- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Pengamat: Indonesia Swasembada Beras, Stok Dunia Tertinggi Sepanjang Sejarah, Harga Global Anjlok!

JAKARTA - Pakar Ekonomi dari
Universitas Indonesia, Ninasapti Triaswati menegaskan bahwa Indonesia saat ini
telah mencapai swasembada beras dengan produksi nasional yang diproyeksikan
menembus 34,77 juta ton gabah kering giling pada akhir 2025, cukup untuk memenuhi
seluruh kebutuhan 286 juta penduduk.
Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk menutup total
keran impor beras sejak Januari 2025 bukanlah kebijakan sementara, melainkan
komitmen negara yang kini terbukti mengguncang tatanan pasar beras dunia.
Akibat hilangnya Indonesia, importir beras terbesar dunia selama dua dekade
terakhir dari daftar pembeli, stok beras global membengkak ke rekor tertinggi
sepanjang sejarah. Menurut laporan terbaru FAO dan USDA per November 2025, stok
akhir musim 2025/26 diperkirakan mencapai 185,1 juta ton, naik signifikan dari
tahun sebelumnya meski ada penyesuaian kecil akibat faktor cuaca di beberapa
wilayah.
Produksi dunia juga meningkat menjadi 556,4 juta ton (basis milled), didorong
panen besar di India, Thailand, dan Vietnam. Dengan pasokan melimpah dan
permintaan Indonesia dalam pasar global menjadi nol, maka harga ekspor beras
dunia langsung ambruk, dari rata-rata US$620–650 per ton pada 2024 menjadi
hanya US$375–400 per ton saat ini, dan terus turun setiap pekan.
“Ini fakta yang tidak pernah disebut oleh para pengkritik swasembada,” tegas
Ninasapti Triaswati. “Harga beras impor yang mereka bilang ‘murah’ bukan karena
efisiensi petani Vietnam atau Thailand, melainkan karena mereka panik
kehilangan pasar terbesar di dunia. Mereka terpaksa banting harga agar gudang
tidak penuh. Yang menikmati keuntungan itu adalah importir dan spekulan, bukan
rakyat Indonesia.”
Ninasapti menyoroti ironi yang terus berulang setiap kali pemerintah memperkuat
swasembada, selalu muncul narasi bahwa daerah terpencil seperti Papua, Maluku,
atau Sabang tidak mungkin mendapat beras murah tanpa impor.
Padahal, solusi yang sedang dijalankan pemerintah jauh lebih
sistematis dan permanen, sebagai contoh anggaran Rp189 miliar tahun ini untuk
mencetak sawah baru dan membangun irigasi di Aceh, yang akan dilipatgandakan
pada 2026; penguatan gudang dan armada Bulog hingga ke pelosok; serta skema
subsidi energi khusus untuk transportasi pangan strategis yang sedang digodok.
“Masalah logistik memang ada, tapi itu bukan alasan untuk kembali membuka pintu
impor dan menghancurkan harga gabah petani Jawa, Sumatera, dan Sulawesi,”
katanya. “Swasembada bukan berarti setiap pulau harus jadi lumbung padi, tetapi
setiap warga negara berhak mendapatkan beras dengan harga wajar dari produksi
bangsanya sendiri.”
Ninasapti pun menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara besar yang berhasil
meningkatkan produksi beras hingga menjadikannya yang terbesar sepanjang
sejarah.
“Hari ini dunia beras sedang berlutut karena Indonesia berkata ‘cukup’. Stok
tertinggi sepanjang sejarah, harga terendah dalam satu dekade, dan kita justru
berdiri tegak tanpa impor. Ini bukan lagi soal pangan, ini soal kedaulatan.
Siapa pun yang masih meragukan atau mengganggu proses ini, secara sadar atau
tidak, sedang berdiri di pihak yang salah sejarah,” jelasnya.
Baca Lainnya :
- Mentan Ajak Gotong Royong Swasembada Pangan untuk Kesejahteraan Masyarakat Adat0
- Keseruan Wartawan Belajar Ternak Ayam Petelur di BBPKH Cinagara Kementan RI0
- Wajah Baru Pupuk Bersubsidi: 145 Regulasi Dipangkas, Waktu Antrean Distribusi Turun 40%0
- Dari Sawangan ke Bojongsari: Pupuk Mengubah Wajah Pekarangan Jadi Produktif0
- Mengejar Swasembada, Melupakan Tanah: Bahaya di Balik Euforia Pupuk Murah0
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

