Logo Porosbumi
03 Apr 2026,
03 April 2026
LIVE TV

Perang Terus Berulang, Haedar Nashir Sebut Tanda Buntunya Peradaban Modern

PorosBumi 02 Apr 2026, 12:48:10 WIB
Perang Terus Berulang, Haedar Nashir Sebut Tanda Buntunya Peradaban Modern
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam Silaturahmi Idulfitri Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Selasa (31/3/2026). Foto/dok.UMJ

PERANG dan konflik global yang terus berulang dinilai sebagai tanda kegagalan peradaban modern mencapai tujuan dasarnya. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menilai dunia belum mampu keluar dari siklus kekerasan meski tragedi besar kemanusiaan telah menjadi pelajaran sejarah.

“Tetapi kenyataan terjadi, dan terus berulang terjadi, yang seakan-akan dunia modern yang diwakili oleh negara-negara maju semestinya bisa menghentikan segala perbuatan ini,” kata Haedar dalam Silaturahmi Idulfitri Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Selasa (31/3/2026).

Haedar merujuk pada tragedi Holocaust yang seharusnya menjadi batas moral bagi peradaban modern agar tidak lagi mengulang kekerasan serupa. Ia menyebut cita-cita besar peradaban abad ke-20 dan ke-21 terhenti selama praktik kekerasan, genosida, dan neokolonialisme masih berlangsung. “Apapun argumentasi dan alasannya, ini adalah jalan buntu peradaban modern,” ujarnya.

Menurut dia, perkembangan pemikiran postmodern yang berupaya mengoreksi modernisme juga belum mampu menghadirkan solusi nyata. Realitas konflik global justru menunjukkan kecenderungan menuju krisis besar yang sulit dikendalikan.

Ia menyebut situasi tersebut sebagai potensi global catastrophe, ketika institusi hukum internasional tidak memiliki kekuatan efektif untuk menghentikan kekerasan. Kondisi ini, kata Haedar, mencerminkan dunia yang bergerak ke arah semakin bebas dan keras, di mana manusia berpotensi saling memangsa.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafiq Mughni menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon Selatan. Ia menyoroti ancaman terhadap keselamatan pasukan penjaga perdamaian, termasuk kontingen Indonesia.

“Kami menyerukan kepada semua pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri, menghormati hukum humaniter internasional, serta menjamin keselamatan para personel penjaga perdamaian yang tengah menjalankan mandat kemanusiaan,” ujar Syafiq.

Muhammadiyah menyatakan dukungan terhadap peran aktif Indonesia dalam misi perdamaian dunia, sejalan dengan amanat konstitusi untuk ikut menjaga ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Keprihatinan dan Duka Mendalam

Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menyampaikan duka cita atas gugurnya prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tiga prajurit dilaporkan meninggal akibat serangan terhadap markas pasukan PBB di Lebanon. Mereka adalah Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Keduanya menyusul rekan mereka, Praka Farizal Rhomadhon yang telah meninggal lebih dulu.

Salah satu di antaranya adalah Farizal Romadhon, yang dikenal sebagai kader Muhammadiyah asal Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Haedar menyebut almarhum memiliki kedekatan dengan nilai-nilai Muhammadiyah dan aktif menyebarkan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal melalui media sosialnya.

“Dalam beberapa unggahan Instagram-nya bahkan mempopulerkan KHGT. Ini pertanda bahwa yang bersangkutan selain bertugas sebagai pasukan perdamaian, juga lekat dengan spirit Muhammadiyah,” kata Haedar.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```