Asa PTPN III Merajut Kawasan Bersejarah Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia
PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN), entitas dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), terus menghidupkan kembali kawasan bersejarah Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) sebagai pusat edukasi dan penggerak ekonomi berbasis heritage.
Melalui penataan kawasan cagar budaya dan pengembangan museum gula, PT RPN mendorong pemanfaatan warisan sejarah tidak hanya sebagai objek pelestarian, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran publik dan sumber nilai tambah bagi masyarakat.
Upaya tersebut diperkuat melalui kegiatan bertema “Adaptif Bangunan Gedung Cagar Budaya untuk Mendukung Kesejahteraan Masyarakat” yang diselenggarakan melalui sinergi dan kolaborasi bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur di kompleks P3GI, Pasuruan.
Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah daerah, akademisi, serta pegiat pelestarian budaya dalam membahas strategi pemanfaatan kawasan heritage secara berkelanjutan.
Kepala P3GI, Aris Lukito, mengatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari peran strategis PT RPN sebagai holding knowledge di sektor perkebunan. “Kami ingin P3GI tidak hanya menjadi pusat penelitian, tetapi juga tempat edukasi sejarah dan teknologi gula,” ujar Aris.
Sejak ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Pasuruan pada 2020 dan meningkat menjadi cagar budaya tingkat provinsi pada 2021, kawasan P3GI terus dikembangkan secara bertahap.
Sejak 2023, revitalisasi difokuskan pada penguatan fungsi edukasi melalui museum gula serta pengelolaan kawasan berbasis pelestarian.
Pengakuan terhadap nilai historis dan intelektual P3GI juga semakin menguat, ditandai dengan arsip sejarahnya yang telah memperoleh pengakuan Memory of the World (MoW) tingkat provinsi dan tengah diajukan ke UNESCO.
Pemerintah daerah turut mengapresiasi langkah tersebut. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan, Agus Budi Darmawan, menyebut P3GI sebagai model pemanfaatan cagar budaya yang produktif.
“P3GI menjadi contoh bagaimana bangunan cagar budaya dapat dirawat dan dimanfaatkan untuk edukasi masyarakat serta generasi muda,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Cagar Budaya dan Sejarah Disbudpar Jawa Timur, Satria Devi Kurniawan, menegaskan bahwa keberhasilan pelestarian terletak pada kemampuannya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Cagar budaya bukan hanya tentang menjaga bangunan lama, tetapi bagaimana kawasan tersebut bisa hidup, bermanfaat, dan mendukung kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Melalui sinergi antara PT RPN, pemerintah, dan para pemangku kepentingan lainnya, kawasan P3GI diharapkan dapat menjadi model nasional dalam pengelolaan heritage yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus menghubungkan warisan masa lalu dengan kebutuhan masa depan.
Sejarah P3GI Pasuruan
Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, disingkat P3GI di Pasuruan, Jawa Timur,
adalah cagar budaya kolonial yang memadukan laboratorium era Belanda dan pabrik gula mini, serta menjadi lokasi Museum Gula Indonesia yang merangkum sejarah kejayaan industri gula nusantara
P3GI bertugas melaksanakan penelitian, menghasilkan mengkaji teknologi dan produk pergulaan dan pemanis bagi kemajuan masyarakat gula, khususnya petani tebu dan pabrik gula, dan memberikan bantuan teknis kepada klien.
Lembaga penelitian ini termasuk salah satu lembaga penelitian pertanian/perkebunan tertua di Indonesia dan pernah berperan besar dalam perkembangan pergulaan dunia di paruh awal abad ke-20.
P3GI pertama kali berdiri pada tanggal 9 Juli 1887 sebagai Proefstation Oostjava (POJ) dan merupakan lembaga penelitian tebu/gula ketiga yang didirikan di Jawa, setelah yang pertama di Semarang dan kedua di Kagok, Majalengka, Jawa Barat.
Pendiriannya kala itu membawa misi penelitian pemuliaan tebu untuk ketahanan terhadap penyakit sereh dan penanggulangan pengaruh perkembangan industri bit gula di Eropa.
Pada tahun 1921 berhasil dirilis kultivar klon tebu (Saccharum officinale) POJ 2878 yang secara dramatis menyelamatkan banyak industri gula dunia yang nyaris rontok akibat serangan penyakit sereh yang merajalela.
Perakitan POJ 2878 dilakukan dengan seleksi silsilah dengan salah satu tetua adalah gelagah (Saccharum spontaneum) sebagai tetua sumber ketahanan. Persilangan ini menjadi salah satu dari sedikit keberhasilan persilangan antarspesies yang berhasil pada masa itu.
POJ pada tahun 1930 juga merilis POJ 3016 yang memiliki daya hasil gula yang tinggi.
Setelah kemerdekaan RI, POJ dinasionalisasi pada tahun 1957 menjadi Balai Penyelidikan Perusahaan Perusahaan Gula (BP3G).
Statusnya dikembalikan ke keadaan sebelum perang, yaitu sebagai lembaga penelitian yang diurus dan dibiayai oleh kalangan perindustrian gula sendiri. Pengelolaannya dikendalikan oleh suatu Dewan Pembina.
Pada tahun 1987 BP3G diganti namanya menjadi yang berlaku sekarang (P3GI).
Berlokasi di Jalan Pahlawan No 25, Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan, Museum Gula Indonesia di kawasan P3GI diresmikan pada akhir April 2026. Museum ini menampilkan 3 zona tematik yang berisi perjalanan tebu dan gula dari era kolonial hingga modern.
Memiliki bangunan megah bergaya Eropa dengan perpustakaan dan laboratorium tua peninggalan Belanda yang masih terawat, pengunjung dapat melihat langsung peralatan kuno serta pabrik gula mini bersejarah di museum ini.
