BRIN Ungkap Penyebab Embun Upas di Dieng dan Cara Mengantisipasinya
FROST di
Dataran Tinggi Dieng yang dikenal sebagai embun upas atau embun es terjadi
karena posisi geografis dan topografinya berada pada ketinggian sekitar 2.000
meter di atas permukaan laut. Sehingga, wilayah Dieng memiliki tekanan dan
kerapatan udara yang lebih tipis.
Bukan itu saja, menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset
Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris
Pramudia, banyak faktor penyebab sehingga embun upas ini terjadi. Selain karena
tiupan angin pada puncak musim kemarau yang membawa udara dingin, langit cerah
atau clear sky tanpa tutupan awan juga menjadi penyebabnya.
“Bentuk wilayah yang cekung juga menyebabkan udara mengendap
dan terjebak di dasar cekungan, sehingga tidak dapat mengalir keluar dari
cekungan,” jelasnya, dalam Webinar Series ORKM bertajuk “Urgensi Mempertahankan
Salju Dieng-Cartenz sebagai Indikator Ekosistem & Lingkungan”, Kamis (9/7).
Baca Juga
Aris mengemukakan penyebab lainnya, seperti adanya kondisi
angin tenang pada dini hari dan terjadinya penurunan suhu ekstrem hingga
mencapai titik beku. Frost di dataran tinggi Dieng ini telah
mengakibatkan kerusakan pada tanaman pertanian setempat, terutama tanaman
kentang dan tanaman sayuran lainnya.
Untuk itu, Aris memberikan pemahaman tentang pentingnya
antisipasi dalam penanganan frost. Mulai dari water sprinkling,
yaitu dengan menyemprotkan air ke pertanaman, lalu pemanasan langsung pada
tanaman dalam skala luas tertentu, mengaduk udara atau meniupkan angin buatan
untuk menciptakan sirkulasi udara, memberi naungan pada tanaman, memilih tempat
yang aman untuk menanam, hingga pemberian mulsa atau material penutup permukaan
tanah yang digunakan untuk menjaga kelembapan, mencegah gulma (tanaman liar),
dan menjaga suhu tanah.
“Di dataran tinggi Dieng, tanaman existing adalah tanaman
pertanian hortikultura atau perkebunan dataran tinggi, seperti kentang,
sayuran, teh, dan lainnya. Sehingga, disarankan untuk tetap mengembangkan
tanaman existing tersebut dengan adanya antisipasi terhadap munculnya
frost pada waktu-waktu tertentu,” ungkap Aris.
Lebih lanjut, dalam hal pertanian potensial dan teknologi
modifikasi cuaca (TMC), Aris menyampaikan temuannya di Cartenz, Papua Tengah.
Cartenz tidak memiliki potensi untuk pertanian. Namun, tidak menutup
kemungkinan ke depannya ada pengembangan teknologi yang tepat.
Di Cartenz, tanaman yang tumbuh hanya lumut saja. Sehingga,
teknologi pengembangan pertanian di lokasi ini menunggu hasil penerapan pada
lokasi yang sering terjadi fenomena embun upas seperti di dataran tinggi Dieng.
Menurutnya, pembuatan salju melalui TMC di Cartenz sangat
diperlukan untuk pelestarian salju abadi yang kondisinya saat ini terus
menyusut. Sebaliknya, TMC salju di dataran tinggi Dieng, bukan untuk menambah
volume saljunya, melainkan untuk mengantisipasi terjadinya salju.
“Teknologi dari modifikasi cuaca di Dieng bukan untuk
menambah volume salju, tapi menjadi pembelajaran teknologi dalam hal
mengantisipasi terjadinya salju. Dan yang menjadi perhatian bersama adalah
terdapat konflik kebutuhan adanya frost di Dieng antara sektor pertanian
dan sektor pariwisata,” pungkas Aris. (mg/ed: kg, tnt)
