- Mentan Amran Gaspol Jaga Swasembada, Indonesia Bersiap Ekspor Beras
- Infrastruktur Zaman Now, AHY Soroti Pentingnya Ruang Kreatif untuk Generasi Muda
- Selama Ramadan Kementan Gencar Lakukan Sidak untuk Memastikan Pasokan dan Harga Kebutuhan Pokok Aman
- Menko Pangan Dorong Aktivasi Koperasi di Candirenggo Sebagai Simpul Pangan dari Kelurahan
- Di Tengah Krisis Iklim, Norwegia Tekan Angka Deforestasi hingga Mendekati Nol
- Karbon Biru, Harta Karun Ekologis dari Pesisir untuk Masa Depan Bumi
- Di Balik Sunyi Pengabdian, Menjaga Amanah Merawat Kepercayaan
- Sensus Burung Air Serentak di Tiga Kawasan Pesisir Jakarta
- Siapa Bilang Anak Muda Ogah Terjun Jadi Petani, Kelompok Asal Sambas Ini Buktinya
- Kemendikdasmen Luncurkan Beasiswa Talenta Indonesia, Jaring Anak Muda Berprestasi
Mentan Amran Gaspol Jaga Swasembada, Indonesia Bersiap Ekspor Beras
Dari sawah ke panggung dunia

Keterangan Gambar : Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di hadapan jajaran pertanian seluruh Indonesia, memimpin Rapat Koordinasi Nasional (Rakor) Pertanian, Selasa (24/2). (dok.kementan)
Di tengah riuh tantangan global dan bayang-bayang krisis pangan dunia, sebuah optimisme menguat dari ruang Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta. Siang itu, 24 Februari 2026, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berdiri di hadapan jajaran pertanian seluruh Indonesia, memimpin Rapat Koordinasi Nasional (Rakor) Pertanian dengan nada tegas sekaligus penuh keyakinan mengatakan swasembada bukan sekadar slogan, melainkan pijakan menuju lompatan baru yakni ekspor beras.
Stok beras nasional kini berada di angka sekitar 3,5 juta ton. Angka yang tak sekadar statistik, tetapi simbol dari kerja kolektif petani, penyuluh, hingga dinas pertanian daerah. Pengadaan beras pada Januari melonjak hingga 78 persen dibanding periode sebelumnya. Produksi pun menunjukkan tren kenaikan sekitar 15 persen hingga Maret, beriringan dengan datangnya panen raya. “Kalau tren ini bertahan tiga bulan saja ke depan, hampir pasti stok kita tembus 6 juta ton. Ini belum pernah terjadi selama kita merdeka,” ujarnya optimistis.
Baca Lainnya :
- Infrastruktur Zaman Now, AHY Soroti Pentingnya Ruang Kreatif untuk Generasi Muda0
- Selama Ramadan Kementan Gencar Lakukan Sidak untuk Memastikan Pasokan dan Harga Kebutuhan Pokok Aman0
- Menko Pangan Dorong Aktivasi Koperasi di Candirenggo Sebagai Simpul Pangan dari Kelurahan0
- Karbon Biru, Harta Karun Ekologis dari Pesisir untuk Masa Depan Bumi0
- Di Balik Sunyi Pengabdian, Menjaga Amanah Merawat Kepercayaan0
Kalimat itu menggema sebagai penanda momentum. Jika konsistensi produksi terjaga hingga akhir tahun, potensi surplus bahkan diproyeksikan menembus 9 juta ton. Sebuah capaian yang, menurutnya, adalah puncak prestasi bersama namun sekaligus ujian agar tak terlena.
Dengan fondasi stok yang kian kokoh, pemerintah mulai membuka lembaran baru, menjajaki ekspor beras ke sejumlah negara sahabat seperti Filipina, Malaysia, Arab Saudi, dan Papua Nugini. Langkah ini bukan keputusan tergesa. Tetapi dibangun di atas perhitungan cadangan, tren panen, serta penguatan distribusi. Bahkan, skema ekspor langsung dari wilayah timur Indonesia ke Papua Nugini tengah didorong untuk memangkas biaya logistik dan mempercepat arus perdagangan.
Di forum internasional, Presiden Prabowo Subianto pun telah menyampaikan bahwa Indonesia berhasil menekan impor dan memperkuat swasembada pangan. Sebuah pesan yang ingin ditegaskan,Indonesia tak lagi sekadar pasar, tetapi juga pemain.
Namun bagi Mentan Amran, swasembada tak boleh bergantung pada panen sesaat. Kuncinya ada pada fondasi struktural—cetak sawah dan optimalisasi lahan (oplah). Tahun lalu, realisasi cetak sawah mencapai sekitar 200 ribu hektare. Tahun ini, targetnya meningkat menjadi 250 ribu hektare. Sementara program oplah telah berjalan ratusan ribu hektare dalam dua hingga tiga tahun terakhir, memperluas kapasitas produksi nasional secara signifikan. “Inilah yang membuat swasembada kita sustain. Minimal bertahan 5 sampai 7 tahun, bahkan bisa 10 tahun kalau berlanjut,” tegasnya.
Artinya, yang dibangun bukan sekadar surplus musiman, melainkan daya tahan produksi jangka panjang. Namun di balik kabar menggembirakan itu, masih ada dua komoditas yang menjadi perhatian serius, kedelai dan bawang putih. Dari sembilan komoditas yang telah swasembada, dua ini dinilai perlu perhatian ekstra. “Kedelai memang agak berat, bawang putih relatif lebih memungkinkan. Kita selesaikan satu per satu,” ujarnya lugas.
Target swasembada gula konsumsi pun dipasang tahun ini, sementara gula industri diharapkan menyusul dalam tiga hingga empat tahun ke depan. Agenda besar yang menuntut konsistensi kebijakan, inovasi, dan pengawasan ketat.
Di akhir rakor, nada suara Mentan Amran melunak. Ia menyebut jajaran pertanian pusat dan daerah sebagai “pahlawan pangan”—mereka yang bekerja jauh dari sorotan, namun menentukan isi piring jutaan rakyat. “Saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga. Bapak Ibu adalah pahlawan pangan yang membuat nama baik bangsa Indonesia terangkat di tingkat nasional dan global,” tegasnya.
Apresiasi itu sekaligus peringatan, momentum ini harus dijaga. Program harus dipercepat, pengawasan diperketat, dan surplus dipastikan benar-benar terkelola. “Kita putuskan hari ini. Saya mau cek satu-satu. Ini rapat sangat penting,” katanya tegas.
Di tengah ketidakpastian global, Indonesia sedang mengukir cerita berbeda. Dari sawah-sawah yang diperluas, dari panen yang kian melimpah, dari stok yang menanjak, lahir keyakinan baru bahwa swasembada bukan garis akhir, melainkan gerbang menuju peran lebih besar di panggung pangan dunia.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

