- Selat Hormuz Mencekam, RI Terancam, Kok Bisa? Alarm Keras untuk Transisi Energi Nasional
- Update Perang AS-Israel Vs Iran, 2 Maret 2026: Strategic Intelligence & Battle Damage Assessment
- Memantau Cuaca Secara Cepat dan Akurat Berbasis Fisika dan AI
- Kemenag RI dan British Council Perkuat Guru Bahasa Inggris Madrasah
- Pertanian Organik Memicu Peningkatan Penggunaan Pestisida di Lahan Konvensional, Ini Penjelasannya
- Pertamina Buka Mudik Gratis ke Lebih dari 15 Kota, Catat Tanggal Pendaftarannya
- MIND ID Dukung Penuh Swasembada Energi Sebagai Pilar Pembangunan
- Mineral Kritis Komponen Utama Energi Masa Depan, MIND ID Perkuat Ekosistem
- Gejolak Timur Tengah, Pertamina Prioritaskan Keselamatan Pekerja dan Perkuat Mitigasi Operasional
- Panggung Hijau di Tengah Euforia, XLSMART Sulap Konser Jadi Ajang Zero Waste Berkelanjutan
Memantau Cuaca Secara Cepat dan Akurat Berbasis Fisika dan AI
.jpg)
BANDUNG - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Guest
Lecture yang menghadirkan Prof. Hironobu Iwabuchi dari Tohoku
University, Jepang. Kegiatan yang berlangsung di Bandung, Senin (23/2) ini
membahas pemantauan awan dan cuaca menggunakan satelit meteorologi geostasioner
melalui pendekatan berbasis fisika (physics-based) dan kecerdasan buatan
(AI-based retrievals).
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus
Sulaiman, menyampaikan bahwa materi penggunaan satelit dalam memprediksi
perubahan cuaca penting untuk dipelajari.
“Kami melihat integrasi pendekatan fisika dan kecerdasan
buatan dalam pengolahan data satelit merupakan arah masa depan riset atmosfer.
Indonesia sebagai negara maritim dan tropis sangat membutuhkan teknologi
pemantauan cuaca yang cepat dan akurat,” kata Albertus.
Baca Lainnya :
- Pertanian Organik Memicu Peningkatan Penggunaan Pestisida di Lahan Konvensional, Ini Penjelasannya0
- Waspada! Polusi Udara Bisa Mengancam Kesehatan Otak di Usia Senja0
- Mengapa Garam Bisa Meningkatkan Tekanan Darah? Begini Penjelasannya dan Cara Mengatasinya0
- Kemenag Gelar Sidang Isbat, Ikhtiar yang Memadukan Sains dan Syariat Menentukan Awal Ramadan 2026 0
- Baterai Kalsium Siap Menantang Litium, Jadi Alternatif Energi Terbarukan Masa Depan0
Penguatan kapasitas analisis data satelit, khususnya untuk
pemantauan awan, hujan ekstrem, dan dinamika uap air, menjadi krusial dalam
mendukung sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi.
“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperluas
jejaring kolaborasi internasional serta memperkaya perspektif peneliti dan
mahasiswa dalam mengembangkan inovasi di bidang iklim dan atmosfer,” katanya.
Selanjutnya, Hironobu Iwabuchi menjelaskan satelit
Himawari-8/9 dapat menangkap perubahan kondisi langit dan pergerakan awan.
Satelit Himawari tidak digunakan untuk menangkap gambar biasa, tetapi dengan
menggunakan sinar inframerah di dalamnya. Sehingga, gambar yang dihasilkan
menjadi gambar data radiasi.
Satelit Himawari menghasilkan data-data seperti kecerahan (albedo),
suhu pancaran, serapan uap air, dan tekstur spasial/pola awan. Dengan data-data
tersebut, para ilmuwan menggunakan perhitungan untuk memprediksi cuaca yang
akan datang.
Meski prediksi yang dihasilkan cukup akurat, tetapi
perhitungan yang rumit tersebut ternyata membutuhkan waktu 100 jam menggunakan
10 central processing unit (CPU).
“Untuk satu piksel, analisis ini dapat memakan waktu 10
milidetik dan kita harus menghitung model fisika untuk setiap piksel. Sedangkan
untuk satu disk penuh, kita memiliki banyak piksel, sekitar 36
juta piksel di dalamnya. Proses ini membutuhkan 10 CPU dan prosesnya tetap
sangat lambat,” terangnya.
Convolutional Neural
Network (CNN) yang merupakan
teknologi prediksi cuaca berbasis AI memiliki data dari Satelit
Calipso/Cloudsat sebagai referensi pola perubahan awan untuk memprediksi cuaca.
Berbeda dengan metode fisika yang menghitung secara detail per partikelnya, CNN
bekerja dengan melihat pola gambar dari tekstur awan serta awan di sekitarnya
sebagai informasi penunjang.
“Proses yang diperlukan CNN untuk memberikan prediksi
berdasarkan bentuk atau pola perubahan awan hanya memakan waktu 40 detik.
Sehingga, ini menjadi kemajuan pesat dari metode sebelumnya,” jelas Hironobu.
“Berbeda dengan metode sebelumnya, yang mana, diperlukan
perhitungan pixel by pixel (PHP), karena CNN berpegang
terhadap pola dan struktur awan, waktu yang dibutuhkan hanya 40 detik,”
tandasnya. (ds,cz/ed:nu, tnt)
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

