Perang Terus Berulang, Haedar Nashir Sebut Tanda Buntunya Peradaban Modern
PERANG dan konflik global yang terus
berulang dinilai sebagai tanda kegagalan peradaban modern mencapai tujuan
dasarnya. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menilai dunia
belum mampu keluar dari siklus kekerasan meski tragedi besar kemanusiaan telah
menjadi pelajaran sejarah.
“Tetapi kenyataan terjadi, dan terus berulang terjadi, yang
seakan-akan dunia modern yang diwakili oleh negara-negara maju semestinya bisa
menghentikan segala perbuatan ini,” kata Haedar dalam Silaturahmi Idulfitri
Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Jakarta, Selasa
(31/3/2026).
Haedar merujuk pada tragedi Holocaust yang seharusnya
menjadi batas moral bagi peradaban modern agar tidak lagi mengulang kekerasan
serupa. Ia menyebut cita-cita besar peradaban abad ke-20 dan ke-21 terhenti
selama praktik kekerasan, genosida, dan neokolonialisme masih berlangsung. “Apapun
argumentasi dan alasannya, ini adalah jalan buntu peradaban modern,” ujarnya.
Baca Juga
Menurut dia, perkembangan pemikiran postmodern yang berupaya
mengoreksi modernisme juga belum mampu menghadirkan solusi nyata. Realitas
konflik global justru menunjukkan kecenderungan menuju krisis besar yang sulit
dikendalikan.
Ia menyebut situasi tersebut sebagai potensi global
catastrophe, ketika institusi hukum internasional tidak memiliki kekuatan
efektif untuk menghentikan kekerasan. Kondisi ini, kata Haedar, mencerminkan
dunia yang bergerak ke arah semakin bebas dan keras, di mana manusia berpotensi
saling memangsa.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Pusat
Muhammadiyah Syafiq Mughni menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya eskalasi
konflik di Lebanon Selatan. Ia menyoroti ancaman terhadap keselamatan pasukan
penjaga perdamaian, termasuk kontingen Indonesia.
“Kami menyerukan kepada semua pihak yang terlibat konflik
untuk menahan diri, menghormati hukum humaniter internasional, serta menjamin
keselamatan para personel penjaga perdamaian yang tengah menjalankan mandat
kemanusiaan,” ujar Syafiq.
Muhammadiyah menyatakan dukungan terhadap peran aktif
Indonesia dalam misi perdamaian dunia, sejalan dengan amanat konstitusi untuk
ikut menjaga ketertiban dunia yang berlandaskan kemerdekaan, perdamaian abadi,
dan keadilan sosial.
Keprihatinan dan Duka Mendalam
Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menyampaikan duka cita atas
gugurnya prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian di bawah naungan
Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tiga prajurit dilaporkan meninggal akibat serangan
terhadap markas pasukan PBB di Lebanon. Mereka adalah Kapten (Inf) Zulmi Aditya
Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Keduanya menyusul rekan mereka, Praka
Farizal Rhomadhon yang telah meninggal lebih dulu.
Salah satu di antaranya adalah Farizal Romadhon, yang
dikenal sebagai kader Muhammadiyah asal Kulon Progo, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Haedar menyebut almarhum memiliki kedekatan dengan nilai-nilai
Muhammadiyah dan aktif menyebarkan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal
melalui media sosialnya.
“Dalam beberapa unggahan Instagram-nya bahkan mempopulerkan
KHGT. Ini pertanda bahwa yang bersangkutan selain bertugas sebagai pasukan
perdamaian, juga lekat dengan spirit Muhammadiyah,” kata Haedar.
