Logo Porosbumi
18 Mei 2026,
18 May 2026
LIVE TV

Menyalakan Spirit Kartini di Tengah Era Digital

PorosBumi 18 Mei 2026, 08:13:05 WIB
Menyalakan Spirit Kartini di Tengah Era Digital

SUARA hadrah, puisi, dan musik berpadu dalam satu ruang yang hangat dan reflektif, di selasar Gedung Makara Art Center (MAC) Universitas Indonesia (UI). Malam itu, Majelis Nyala Purnama edisi ke-12 bukan sekadar pertunjukan budaya bulanan, melainkan ruang bersama untuk merawat nilai kebangsaan, spiritualitas, serta keberagaman melalui seni dan dialog.

Kegiatan yang diadakan oleh Direktorat Kebudayaan UI bersama Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia pada Senin (11/5) tersebut, menandai satu tahun penyelenggaraan Majelis Nyala Purnama. Mengangkat tema “Menghidupkan Spirit Kartini dalam Pendidikan dan Kebangsaan Kaum Perempuan di Era Digital”, acara ini menjadi refleksi atas peringatan Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, dan menjelang Hari Kebangkitan Nasional.

Sejumlah tokoh hadir menyampaikan gagasan tentang relevansi pemikiran Kartini di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial saat ini. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, menilai Kartini sebagai sosok yang melampaui zamannya.

Menurutnya, keberanian Kartini untuk memperjuangkan akses pendidikan justru lahir ketika perempuan masih menghadapi keterbatasan besar dalam memperoleh pendidikan.

“Kartini adalah sosok pemberani, berani berpikir kritis, berani bersuara, berani memperjuangkan kemanusiaan. Ini dilakukan ketika akses pendidikan sangat terbatas. Kartini memperjuangkan agar pendidikan dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” ujar Menteri Rifa.

Senada, Wakil Ketua MPR Republik Indonesia, Dr. Lestari Moerdijat S.S, M.M., menyoroti kemampuan Kartini menerjemahkan nilai-nilai budaya Jawa ke dalam cara pandang yang memuliakan perempuan sebagai pusat kehidupan dan tatanan sosial.

Kartini mampu menerjemahkan bahwa seorang perempuan adalah pusat dan struktur karena dari perempuan, manusia lahir, dan dari perempuanlah pusat tatanan dan sistem itu bekerja. Perjuangan Kartini dalam pendidikan perempuan telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia masa kini untuk memperoleh kesempatan yang lebih luas.

Direktur Kebudayaan UI, Ngatawi Al-Zastrouw mengatakan, Kartini bukan hanya simbol emansipasi perempuan, melainkan juga tokoh kebangsaan yang menggunakan pendidikan dan jejaring internasional sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan pemikiran bangsa.

Spirit Kartini di era digital ini perlu diwujudkan melalui penguatan literasi teknologi bagi perempuan. Menurutnya, penguasaan teknologi dapat menjadi alat perjuangan intelektual sekaligus sarana mempersempit kesenjangan gender di masyarakat.

Selain membahas spirit Kartini, suasana majelis juga menghadirkan dimensi spiritual melalui refleksi yang disampaikan Pamomong Urban Spiritual Indonesia Turita Indah Setyani. Ia mengingatkan bahwa pemikiran Kartini tidak lepas dari pencarian spiritual dan pembelajaran mendalam tentang nilai-nilai Islam yang membentuk gagasan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Diskusi budaya dan kebangsaan malam itu turut diisi dengan penampilan Hadrah Banjari Assalam, Swara SeadaNya, musikalisasi puisi, tari, pembacaan puisi, hingga meditasi bersama. Seluruh rangkaian ini memperlihatkan bagaimana seni dan budaya dapat menjadi medium dialog yang menyatukan berbagai perspektif.

Selama setahun penyelenggaraannya, Majelis Nyala Purnama tumbuh sebagai ruang budaya alternatif yang tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga menghubungkannya dengan isu-isu kontemporer. Di tengah arus digital yang serba cepat, forum ini mengajak publik untuk kembali menyalakan nilai kemanusiaan, pendidikan, dan kebangsaan—nilai yang sejak lama diwariskan Kartini kepada Indonesia.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```