Pertanian Organik Memicu Peningkatan Penggunaan Pestisida di Lahan Konvensional, Ini Penjelasannya
Sebuah paradoks yang tidak sesederhana hitam dan putih

By Yani Andriyansyah 02 Mar 2026, 19:06:30 WIB Pangan
Pertanian Organik Memicu Peningkatan Penggunaan Pestisida di Lahan Konvensional, Ini Penjelasannya

Keterangan Gambar : Lansekap pertanian organik berdampingan dengan pertanian konvensional


Organik sering terdengar seperti jawaban atas banyak persoalan pangan modern. Lebih ramah lingkungan, lebih sehat, lebih berkelanjutan. Di rak supermarket, label “organik” seolah menjadi simbol kemenangan atas pertanian kimiawi.


Namun sebuah studi yang terbit di jurnal bergengsi Science mengungkap sisi lain yang jarang dibicarakan, pertanian organik ternyata bisa memicu peningkatan penggunaan pestisida di lahan konvensional di sekitarnya. Sebuah paradoks yang tidak sesederhana hitam dan putih.


Tim peneliti dari University of California, Santa Barbara yang dipimpin Ashley Larsen ingin memahami satu hal mendasar lewat penelitiannya, apa yang terjadi ketika lahan organik semakin meluas di tengah lanskap yang didominasi pertanian konvensional

Baca Lainnya :


Fokus mereka dilakukan di Kern County, wilayah pertanian raksasa di California yang menghasilkan anggur, semangka, jeruk, tomat, hingga kentang. Dengan menganalisis sekitar 14.000 lahan selama tujuh tahun, mereka menemukan pola yang tak terduga. Lahan konvensional yang berada dekat dengan pertanian organik justru cenderung meningkatkan penggunaan pestisida, terutama insektisida.


Fenomena ini disebut sebagai “efek limpahan” (spillover effect). Kehadiran lahan organik mengubah dinamika populasi hama di sekitarnya. Serangga tak mengenal pagar atau sertifikasi. Mereka bergerak bebas, melintasi batas imajiner antara “organik” dan “konvensional”. Akibatnya, petani non-organik yang merasa lahannya lebih berisiko terhadap serangan hama mungkin memilih untuk menyemprot lebih banyak insektisida sebagai langkah antisipasi.


Penelitian ini tidak mengatakan bahwa pertanian organik buruk. Justru sebaliknya, praktik organik terbukti meningkatkan kualitas tanah, kesehatan air, dan keanekaragaman hayati. Namun dalam konteks lanskap campuran, di mana lahan organik dan konvensional berdampingan, maka dampaknya menjadi lebih kompleks.


Erik Lichtenberg dari University of Maryland menyoroti pentingnya memahami motivasi petani dalam mengambil keputusan terkait pestisida. Nilai ekonomi tanaman, tingkat kerentanan terhadap hama, serta toleransi risiko masing-masing petani memainkan peran besar. Artinya, respons terhadap hama bukan hanya soal ekologi, tetapi juga soal ekonomi dan psikologi.


Kabar baiknya, studi ini juga menawarkan jalan keluar. Salah satu strategi yang dinilai efektif adalah mengelompokkan lahan organik dalam satu kawasan, alih-alih menyebarkannya secara acak di antara lahan konvensional. Dengan perencanaan spasial yang lebih strategis, efek limpahan negatif bisa ditekan.


Pendekatan ini membuka perspektif baru, keberlanjutan bukan hanya soal metode tanam, tetapi juga soal bagaimana kita mengatur lanskap pertanian secara keseluruhan. Permintaan produk organik terus meningkat. Konsumen semakin sadar akan kesehatan dan lingkungan. Namun penelitian ini mengingatkan bahwa transisi menuju sistem pangan berkelanjutan tidak bisa dilakukan secara parsial.


Organik bukan sekadar label, tetapi bagian dari ekosistem yang lebih luas, di mana setiap keputusan di satu ladang bisa berdampak pada ladang lainnya. Pada akhirnya, pertanian berkelanjutan bukan tentang memilih satu sistem dan menolak yang lain. Ini tentang merancang lanskap yang cerdas,memahami pergerakan hama, membaca risiko, dan menyelaraskan kepentingan lingkungan dengan realitas ekonomi. Karena di dunia pertanian, seperti juga di alam, semuanya saling terhubung.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment