S&P Nilai Perbankan Indonesia Hadapi Risiko Dampak Perang Iran VS AS
JAKARTA- Perbankan nasional rentan terdampak gejolak di kawasan Timur Tengah yang mengakibat peningkatan
biaya energi.
Director
of Financial Institutions Ratings S&P Global Ratings, Ivan Tan mengemukakan
bahwa eksposur langsung bank-bank Indonesia tergejolak di Timur Tengah terbatas, dan risiko tidak
langsung tetap terkendali.
Namun,
dia menilai dalam skenario
terburuk yang menunjukkan gangguan pasar energi yang berkepanjangan, kerugian
kredit kemungkinan akan meningkat.
Baca Juga
“Kami
memperkirakan kerugian tambahan sebesar 35 basis poin pada tahun 2026– 2027,
sehingga total biaya kredit mencapai sekitar 100 basis poin,” ungkapnya dalam seminar
Annual Indonesia Credit Spotlight yang keempat di Jakarta, Kamis(21/5/2026).
Lebih
jauh Ivan menyampaikan bahwa Efek orde kedua menimbulkan risiko yang lebih
besar. Menurutnya, rumah tangga berpenghasilan rendah dan UKM lebih rentan
terhadap kondisi pemburukan ekonomi karena cadangan keuangan yang tipis dan
sensitivitas yang lebih tinggi terhadap guncangan.
“Pertumbuhan
Indonesia yang tidak merata telah membuat segmen berpenghasilan rendah dan
menengah terpapar, sementara inflasi yang berkelanjutan dapat semakin menekan
keuangan rumah tangga dan kapasitas pembayaran,” ungkap Ivan
Namun
dia tetap menilai fundamental bank-bank Indonesia sektor tetap
kuat karena diuntungkan oleh profitabilitas yang solid dan rasio kecukupan
modal mendekati 25 persen, yang memberikan penyangga yang berarti terhadap
tekanan eksternal.
“Kualitas
aset telah membaik sejak pandemi, didukung oleh penyediaan cadangan yang
prudent, standar penjaminan yang lebih ketat, dan pelonggaran moneter yang
lebih awal,” jelas dia.
Ivan
menilai risiko cenderung ke arah penurunan karena lingkungan global yang lebih
lemah dapat meredam kepercayaan, meningkatkan keengganan terhadap risiko, dan
membalikkan beberapa peningkatan kualitas aset. “Kerentanan struktural tetap ada di
segmen berpendapatan rendah dan industri seperti tekstil yang menghadapi
tekanan daya saing,” ungkapnya.
Ivan bilang secara
keseluruhan, pendapatan dan penyangga modal yang kuat dapat memungkinkan bank bank Indonesia untuk
menyerap pelemahan kondisi kredit yang moderat,” pungkas Ivan.
Sementara itu, Kepala
Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan PEFINDO, Danan Dito menyampaikan bahwa
Konflik di Timur Tengah telah menaikkan harga energi, memberikan tekanan pada
perekonomian Indonesia karena bank dan perusahaan keuangan bersiap menghadapi
pertumbuhan bisnis yang lebih lesu pada tahun 2026.
“Terlepas
dari kondisi keuangan mereka yang solid, yang ditunjukkan oleh penyangga modal
yang kuat dan indikator kualitas aset yang terkendali, harga minyak yang tinggi
dalam jangka panjang akan mengikis kepercayaan konsumen, daya beli, dan
kemampuan pembayaran kembali,” ungkap Danan.
Lebih
jauh Danan juga menyampaikan bahwa subsidi bahan bakar pemerintah telah
melindungi dampak langsung pada segmen mikro dan UKM yang lebih rentan untuk
sementara waktu.
“Tetapi telah menciptakan
titik tekanan lain pada posisi fiskal dan pelemahan Rupiah, yang menimbulkan
pertanyaan berapa lama subsidi tersebut dapat bertahan.” Pungkas Danan.
