan tergenang ternyata menyimpan mekanisme hidrologi yang kompleks, melibatkan
interaksi antara air, tanah, vegetasi, dan organisme dalam ruang dan waktu yang
saling berkaitan.
Perubahan paradigma tersebut dipaparkan Prof Hidayat,
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan
Inovasi Nasional (BRIN), dalam orasi ilmiahnya berjudul “Dinamika dan Mekanisme
Sistem Hidrologi Lahan Basah Dataran Banjir Tropis”, di Auditorium Sumitro
Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (16/7).
Melalui rangkaian riset di Daerah Aliran Sungai (DAS)
Mahakam dan Kapuas, ia menjelaskan bagaimana dinamika hidrologi lahan basah
membentuk fungsi ekologis sekaligus menjaga keberlanjutan sistem perairan
darat.
Baca Juga
“Lahan basah dataran banjir merupakan salah satu tipe
perairan yang perlu mendapat perhatian karena peranannya sebagai komponen kunci
sistem hidrologi global, penyimpan air alami, penyangga banjir, dan habitat
beragam spesies flora dan fauna,” kata Hidayat.
Di sisi lain, lahan basah tropis juga rentan terhadap
perubahan lingkungan dan tekanan antropogenik yang berdampak pada fluktuasi
muka air ekstrem, hilangnya konektivitas dengan dataran banjir, serta
menurunnya kapasitas penyimpanan air.
Menurut Hidayat, perubahan paradigma hidrologi menekankan
pentingnya interaksi spasial dan temporal antar komponen hidrologi. “Dalam
sistem tropis, banjir musiman tidak selalu dipandang sebagai gangguan, tetapi
sebagai mekanisme ekologis yang mengatur ritme kehidupan,” ujarnya.
Berangkat dari konsep flood pulse, yakni banjir
musiman yang menjadi bagian alami dari siklus kehidupan ekosistem, riset yang
dilakukan di DAS Mahakam dan Kapuas kemudian dikembangkan menjadi pendekatan connected
hydrology atau hidrologi terhubung yang menekankan keterkaitan fungsional
antara sungai, rawa, dan danau dalam mengatur siklus air.
Penelitian tersebut berpusat pada pemahaman proses hidrologi
yang mengatur dinamika genangan, interaksi sungai dengan dataran banjir, serta
fungsi ekologi banjir musiman melalui pendekatan multimetode, mulai dari survei
lapangan, analisis spasial, hingga pemodelan proses.
Pendekatan itu menghasilkan gambaran mengenai keterlambatan
respons hujan-limpasan akibat fisiografi dataran banjir Mahakam yang luas,
hubungan tinggi muka air dan debit, pengaruh backwater terhadap bentuk
hidrograf, hingga kendala estimasi curah hujan dan debit pada sungai besar yang
minim stasiun pengukuran permanen.
Salah satu temuan penelitian menunjukkan bahwa sekitar 30
danau di wilayah Mahakam bagian tengah berperan dalam atenuasi puncak
ketinggian air melalui mekanisme pengisian dan pengosongan danau. “Secara
alami, lahan basah bekerja sebagai sistem penyimpanan air yang mampu menahan
limpasan saat musim hujan dan melepaskannya kembali secara perlahan pada musim
kemarau,” jelas Hidayat.
Selain memperkuat pemahaman mengenai proses hidrologi,
penelitian tersebut juga menghasilkan inovasi dalam pemantauan lahan basah.
Pemanfaatan seri citra radar berhasil mengidentifikasi penggenangan pada
perairan terbuka maupun kawasan bervegetasi, memetakan frekuensi genangan,
serta menggambarkan dinamika genangan tahunan dan musiman pada sistem rawa dan
danau dataran banjir.
Pendekatan ini membuka peluang pemantauan lahan basah skala
luas meskipun pengukuran lapangan terbatas. Hidayat juga menunjukkan bahwa
radar altimetri SAR dan gabungan hasil observasi penginderaan jauh dapat
dimanfaatkan untuk memantau tinggi muka air, perubahan volume danau banjiran,
luasan genangan, dan periode lama genangan di danau dataran banjir.
Sementara itu, penerapan Artificial Neural Network (ANN)
membuktikan manfaat pendekatan pembelajaran mesin dalam memprediksi debit
sungai yang dipengaruhi pasang surut, mengatasi hubungan yang tidak linear
antara pasang surut dan debit, sekaligus membantu merekonstruksi data hidrologi
yang hilang.
Penelitian di Danau Sentarum, salah satu situs lahan basah
Ramsar di Indonesia, juga menunjukkan hubungan erat antara dinamika hidrologi
dengan dinamika sedimen dan nutrien, produktivitas habitat perairan, migrasi
dan siklus reproduksi, serta keragaman jenis biota.
Keanekaragaman spesies di kompleks danau dataran banjir
dapat dijelaskan melalui hubungan antara ketinggian air, hidrologi, habitat,
produktivitas perairan, dan migrasi sebagaimana dicontohkan dalam konsep flood
pulse.
Dengan demikian, konsep yang semula berkembang pada sistem
sungai besar seperti Amazon dan Kongo terbukti relevan secara kuantitatif pada
sistem lahan basah tropis Indonesia.
Dari keseluruhan penelitian tersebut, Hidayat merangkum lima
kontribusi utama, yakni pemahaman baru mengenai dinamika hidrologi tropis,
inovasi metodologis dalam pemetaan dan pemodelan genangan, fondasi empiris
proses lahan basah Kalimantan, integrasi hidrologi dan ekologi untuk konservasi
serta kebijakan, serta kontribusi terhadap pengembangan hidrologi lahan basah
tropis di tingkat global.
Ia menekankan fluktuasi genangan musiman dan konektivitas
hidrologi lateral antara sungai, rawa, dan badan air dataran banjir merupakan
mekanisme fundamental yang mengatur fungsi ekosistem, ketersediaan air, serta
produktivitas hayati.
Karena itu, pengelolaan lahan basah perlu mengintegrasikan
proses fisik, biogeokimia, ekologi, dan sosial untuk mendukung kebijakan tata
ruang, adaptasi perubahan iklim, serta ketahanan air nasional. “Dalam konteks
nasional, lahan basah tropis memainkan peran strategis dalam ketahanan air,
mitigasi bencana hidrometeorologi, dan konservasi keanekaragaman hayati,”
tandasnya. (tnt)
