- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
Ketika kita masuk angin, bukan hanya virus yang penting diperhatikan, tetapi bagaimana tubuh meresponsnya

Keterangan Gambar : Ilustrasi pasien terserang flu (gambar dibuat menggunakan AI)
Dalam sebuah studi terbaru yang dilakukan para peneliti di Yale School of Medicine, ditemukan fakta bahwa sistem pertahanan tubuh memainkan peran besar untuk menentukan apakah kita sakit atau tidak karena flu biasa, dan seberapa buruk gejalanya. Artinya, ketika kita masuk angin, bukan hanya virus yang penting diperhatikan, tetapi bagaimana tubuh meresponsnya.
Penelitian menyebutkan, penyebab paling umum dari pilek adalah virus yang disebut rhinovirus. Virus ini menginfeksi sel-sel yang melapisi hidung kita. Hal ini juga diketahui menyebabkan masalah yang lebih serius bagi penderita asma dan kondisi paru-paru lainnya. Sampai sekarang, para ilmuwan tidak sepenuhnya memahami apa yang terjadi pada tingkat sel ketika virus ini memasuki hidung.
Baca Lainnya :
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara0
- Riset BRIN Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa–Sumatra Tertinggi0
- Agroforestri, Memadukan Pertanian dengan Restorasi Hutan0
- Mengulik Pertanian Molekuler Tanaman di Era Bioekonomi untuk Ketahanan Pangan Masa Depan0
- Sejumlah Peneliti Mengembangkan Platform AI untuk Membantu Ketahanan Pangan 0
Untuk mempelajari lebih lanjut, seperti dilansir laman Knowridge, tim peneliti yang dipimpin Dr Ellen Foxman menciptakan model jaringan hidung manusia yang tumbuh di laboratorium. Mereka menumbuhkan sel induk hidung manusia dalam kondisi khusus selama empat minggu.
Sel-sel berkembang menjadi jaringan yang terlihat dan bertindak seperti bagian dalam hidung manusia. Jaringan ini bahkan termasuk sel penghasil lendir dan sel dengan silia—struktur kecil seperti rambut yang memindahkan lendir keluar dari paru-paru. Model jaringan yang tumbuh di laboratorium ini memberi para ilmuwan pandangan yang jelas tentang bagaimana sel-sel di hidung bereaksi ketika mereka bersentuhan dengan rhinovirus. Tidak seperti kultur sel standar yang digunakan di banyak laboratorium, model ini lebih mirip dengan apa yang terjadi dalam tubuh manusia.
Tim menemukan bahwa ketika rhinovirus memasuki lapisan hidung, sel dengan cepat melepaskan protein yang disebut interferon. Interferon ini membantu menghentikan virus agar tidak berkembang biak. Mereka mengirim sinyal ke sel-sel terdekat untuk mempersiapkan pertempuran, menciptakan lingkungan di mana virus tidak dapat menyebar dengan mudah. Sistem pertahanan ini dimulai sangat awal—bahkan sebelum sistem kekebalan tubuh terlibat.
Ketika para peneliti memblokir respons interferon di laboratorium, virus menyebar jauh lebih mudah dan menyebabkan kerusakan pada jaringan hidung. Ini menunjukkan bahwa respons interferon yang cepat sangat penting untuk menghentikan virus di jalurnya.
Menariknya, penelitian ini juga menemukan fakta, begitu virus mulai menyebar dan pertahanan interferon terlalu lambat atau lemah, respons tubuh lainnya mengambil alih, termasuk produksi lendir ekstra dan peradangan, yang dapat memperburuk gejala dan menyebabkan masalah pernapasan. Respons selanjutnya adalah apa yang biasanya kita rasakan saat masuk angin, seperti hidung tersumbat dan batuk.
Para peneliti percaya bahwa temuan-temuan ini dapat mengarah pada perawatan baru. Alih-alih menargetkan virus itu sendiri, obat flu di masa depan mungkin berfokus pada peningkatan mekanisme pertahanan awal tubuh, seperti respons interferon. Hal ini dapat membantu menghentikan pilek sebelum berkembang sepenuhnya.
Studi ini juga menyoroti bahwa respons kita terhadap virus mungkin lebih penting daripada virus itu sendiri sebelum jatuh sakit. Ide ini dapat mengubah cara kita berpikir dan mengobati infeksi virus, tidak hanya pilek tetapi juga yang lainnya.
Meskipun jaringan yang tumbuh di laboratorium yang digunakan dalam penelitian ini tidak mencakup setiap jenis sel yang ditemukan dalam tubuh yang hidup—terutama sel kekebalan tubuh—temuan tersebut masih memberikan wawasan yang berharga. Langkah selanjutnya adalah mengeksplorasi bagaimana berbagai jenis sel dan faktor lingkungan di dalam hidung kita memengaruhi sistem pertahanan ini.
Penelitian ini menunjukkan betapa kompleks dan kuatnya pertahanan alami tubuh kita dan membuka pintu untuk cara-cara baru yang menarik untuk mengobati atau bahkan mencegah infeksi virus umum seperti pilek.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

