Logo Porosbumi
23 Mei 2026,
23 May 2026
LIVE TV

S&P Nilai Perbankan Indonesia Hadapi Risiko Dampak Perang Iran VS AS

abdul aziz 22 Mei 2026, 07:17:22 WIB
S&P Nilai Perbankan Indonesia Hadapi Risiko Dampak Perang Iran VS AS
Seminar Annual Indonesia Credit Spotlight keempat di Jakarta, Rabu(20/5/2026)- PORI

JAKARTA- Perbankan nasional rentan terdampak gejolak di kawasan  Timur Tengah yang mengakibat peningkatan biaya energi.

Director of Financial Institutions Ratings S&P Global Ratings, Ivan Tan mengemukakan bahwa eksposur langsung bank-bank Indonesia tergejolak di  Timur Tengah terbatas, dan risiko tidak langsung tetap terkendali.

Namun, dia menilai dalam skenario terburuk yang menunjukkan gangguan pasar energi yang berkepanjangan, kerugian kredit kemungkinan akan meningkat.

“Kami memperkirakan kerugian tambahan sebesar 35 basis poin pada tahun 2026– 2027, sehingga total biaya kredit mencapai sekitar 100 basis poin,” ungkapnya dalam seminar Annual Indonesia Credit Spotlight yang keempat di Jakarta, Kamis(21/5/2026).

Lebih jauh Ivan menyampaikan bahwa Efek orde kedua menimbulkan risiko yang lebih besar. Menurutnya, rumah tangga berpenghasilan rendah dan UKM lebih rentan terhadap kondisi pemburukan ekonomi karena cadangan keuangan yang tipis dan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap guncangan.

“Pertumbuhan Indonesia yang tidak merata telah membuat segmen berpenghasilan rendah dan menengah terpapar, sementara inflasi yang berkelanjutan dapat semakin menekan keuangan rumah tangga dan kapasitas pembayaran,” ungkap Ivan

Namun dia tetap menilai  fundamental bank-bank Indonesia sektor tetap kuat karena diuntungkan oleh profitabilitas yang solid dan rasio kecukupan modal mendekati 25 persen, yang memberikan penyangga yang berarti terhadap tekanan eksternal.

Kualitas aset telah membaik sejak pandemi, didukung oleh penyediaan cadangan yang prudent, standar penjaminan yang lebih ketat, dan pelonggaran moneter yang lebih awal,” jelas dia.

Ivan menilai risiko cenderung ke arah penurunan karena lingkungan global yang lebih lemah dapat meredam kepercayaan, meningkatkan keengganan terhadap risiko, dan membalikkan beberapa peningkatan kualitas aset. Kerentanan struktural tetap ada di segmen berpendapatan rendah dan industri seperti tekstil yang menghadapi tekanan daya saing,” ungkapnya.

Ivan bilang secara keseluruhan, pendapatan dan penyangga modal yang kuat dapat memungkinkan bank bank Indonesia untuk menyerap pelemahan kondisi kredit yang moderat,” pungkas Ivan.

Sementara itu, Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan PEFINDO, Danan Dito menyampaikan bahwa Konflik di Timur Tengah telah menaikkan harga energi, memberikan tekanan pada perekonomian Indonesia karena bank dan perusahaan keuangan bersiap menghadapi pertumbuhan bisnis yang lebih lesu pada tahun 2026.

“Terlepas dari kondisi keuangan mereka yang solid, yang ditunjukkan oleh penyangga modal yang kuat dan indikator kualitas aset yang terkendali, harga minyak yang tinggi dalam jangka panjang akan mengikis kepercayaan konsumen, daya beli, dan kemampuan pembayaran kembali,” ungkap Danan.

Lebih jauh Danan juga menyampaikan bahwa subsidi bahan bakar pemerintah telah melindungi dampak langsung pada segmen mikro dan UKM yang lebih rentan untuk sementara waktu.

Tetapi telah menciptakan titik tekanan lain pada posisi fiskal dan pelemahan Rupiah, yang menimbulkan pertanyaan berapa lama subsidi tersebut dapat bertahan.” Pungkas Danan.

 

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```