- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Pentingnya Konsep Halal dan Thayyib untuk Pendapatan Ekonomi Berkelanjutan
.jpg)
JAKARTA – Greenpeace Indonesia bersama dengan Aliansi Ummah
for Earth melakukan kolaborasi dengan Indonesia Banking School saat meluncurkan
kampanye keuangan islam di Jakarta, hari ini. Konferensi ini dihadiri oleh
berbagai pemangku kepentingan seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan,
serta Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah.
“Melalui kampanye keuangan islami, Ummah for Earth akan
mengupayakan dialog antar pemangku kepentingan, serta menghubungkan narasi
solusi dan aksi iklim dengan audiens kami, sehingga keuangan islami dapat
diperhitungkan sebagai solusi pembiayaan iklim”, ucap Rahma Shofiana, Ummah for
Earth Project Lead.
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari peluncuran laporan baru
berjudul “Islamic Finance and Renewable Energy”, hasil kolaborasi antara
Greenpeace MENA (sebagai bagian dari Aliansi Ummah For Earth) dan Inisiatif
Keuangan Etis Global (GEFI), mengungkap potensi transformatif keuangan Islam
dalam mempercepat transisi global menuju energi terbarukan.
Baca Lainnya :
- Mau Kuliah Gratis? Beasiswa Bank Indonesia 2025 Telah Dibuka, Ini Syaratnya!0
- Peta Jalan Ekosistem Industri Hijau0
- Trik Pengawetan Kayu Sengon untuk Menjaga Kualitasnya0
- Sistem Pascaproduksi PIT Tingkatkan PNBP SDA Perikanan 30% di 2024 0
- PNBP Pasca Produksi Tingkatkan Penerimaan Negara dan Akurasi data Perikanan Tangkap 0
Temuan laporan ini menunjukkan bahwa dengan mengalokasikan
hanya 5% dari aset senilai $4,5 triliun sektor keuangan Islam untuk proyek
energi terbarukan, dapat terhimpun dana sebesar $400 miliar untuk pembiayaan
iklim. Laporan ini menekankan keselarasan antara prinsip-prinsip keuangan Islam
yang menonjolkan pengelolaan lingkungan, investasi etis, dan tanggung jawab
sosial dengan kebutuhan mendesak akan investasi energi berkelanjutan.
Dengan kesenjangan pendanaan energi terbarukan tahunan
sebesar $5,7 triliun, sektor keuangan Islam memiliki posisi unik untuk
menjembatani kesenjangan ini melalui instrumen keuangan yang sesuai syariah. Instrumen
keuangan Islam ini berpotensi mengatasi tiga krisis planet: perubahan iklim,
polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
“Berdasarkan laporan GEFI, industri keuangan Islam memiliki
peluang unik dalam mendukung pembiayaan aksi iklim melalui konsep keuangan
syariah berkelanjutan, yang tidak hanya berlandaskan pada prinsip kehalalan
tetapi juga pada aspek thayyib,” ujar Dr Hayu Prabowo, Ketua Lembaga Pemuliaan
Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Sebagai wujud Islam yang rahmatan lil alamin, keuangan
syariah dengan prinsip halalan-thayyiban menghadirkan solusi untuk membangun
sistem ekonomi dan keuangan yangtidak hanya berorientasi pada keuntungan
finansial yang halal, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan yang
positif.
Tariq Al-Olaimy, Penasihat Keuangan Islam untuk Aliansi
Ummah For Earth, menambahkan, “Keuangan Islam bukan sekadar sistem keuangan
alternatif, tetapi juga kekuatan yang kuat untuk aksi iklim. Dengan aset yang
ditetapkan mencapai $6,7 triliun pada tahun 2027, bahkan hanya dengan 5% untuk
energi terbarukan dapat memobilisasi $400 miliar untuk solusi iklim pada tahun
2030.
Di Indonesia hal ini telah berkembang program sukuk hijau
perintis negara tersebut telah membantu mencegah lebih dari 974.000 ton emisi
CO2 setiap tahunnya. Dengan sukuk ESG mencapai $9,9 miliar hanya dalam paruh
pertama tahun 2024, momentum untuk keuangan Islam yang berkelanjutan sedang dibangun.
Saatnya untuk bertindak adalah sekarang—lembaga keuangan Islam harus
mempercepat investasi energi terbarukan mereka untuk mengatasi krisis iklim.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

