Menyalakan Spirit Kartini di Tengah Era Digital
SUARA hadrah, puisi, dan musik
berpadu dalam satu ruang yang hangat dan reflektif, di selasar Gedung Makara
Art Center (MAC) Universitas Indonesia (UI). Malam itu, Majelis Nyala Purnama
edisi ke-12 bukan sekadar pertunjukan budaya bulanan, melainkan ruang bersama
untuk merawat nilai kebangsaan, spiritualitas, serta keberagaman melalui seni
dan dialog.
Kegiatan yang diadakan oleh Direktorat Kebudayaan UI bersama
Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia pada Senin (11/5) tersebut,
menandai satu tahun penyelenggaraan Majelis Nyala Purnama. Mengangkat tema
“Menghidupkan Spirit Kartini dalam Pendidikan dan Kebangsaan Kaum Perempuan di
Era Digital”, acara ini menjadi refleksi atas peringatan Hari Kartini, Hari
Pendidikan Nasional, dan menjelang Hari Kebangkitan Nasional.
Sejumlah tokoh hadir menyampaikan gagasan tentang relevansi
pemikiran Kartini di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial saat
ini. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri
Fauzi, menilai Kartini sebagai sosok yang melampaui zamannya.
Baca Juga
Menurutnya, keberanian Kartini untuk memperjuangkan akses
pendidikan justru lahir ketika perempuan masih menghadapi keterbatasan besar
dalam memperoleh pendidikan.
“Kartini adalah sosok pemberani, berani berpikir kritis,
berani bersuara, berani memperjuangkan kemanusiaan. Ini dilakukan ketika akses
pendidikan sangat terbatas. Kartini memperjuangkan agar pendidikan dapat
dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” ujar Menteri Rifa.
Senada, Wakil Ketua MPR Republik Indonesia, Dr. Lestari
Moerdijat S.S, M.M., menyoroti kemampuan Kartini menerjemahkan nilai-nilai
budaya Jawa ke dalam cara pandang yang memuliakan perempuan sebagai pusat
kehidupan dan tatanan sosial.
Kartini mampu menerjemahkan bahwa seorang perempuan adalah
pusat dan struktur karena dari perempuan, manusia lahir, dan dari perempuanlah
pusat tatanan dan sistem itu bekerja. Perjuangan Kartini dalam pendidikan
perempuan telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia masa kini untuk
memperoleh kesempatan yang lebih luas.
Direktur Kebudayaan UI, Ngatawi Al-Zastrouw mengatakan,
Kartini bukan hanya simbol emansipasi perempuan, melainkan juga tokoh
kebangsaan yang menggunakan pendidikan dan jejaring internasional sebagai
bagian dari perjuangan kemerdekaan pemikiran bangsa.
Spirit Kartini di era digital ini
perlu diwujudkan melalui penguatan literasi teknologi bagi perempuan.
Menurutnya, penguasaan teknologi dapat menjadi alat perjuangan intelektual
sekaligus sarana mempersempit kesenjangan gender di masyarakat.
Selain membahas spirit Kartini, suasana majelis juga
menghadirkan dimensi spiritual melalui refleksi yang disampaikan Pamomong Urban
Spiritual Indonesia Turita Indah Setyani. Ia mengingatkan bahwa pemikiran
Kartini tidak lepas dari pencarian spiritual dan pembelajaran mendalam tentang
nilai-nilai Islam yang membentuk gagasan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Diskusi budaya dan kebangsaan malam itu turut diisi dengan
penampilan Hadrah Banjari Assalam, Swara SeadaNya, musikalisasi puisi, tari,
pembacaan puisi, hingga meditasi bersama. Seluruh rangkaian ini memperlihatkan
bagaimana seni dan budaya dapat menjadi medium dialog yang menyatukan berbagai
perspektif.
Selama setahun penyelenggaraannya, Majelis Nyala Purnama
tumbuh sebagai ruang budaya alternatif yang tidak hanya merawat tradisi, tetapi
juga menghubungkannya dengan isu-isu kontemporer. Di tengah arus digital yang
serba cepat, forum ini mengajak publik untuk kembali menyalakan nilai
kemanusiaan, pendidikan, dan kebangsaan—nilai yang sejak lama diwariskan
Kartini kepada Indonesia.
