Muswil SPI Papua Tengah Tetapkan Kepengurusan Baru dan Tiga Mandat Reforma Agraria
DEWAN Pengurus Wilayah Serikat Petani
Indonesia (DPW SPI) Provinsi Papua Tengah sukses menggelar Musyawarah Wilayah
(Muswil) perdananya di Nabire pada Jumat, 15 Mei 2026. Pertemuan akbar yang
mengusung tema “Perkuat Organisasi Petani Berjuang Untuk Reforma Agraria dan
Kedaulatan Pangan” ini berhasil merumuskan berbagai program strategis sekaligus
membentuk dan pelantikan struktur kepengurusan definitif DPW SPI Papua Tengah.
Wakil Ketua Umum SPI, Ali Fahmi mengungkapkan bahwa proses
musyawarah ini merupakan puncak dari masa persiapan panjang yang telah berjalan
selama hampir setahun lebih. Sepanjang proses tersebut, SPI secara mendalam
menggali berbagai persoalan mendasar yang dihadapi oleh para petani di wilayah
Papua Tengah.
“Masalah-masalah pokok hari ini bisa kita simpulkan bahwa di
Papua Tengah itu tidak beda jauh dengan teman-teman yang lain, terutama yang
menyangkut konflik agraria. Hari ini konflik agraria di Papua Tengah relatif
besar, baik itu masalah tapal batas, batas ulayat, masuknya perkebunan besar,
tambang, dan sebagainya yang sampai hari ini sudah perlahan-lahan tapi masif
ingin mengusir petani kita dan masyarakat sekitar kita,” kata Ali Fahmi.
Baca Juga
Ali Fahmi menegaskan bahwa bagi masyarakat adat dan petani
Papua, tanah adalah simbol kehidupan. Melalui tema reforma agraria yang
diusung, SPI berkomitmen penuh untuk mendampingi petani dalam melakukan
penataan ulang agar seluruh sumber agraria yang tersedia benar-benar dikelola
demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup rakyat, bukan untuk kepentingan
korporasi besar.
“Semangat reforma agraria itu kan sejatinya ke sana, kita
ingin menata dari yang tumpang tindih, dari yang sekadar dipindah alih fungsi
lahan dan sebagainya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Saya
pikir inilah letak soalnya. Kita ingin mengakhiri bagaimana penyelesaian
reforma agraria dan jalan reforma agraria itu ada di Papua Tengah, ini
penting,” ujar Ali Fahmi.
Guna mengimplementasikan visi tersebut, Ali Fahmi
menyampaikan tiga pesan penting yang harus segera dijalankan oleh pengurus
wilayah yang baru terbentuk. Pesan pertama berfokus pada pertahanan ruang hidup
petani melalui proses identifikasi wilayah kelola.
“Segera lakukan identifikasi. Pastikan tanah-tanah yang hari
ini sudah dikuasai itu dipertahankan. Itu penting apapun ceritanya. Kalau kita
bicara petani, kalau ruang hidup masalah tanah agraria itu diambil alih atau
bergeser menjadi perkebunan besar, ya tidak ada lagi petani,” ucap Ali Fahmi.
Langkah kedua yang disepakati dalam program kerja adalah
penguatan pilar ekonomi petani melalui koperasi. Ali Fahmi menilai potensi
hasil pertanian di Papua Tengah sangat melimpah, namun selama ini rantai
ekonominya masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terorganisasi dengan
optimal.
“Segera bangun kekuatan ekonomi melalui koperasi. Bangun
usaha-usaha kolektif karena hasil-hasil pertanian kita luar biasa, tapi hari
ini tidak terkonsolidasi dengan baik menjadi usaha bersama atau usaha kolektif.
Usaha kolektif tentu yang menikmati adalah petani sebagai produsen. Hari ini
masih berserak, ini harus kita tata bagaimana sumber-sumber ekonomi yang sudah
disediakan alam kita ini dipelihara dengan baik, kemudian didistribusikan dan
sebagainya sehingga itu menjadi kekuatan ekonomi yang nyata bagi masyarakat
kita yang ada di sini,” tutur Ali Fahmi.
Pesan ketiga yang menjadi sorotan utama adalah perwujudan
kedaulatan pangan, di mana Papua Tengah diharapkan mampu mandiri secara pangan
tanpa harus bergantung pada pasokan komoditas dari luar daerah.
Ali Fahmi menekankan pentingnya mengoptimalkan pangan lokal
seperti ubi, sekaligus membenahi kendala budidaya dan serangan hama ulat yang
belakangan ini menurunkan produktivitas. “Kita berharap melalui SPI, organisasi
kita itu, memastikan pangan ini harus kita produksi sendiri. Tidak ada lagi
pangan yang dari luar.”
“Resource kita di Papua, teman-teman Papua Tengah,
luar biasa masalah ubi dan sebagainya, cuma ini harus kita kelola sehingga
petani dan masyarakat kita itu memang mengonsumsinya berdasarkan produk kita.
Memang dalam perjalanannya masih banyak hal yang diperbaiki tentang budidaya
kita, seperti ubi di tanah subur dan sebagainya. Kemudian ternyata kemarin
banyak mulai muncul penyakit-penyakit di ubi kita, itu harus kita benahi,” kata
Ali Fahmi.
Ia menambahkan perbaikan sistem budidaya dan rotasi tanaman
harus menjadi perhatian khusus bagi ketua terpilih demi mewujudkan cita-cita
Papua yang berdaulat atas pangannya sendiri.
Sementara itu, Ketua DPW SPI Papua Tengah terpilih, Stefen
Herict Tebai menyatakan kesiapan jajarannya untuk menjalankan mandat dan
komitmen yang telah digariskan oleh pengurus pusat. Gerakan SPI di Papua Tengah
sendiri sebenarnya sudah mengakar kuat melalui proses konsolidasi basis petani
yang intensif selama dua tahun terakhir.
“Komitmen dari DPP sampaikan, melihat dengan situasional
yang sekarang sedang terjadi dan perjuangan SPI di Provinsi Papua Tengah yang
sudah masuk dua tahu. Selama itu, kami melakukan konsolidasi dengan para
petani, termasuk yang sudah tergabung dalam kelompok-kelompok tani. Basis
inilah yang menjadi kekuatan SPI untuk mendorong reforma agraria di Provinsi
Papua Tengah,” urai Stefen Herict Tebai.
Stefen menggarisbawahi bahwa kekuatan struktural organisasi
dari tingkat wilayah, cabang, hingga ke tingkat basis mutlak diperlukan untuk
membentengi hak-hak atas tanah masyarakat adat dari kepungan investasi skala
besar yang berpotensi merugikan warga lokal.
“Saya berharap secara struktur yang ada di provinsi, baik
itu tingkat wilayah, cabang, sampai di basis itu harus kuat dalam hal menata
ulang reforma agraria itu sendiri karena tanah ini memang mama kami dan ini
kita harus selamatkan dari berbagai investasi investor luas atau asing yang
mungkin menghadang. Contohnya ada isu-isu yang sedang beredar saat ini terkait
lima puluh investasi yang secara legal dan ilegal yang mungkin sudah diizinkan
tanpa konsolidasi dengan masyarakat setempat,” kata Stefen.
Lebih lanjut, Stefen menegaskan posisi ideologis SPI Papua
Tengah sebagai organisasi perjuangan yang secara konsisten melawan arus
neoliberalisme dan kapitalisme yang kerap meminggirkan hak-hak rakyat.
Keberadaan SPI di provinsi ini diharapkan mampu menjadi saluran aspirasi yang
kuat, mengingat jaringan organisasi ini tidak hanya berskala nasional tetapi
juga terkoneksi secara global melalui gerakan petani internasional.
“Ini salah satu hal SPI adalah di mana organisasi yang salah
satu agendanya melawan neoliberalisme, dengan SPI ini kan kita bisa melakukan
mendorong aspirasi-aspirasi masyarakat setempat. Dan itu benar sekali terkait
dengan mengidentifikasi lahan atau hak-hak ulayat yang diambil alih oleh mereka
yang punya modal, SPI merupakan salah satu organisasi di Provinsi Papua Tengah
yang berperan sebagai penyambung suara petani, baik di tingkat nasional maupun
internasional. Hal ini karena SPI telah bergabung dalam La Via Campesina,
jaringan organisasi tani dari 85 negara,” ujar Stefen seraya berjanji akan
segera menyinkronkan seluruh program kerja dari pusat hingga daerah demi
kesejahteraan petani Papua Tengah.
