- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Banjir dan Longsor di Sumatera: 12 Komunitas Masyarakat Adat di Tano Batak Terisolir
.jpg)
TAPANULI - Sebanyak 12 komunitas
Masyarakat Adat Tano Batak yang tersebar di empat Kabupaten: Tapanuli Utara,
Humbang Hasundutan, Toba, dan Samosir mengalami dampak parah akibat banjir dan
longsor yang melanda Sumatera Utara sejak 25 November 2025.
Bencana ini juga menyebabkan 24 orang anggota komunitas
Masyarakat Adat meninggal, dua anggota komunitas lainnya hilang. Hingga kini,
nasib keduanya belum diketahui karena akses komunikasi dan jalan menuju
beberapa kampung masih terputus pasca bencana dua pekan lalu.
Di tengah kondisi darurat, dimana terjadi krisis air karena
pipanisasi yang menyalurkan air bersih rusak akibat tertimbun material tanah
longsor. Beberapa komunitas Masyarakat Adat melaporkan bantuan dari pemerintah
sangat minim. Situasi ini membuat warga bertahan secara mandiri sambil menunggu
datangnya bantuan masuk.
Baca Lainnya :
- Gakkum Kehutanan: Ada Indikasi Kerusakan di Hulu DAS yang Perparah Bencana di Hilir0
- Datang Lagi ke Aceh, Presiden Pastikan Pasokan Pangan dan Hapus Utang KUR Korban Terdampak Bencana0
- Journalist Club Dorong Pemerintah Tetapkan Banjir Longsor Sumatera sebagai Bencana Nasional 0
- Pandutani Bentuk Satgas Bantu Rehabilitasi Kehidupan Warga Terdampak Banjir dan Longsor di Sumatera0
- Sapa Anak-anak dan Dengarkan Keluhan Warga, Presiden Prabowo Tinjau Posko Pengungsian Banjir di Aceh0
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) melalui Pengurus
Wilayah AMAN Tano Batak, Pengurus Daerah AMAN Tapanuli Utara, dan Pengurus
Daerah AMAN Humbang Hasundutan bergerak cepat dengan mengorganisir dukungan
solidaritas, pendataan korban, serta pendistribusian logistik darurat.
Namun, penanganan di lapangan berjalan sangat sulit. Jalur
menuju komunitas Masyarakat Adat yang terdampak bencana terputus, membuat
distribusi bantuan terhambat.
Sejumlah warga berjalan di salah satu badan
jalan yang tergerus longsor menuju komunitas Masyarakat Adat di Tano Batak.
Dokumentasi AMAN
Kawasan Tangkapan Air Rusak
Ketua Pelaksana Harian AMAN Wilayah Tano Batak, Jhontoni
Tarihoran menjelaskan bencana yang terjadi saat ini merupakan dampak berlapis
dari kerusakan ekologis yang sudah lama terjadi di kawasan Tano Batak, terutama
akibat ekspansi industri ekstraktif dan perkebunan monokultur.
“Bencana Ini bukan jatuh dari langit. Hujan memang tinggi,
tetapi kerusakan kawasan tangkapan air, hancurnya hutan di wilayah adat, dan
pembiaran atas aktivitas industri yang menggerus ruang hidup masyarakat adalah
faktor utama yang memperparah longsor dan banjir ini,” kata Jhontoni pada
Sabtu, 6 Desember 2025.
Jhontoni menambahkan akibat bencana ini, komunitas
Masyarakat Adat kini tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga ruang hidup
masyarakat. Disebutnya, banyak Masyarakat Adat dibeberapa komunitas yang
terisolir akibat bencana ini. “Beberapa kampung tidak bisa diakses sama sekali,
itu memperlihatkan betapa rentannya wilayah adat hari ini,” imbuhnya.
Jhontoni menyatakan ditengah penanganan bencana yang saat
ini sedang berlangsung, pemerintah dituntut tidak hanya hadir membawa bantuan,
tetapi juga mengoreksi kebijakan tata ruang dan perizinan yang selama ini
mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
“Kebijakan yang salah selama ini harus dikoreksi, ini lebih
penting daripada hanya sekedar membawa bantuan,” tandasnya.
Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Tapanuli Utara Edward
Siregar menambahkan pihaknya sejak hari pertama terjadi bencana langsung
melakukan pendataan, evakuasi warga lanjut usia, anak-anak, dan keluarga yang
rumahnya hancur.
“Saat ini kami memprioritaskan evakuasi dan memastikan
kebutuhan dasar warga terpenuhi. Makanan, air, selimut, dan tempat aman menjadi
kebutuhan mendesak,” ungkapnya.
Diakuinya, masuknya bantuan mengalami perlambatan karena
akses jalan tertutup tanah longsor. Untuk mengatasi masalah ini, Edward
mengatakan pihaknya melakukan koordinasi dengan relawan dan jaringan AMAN di
berbagai daerah untuk mempercepat distribusi dukungan untuk korban bencana. “Kalau
akses dan BBM lancar, penanganan bisa jauh lebih cepat. Tapi hari ini kami
bekerja dengan segala keterbatasan yang ada,” ujarnya.
Sejumlah Masyarakat Adat di Tano Batak menerima
bantuan dari AMAN. Dokumentasi AMAN
Akses ke Komunitas Masyarakat Adat Tertutup
Longsor
Sementara itu, Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Humbang
Hasundutan, Samuel Raimondo Purba menggambarkan betapa sulitnya menembus area
yang tertutup longsoran tanah.
"Banyak jalan menuju komunitas Masyarakat Adat terputus
total. Ada lokasi yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki dua jam sambil
membawa logistik seadanya. Kendaraan tidak bisa masuk karena jalannya hilang
tersapu longsor,” ungkap Samuel.
Sebagai bagian dari tim penanganan lanjutan, penulis sebagai
relawan AMAN Tano Batak, menegaskan bahwa fokus saat ini bukan hanya bantuan
darurat, tetapi membangun jalan pemulihan jangka menengah.
“Setelah fase tanggap darurat, kita harus memastikan warga
memiliki pangan, akses air bersih, dan tempat tinggal sementara. Banyak rumah
yang sudah tidak layak huni, dan banyak warga tidur di gedung sekolah atau
numpang ke rumah keluarga,” ujarnya.
Maruli juga menekankan perlunya relawan tambahan serta
koordinasi dengan lembaga kemanusiaan agar penanganan tidak berhenti di tengah
jalan. “Kita harus bekerja lebih cepat dari ancaman krisis lanjutan, terutama
kelaparan dan penyakit. Pemulihan ini membutuhkan dukungan banyak pihak,”
pungkasnya.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

