Indonesia Kaya Potensi Geopark, Butuh Riset dan Pengelolaan Berkelanjutan
PENGEMBANGAN geopark di Indonesia
terus menunjukkan kemajuan signifikan, baik dari sisi jumlah maupun pengakuan
internasional. Namun, di balik capaian tersebut, terdapat tantangan serius yang
perlu menjadi perhatian, terutama terkait kualitas pengelolaan, riset, serta
keberlanjutan kawasan geopark.
Sam Permanadewi, Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Sumber
Daya Geologi (PRSDG), menegaskan bahwa geopark tidak semata-mata diperuntukkan
bagi aktivitas ekstraktif, melainkan sebagai kawasan yang melestarikan,
menjelaskan, dan mempromosikan bumi dalam kerangka warisan geologi atau
geoheritage. Dengan kekayaan geodiversitas yang berada di atas rata-rata dunia,
Indonesia memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan aspek geologi, hayati,
dan budaya dalam pengembangan geopark.
“Kecantikan warisan geologi dan geopark itu adalah sejarah
bumi bertaraf internasional yang berkaitan erat dengan aspek hayati dan budaya
setempat. Untuk menemukan hubungan itu tentu diperlukan kajian mendalam, atau
dengan kata lain, riset,” ujar Sam dalam Webinar DIGDAYA #21: Pengelolaan
Sumber Daya Bumi Berkelanjutan, yang diselenggarakan oleh PRSDG - Organisasi
Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, pada Selasa (21/4) hybrid, di Kawasan
Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun.
Baca Juga
Dalam paparannya dengan tema “Geopark Indonesia dan
Pengembangannya”, Ia menjelaskan, berbagai riset telah dilakukan untuk
mengidentifikasi geosite bernilai internasional, termasuk di Belitung Timur,
Silokek (Sumatera Barat), dan Bojonegoro (Jawa Timur) sebagai bagian dari
usulan menuju UNESCO Global Geopark. Riset tersebut melibatkan kolaborasi
lintas pihak, mulai dari pengelola geopark, pemerintah daerah, hingga perguruan
tinggi lokal seperti Universitas Bojonegoro, UPN, dan UNP Padang.
Lebih lanjut, Sam mengingatkan bahwa status geopark global
tidak hanya membawa prestise, tetapi juga kewajiban. Salah satunya adalah
pembayaran iuran tahunan kepada UNESCO yang nilainya tidak kecil dan kerap
menjadi tantangan bagi daerah.
“Keuntungan geopark global itu bukan langsung berupa
pemasukan finansial. Manfaat utamanya adalah promosi internasional. Indonesia
dipromosikan sebagai negara yang memiliki kawasan bernilai dunia, tetapi setiap
tahun tetap ada kewajiban iuran,” jelasnya.
Menurutnya, tidak semua daerah harus berorientasi pada
status internasional. Jika pariwisata dan pengelolaan geopark nasional sudah
berjalan baik, manfaatnya tetap dapat dirasakan oleh masyarakat tanpa beban
tambahan.
“Yang terpenting adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga
lingkungannya. Ketika masyarakat tahu nilai geologi daerahnya, mereka akan
merawat, mengembangkan atraksi, dan pada akhirnya pariwisata tumbuh secara
alami,” tambah Sam.
Menutup diskusi, moderator Prahara Iqbal menegaskan bahwa
pengembangan geopark ke depan tidak boleh hanya berfokus pada jumlah dan
pengakuan, melainkan juga kualitas pengelolaan dan keberlanjutan. Ia berharap
diskusi ini dapat memperkuat pemahaman bahwa geopark adalah investasi
pengetahuan dan lingkungan, sekaligus warisan bagi generasi mendatang.
“Geopark harus menjadi ruang pembelajaran bersama, bukan
sekadar label. Sinergi antara riset, pemerintah, pengelola, dan masyarakat
menjadi kunci agar geopark benar-benar memberi manfaat jangka panjang,” ujar
Peneliti Ahli Muda PRSDG. (kg/ed:jml)
