Selat Hormuz Mencekam, RI Terancam, Kok Bisa? Alarm Keras untuk Transisi Energi Nasional
Indonesia punya superpower luar biasa, Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang melimpah ruah

By Yani Andriyansyah 05 Mar 2026, 00:11:40 WIB Energy & Mining
Selat Hormuz Mencekam, RI Terancam, Kok Bisa? Alarm Keras untuk Transisi Energi Nasional

Langit di atas Teluk Persia kembali memerahDunia lagi deg-degan nih. Serangan militer ilegal” Israel dan Amerika Serikat (AS) yang merenggut nyawa pemimpin tertinggi Iran memicu kegaduhan global. Tapi buat Indonesia, ada drama yang lebih besar, transisi energi nasional kita lagi diuji.


Bayangin, gara-gara serangan udara dan rudal yang bikin geger Sabtu (28/2/2026) pagi, Iran langsung gercep menutup Selat Hormuz. Jalur vital ini bukan sembarang selat. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia dan nyaris 20% gas alam cair (LNG) global lewat sini. Gila, kan


Transisi Bersih, sebuah lembaga penggerak energi bersih, langsung bilang, ini bukti nyata betapa rapuhnya sistem energi global yang masih bergantung sama fossil fuel. Harga minyak langsung melonjak, biaya logistik naik gila-gilaan, dan inflasi? Jangan ditanya. Ancaman ini membayangi banyak negara, termasuk Indonesia.

Baca Lainnya :


Direktur Eksekutif Transisi Bersih, Abdurrahman Arum, blak-blakan bilang, situasi ini bukan cuma soal geopolitik. Indonesia itu rapuh banget sama guncangan global, ujarnya.


Kenapa? Karena kita masih ketergantungan banget sama impor minyak dan harga energi fosil yang naik turun kayak roller coaster. Harga energi naik itu langsung nyentuh kantong kita semua. Produksi makanan jadi mahal, negara jadi makin pusing atur anggaran, dan yang paling kasihan, rakyat kecil makin tercekik, jelas Rahman saat ngobrol di Jember, Rabu (4/3/2025) lalu.


Intinya, kata dia, krisis Timur Tengah ini alarm keras. Selama kita masih nempel sama energi fosil impor, ekonomi dan ketahanan pangan kita bakal terus dihantui konflik global. Tiap ada keributan di Teluk Persia, pasar langsung gempa. Dampaknya? Bukan cuma energi, tapi juga harga pangan, transportasi, pupuk, sampai-sampai bikin stabilitas sosial kita goyang.


EBT, Senjata Rahasia Indonesia yang Terlupakan


Di tengah ketidakpastian ini, Indonesia itu sebenarnya punya superpower luar biasa, Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang melimpah ruah. Ini bukan cuma angka di atas kertas, tapi ini masa depan kita buat jadi negara mandiri energi, ekonomi kuat, dan lingkungan lestari.


Coba lihat datanya. Energi surya, lebih dari 3.000 GW. Matahari bersinar sepanjang tahun, kenapa enggak kita manfaatin maksimal? Lalu panas bumi, sekitar 24 GW. Indonesia duduk di atas cincin api, sumber panas bumi berlimpah. Kemudian ada hidro, lebih dari 90 GW. Sungai-sungai besar Indonesia yang mengalir dai Sumatera hi ngga Papua bisa jadi pemasok energi bersih. Tak ketinggalan angin yang bisa menyumbang sekitar 60 GW. Cocok banget buat negara kepulauan kayak Indonesia.




Plus, bioenergi dan energi laut yang juga gede banget potensinya namun belum banyak tersentuh. Tapi sedihnya, sampai sekarang, Indonesia masih bergantung sama batu bara. Potensi EBT kita raksasa, tapi realisasinya kerdil. Masalahnya bukan di sumber daya atau teknologi, tapi di arah kebijakan, insentif, dan nyali transformasi struktural, kata Sisdjiatmo K Widhaningrat, peneliti senior Transisi Bersih.


Sisdjiatmo menunjuk hidung siapa yang salah, politik-ekonomi. Subsidi energi fosil yang bikin nagih, investasi yang cuma fokus ke pembangkit batu bara, regulasi yang plin-plan, dan duit hijau yang susah didapat. Selama energi fosil masih dimanja, EBT kita bakal jalan di tempat. Butuh konsistensi regulasi, reformasi insentif fiskal, dan harga listrik EBT yang bikin investor ngiler tapi tetap ramah di kantong rakyat,” tegasnya.


Ini Waktunya Bertindak, Bukan Menunda


Krisis global itu seringkali jadi pembuka jalan buat perubahan besar. Pemerintah Indonesia harus menggunakan momentum ini buat ngebut implementasi peta jalan transisi energi. Jangan cuma panik terus nambah subsidi fosil lagi.


Di abad 21 ini, ketahanan nasional itu bukan lagi soal berapa banyak cadangan minyak kita. Tapi soal seberapa kuat kita bangun sistem energi bersih, mandiri, dan tahan banting dari krisis. 


Transisi Bersih mengajak pemerintah dan DPR perlu mengambil langkah beranimenjadikan krisis ini sebagai titik balik kebijakan energi IndonesiaTarget EBT harus lebih ambisius dan mengikat. Gaspol, jangan setengah-setengahStop ekspansi PLTU batu bara baru. Sudah cukupPercepat reformasi regulasi dan pembiayaan EBT. Bikin investor nyaman, bikin rakyat senangDorong partisipasi masyarakat dan daerah. Energi berbasis komunitas itu keren.


Intinya, transisi energi itu bukan pilihan, tapi keharusan sejarah. Sumber daya sudah ada di depan mata. Yang dibutuhkan sekarang cuma satu, keberanian politik untuk mengubah arah pembangunan menuju masa depan yang lebih berdaulat dan berkelanjutan. Ayo, Indonesia bisa!




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment