PUMMA, Alat Deteksi Tsunami Murah dan Realtime
UNTUK memperkuat sistem peringatan
dini tsunami nasional (InaTEWS) yang dimiliki BMKG, Badan Riset dan Inovasi
Nasional (BRIN) bersama mitra nasional dan internasional mengembangkan alat
bernama PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut). Berbeda dengan sistem
konvensional yang mengandalkan pemodelan gempa, PUMMA langsung mencatat
dinamika muka air laut secara real time.
“Jadi gempanya dicatat, kemudian tsunaminya dimodelkan.
Sementara PUMMA ini langsung mencatat tsunaminya. Jadi tanpa pemodelan, dia
secara real time langsung mencatat tsunaminya," jelas Semeidi Husrin,
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN, Senin (6/4).
PUMMA dinilai sangat cocok untuk kondisi geografis
Indonesia, terutama di bagian timur yang terdiri dari banyak pulau kecil yang
berperan sebagai "natural offshore bouys". PUMMA dapat dipasang di
pesisir yang dekat dengan sumber bencana.
Baca Juga
Untuk kasus gempa terbaru di Maluku Utara, alat ini bisa
dipasang di dua pulau kecil terdekat dari episenter, yakni Pulau Maju dan Pulau
Batang Dua. “Alat ini bisa dipasang di dua pulau kecil ini sehingga dia bisa
membantu lebih cepat untuk deteksi dini tsunaminya,” tambahnya.
Semeidi mengungkapkan bahwa PUMMA sudah beroperasional
selama 6 tahun di Selat Sunda dan kini memasuki tahun ke-7. Alat yang dipasang
di Pulau Rakata, kompleks Gunung Api Anak Krakatau, menjadi satu-satunya sistem
monitoring peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda dan di Indonesia saat
ini.
“PUMMA saat ini di Selat Sunda terpasang dengan baik di
Pulau Rakata, kompleks Gunung api Anak Krakatau yang merupakan satu-satunya
sistem atau alat yang melakukan informasi monitoring dan sistem peringatan dini
volcano-tsunami di Selat Sunda saat ini,” kata Semeidi.
Selain dukungan penuh dari BMKG, keberadaan PUMMA (secara
internasional dikenal dengan IDSL, Inexpensive Device for Sea Level
measurement) di Krakatau juga didukung oleh banyak pihak seperti BAKTI Kominfo,
PT Telkomsel, BNPB, UNILA, Balawista, IATSI, Kemenhub, PVMBG, KKP dan
Pemerintah Daerah setempat, serta dari mitra internasional, Joint Research
Centre - the European Commision.
Diketahui, gempa bumi berkekuatan M 7,6 yang mengguncang
Maluku Utara baru-baru ini menjadi pengingat kembali akan tingginya aktivitas
seismik di wilayah timur Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
melalui Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) menyebut bahwa gempa tersebut
dipicu oleh sesar naik dan berpotensi menimbulkan tsunami.
“Sesuai dengan rilis resmi yang dikeluarkan oleh BMKG
sebagai otoritas peringatan dini tsunami di Indonesia, gempa bumi yang terjadi
di Maluku Utara itu adalah gempa akibat sesar naik dengan kekuatan sekitar 7,6
magnitudo dan berpotensi men-trigger tsunami,” ujar Semeidi.
Ia menambahkan bahwa tsunami memang sudah tercatat di
beberapa lokasi di sekitar episenter, meskipun ketinggiannya bervariasi dan
sebagian besar kurang dari satu meter. Namun, sejarah mencatat di lokasi yang
sama pada abad ke-19 pernah terjadi gempa besar yang memicu tsunami setinggi 15
meter.
"Sejarah pencatatan abad ke-19 juga di titik yang sama
pernah terjadi gempa yang cukup besar dan menyebabkan tsunami yang cukup besar,
catatannya bahkan mencapai 15 meter,” lanjut Semeidi.
Ancaman Tsunami Non-Gempa dan Tantangan di Hilir
Salah satu poin krusial yang disorot Semeidi adalah bahwa
tsunami tidak hanya disebabkan oleh gempa bumi, tetapi juga oleh aktivitas
gunung api dan longsor bawah laut. Peristiwa tsunami Palu 2018 dan Selat Sunda
2018 menjadi bukti bahwa sensor gempa bumi saja tidak cukup.
“Tsunami tidak hanya diakibatkan oleh gempa bumi tetapi juga
akibat aktivitas gunung api atau longsor bawah air. Aktivitas gunung api,
longsor bawah air tidak bisa dideteksi oleh sensor gempa bumi, hanya sensor
tertentu seperti sensor muka air yang dipasang dengan tepat yang bisa
mendeteksi tsunami lebih dini,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa ribuan nyawa melayang saat tsunami
Palu dan Selat Sunda karena sistem InaTEWS BMKG tidak didesain untuk kejadian
non-gempa. Oleh sebab itu, BRIN mengintensifkan implementasi PUMMA untuk
memperkuat sistem peringatan dini existing.
Tantangan terbesar lainnya adalah penyampaian peringatan di
lokasi terdampak (hilir). Meskipun BMKG mengirimkan peringatan dalam 5 menit,
sirine di daerah rawan yang terdampak belum tentu bisa menyala tepat waktu
mengingat waktu emas (golden time) evakuasi tsunami hanya sekitar 30 menit atau
bahkan kurang.
"Ini menjadi tantangan terbesar kita ke depan karena
karakteristik tsunami di Indonesia adalah tsunami jarak dekat. Jika kejadian
gempa bumi, maka tsunami bisa sampai di pesisir dalam 30 menit atau kurang dari
satu jam,” pungkas Semeidi.
Ia menekankan perlunya penguatan sistem multisensor,
perbaikan tata ruang kawasan pesisir, pemanfaatan vegetasi pantai seperti
mangrove dan cemara laut sebagai sistem pelindung hijau (greenbelt) serta
peningkatan kesiapsiagaan masyarakat untuk mengurangi risiko bencana gelombang
tsunami. (pur)
