Logo Porosbumi
13 Jul 2026,
13 July 2026
LIVE TV

Gundah Rafa, Qori Cilik Berprestasi dari Keluarga Miskin Tak Lolos SPMB Jakarta

Hendri Irawan 12 Jul 2026, 08:10:14 WIB
Gundah Rafa, Qori Cilik Berprestasi dari Keluarga Miskin Tak Lolos SPMB Jakarta

SUARA merdu nan syahdu bocah mengaji sayup terdengar di sebuah musola kecil, di Kampung Jelambar, Jakarta Barat, malam itu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.15 Wib. Sejumlah orang dewasa berikut bocah yang mengaji tadi, seolah enggan bergeser dari teras musola.

"Kita sudahi dulu belajar mengajinya malam ini. Sudah larut malam, nanti besok-besok kita sambung lagi. Rafa istirahat dulu, jangan lupa mengulang hafalan ayat-ayat yang dibaca tadi, kata ustad Ahmad Mubarok, guru mengaji si bocah yang bernama lengkap Rafa Saputra, 13.

"Iya Pak Ustad, saya juga sudah ngantuk banget ini," jawab Rafa sambil tersenyum, pamit pulang dan mencium tangan ustad Mubarok, yang dikenal sebagai salah satu qori andalan di Jakarta.

Sudah beberapa malam terakhir, Rafa Saputra, warga Jalan Jelambar Selatan 7, Jakarta Barat, digembleng mengaji oleh ustad Mubarok. Belajar mengaji rutin diikuti Rafa, guna persiapan untuk mengikuti lomba mengaji piala Gubernur DKI tingkat kota Jakarta Barat.

Diketahui, Rafa melaju lomba mengaji ke tingkat kota, setelah lolos juara 1 secara berjenjang, mulai tingkat Kelurahan Jelambar Baru sampai tingkat Kecamatan Grogol Petamburan.

Namun, di tengah semangatnya untuk mengikuti lomba mengaji, ada sedikit kegundahan yang ia alami. Rafa yang sudah lulus SD ini, ternyata belum tahu mau meneruskan ke sekolah mana.

Ini karena, bocah berprestasi ini tidak lolos Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMP. "Kalau tidak diterima di sekolah negeri, masuk pondok (pesantren) aja," ujar Rafa polos.

Setelah berucap pelan dan sedikit tersenyum, tetiba raut wajah rafa terlihat gundah. Pandangannya menerawang seolah hendak menembus dinding tembok musola Nuruk Hikmah, tempat biasa ia belajar mengaji.

Diketahui, selain pintar mengaji, Rafa juga kerap menjadi muazin dan menjadi MC saat Jumatan di masjid sekitar tempat tinggalnya. Bahkan, buah hati Romani dan Siti ini, menjadi salah satu qori di grup Marawis Yayasan Ihsan Nur, Jakarta Barat.

Karena bakat mengajinya, Rafa yang pernah meraih juara 2 lomba mengaji antar pelajar tingkat kota Jakarta Barat, yang diadakan Dinas Pendidikan DKI pada 2026, kerap diundang menjadi qori di banyak acara, terutama pengajian majelis taklim, perkawinan dan acara lainnya.

Menyadari bakat dan prestasi Rafa, sang ayah, Romani tentu sangat bersyukur dan bangga. Namun kebanggaannya seolah sirna, manakala melihat sang anak belum mendapatkan sekolah yang diinginkannya.

"Saya dan istri sudah mencoba ikutkan Rafa SPMB jalur prestasi non akademik tidak lolos, jalur KJP juga tidak lolos. Jalur domisili apalagi, tidak lolos juga. Karena di Kelurahan Jelambar Baru tidak ada SMP, jadi domisilinya ikut sekolah di kelurahan lain, dan pastinya sulit untuk lolos," keluh Romani, yang terlihat sangat gundah.

Romani seperti sudah patah arang akan nasib anaknya. Terlebih, mengingat Senin (13/7/2026) besok, anak-anak di Jakarta sudah masuk sekolah. "Kalau memang Rafa tidak bisa masuk sekolah negeri, ya kemungkinan mondok (masuk pondok pesantren)," ucap Romani pelan dan nada bicaranya terlihat berat, bahkan bisa dikatakan penuh dengan kebimbangan.

Kebimbangan Romani cukup beralasan. Salah satunya, karena memikirkan biaya untuk sekolah sang anak. Apalagi kesehariannya ia hanya bekerja sebagai driver ojek online, dan istrinya yang tengah hamil hanya ibu rumah tangga.

Namun sebagai orang tua, Romani menegaskan dirinya tidak mungkin lepas tangan akan masa depan sekolah anaknya. Apapun akan ditempuhnya, agar anaknya bisa bersekolah seperti anak-anak yang lain. "Ini (menyekolahkan anak) tanggungjawab saya sebagai orang tua," ucapnya dengan tatapan menerawang.

Di tengah keterbatasannya, Romani sendiri sebenarnya sudah menempuh berbagai cara agar anaknya bisa sekolah. Ia tak segan bertanya dengan keluarga dan warga di lingkungan tempat tinggalnya, termasuk mengadukan nasib anaknya ke pihak RT dan pengurus musola Nurul Hikmah, Jelambar Baru.

Bahkan, ia sudah bertanya dan mencari tahu ke sejumlah sekolah swasta dan pondok pesantren di Jakarta, tentang bagaimana caranya anaknya bisa sekolah di sana, tentu dengan biaya murah dan jjka bisa gratis. Tapi lagi-lagi, besarnya biaya masuk sekolah tetap menjadi masalah utamanya.

"Sekolah swasta di Jakarta biayanya mahal-mahal, pondok pesantren juga begitu. Tapi saya akan tetap berusaha, sekalipun harus mencari pinjaman untuk biaya sekolah anak saya," tegasnya.

Romani berucap, pengurus musola Nurul Hikmah juga tidak tinggal diam. Karena melihat prestasi dan bakat Rafa yang mumpuni, pengurus musola terus berusaha mencarikan sekolah terutama pondok pesantren yang bisa menerima Rafa.

"Ada ustad ngajinya Rafa yang nawarin masuk pondok pesantren di daerah Kosambi, Tangerang. Tapi saya belum tau berapa biayanya. Ada juga tetangga saya yang temannya menyarankan masuk sekolah rakyat yang dibuat oleh Presiden Prabowo. Cuma saya bingung bagaimana caranya," tandasnya.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```