- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Pemerintah Perkuat Infrastruktur Pengelolaan Sampah Lewat Teknologi

JAWA TIMUR – Pemerintah mendorong penguatan infrastruktur pengelolaan sampah di kota-kota besar melalui penerapan teknologi modern seperti Waste to Energy. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), saat meninjau langsung operasional Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Benowo, Surabaya pada Rabu, (16/04/2025).
“Jadi kunjungan kami hari ini ke sini untuk melihat secara langsung operasi dari PSEL yang ada di Benowo, yang kita tahu sudah berjalan efektif selama kurang lebih 4 tahun terakhir. Saya mengapresiasi, kami semua mengapresiasi, karena sampah ini merupakan persoalan kita semuanya,” ujar Menko AHY.
Fasilitas PSEL Benowo merupakan salah satu infrastruktur pengelolaan sampah paling modern di Indonesia. Menurut Menko AHY, dengan kapasitas pengolahan 1.600 ton sampah per hari, instalasi ini memanfaatkan dua pendekatan teknologi utama: gas power plant dan gasifikasi.
Sistem pengolahan di Benowo terbagi menjadi dua jalur, yang pertama adalah untuk menghasilkan metana menggunakan gas power plant dan dapat menghasilkan 1,65 hingga 2 megawatt, serta lebih kurang 600 ton per hari. Sedangkan 1.000 ton menggunakan metodologi gasifikasi. Proses ini menghasilkan panas yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik dan dialirkan ke gardu induk PLN Altaprima.
Menurut Menko AHY, pemerintah menyadari bahwa setiap kota memiliki tantangan yang berbeda dalam hal volume dan jenis sampah, sehingga pendekatan infrastruktur harus disesuaikan.
“Tentu ada skala yang harus kita lihat secara cermat. Tidak semua harus menggunakan teknologi seperti ini. Ada juga bahkan karena lebih besar lagi, contohnya metropolitan Jakarta yang 8.000 ton per hari itu juga tentunya harus lebih besar lagi kapasitasnya, teknologinya juga harus lebih kuat lagi,” pungkas Menko AHY.
Menko AHY juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah. “Kami, saya sendiri bersama jajaran Kementerian Pekerjaan Umum tentunya bersama Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, kita harus bersinergi karena sampah ini dari hulu ke hilir,” jelasnya.
Sebagai salah satu model terbaik di Indonesia, PSEL Benowo diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pembangunan infrastruktur serupa di kota-kota besar lainnya.
“Instalasi ini yang hadir di Benowo, Surabaya, harus bisa menjadi salah satu model, karena bisa dikatakannya salah satu yang terbaik di Indonesia untuk bisa mengurai permasalahan sampah di kota-kota besar metropolitan,” ujar Menko AHY.
Turut hadir juga dalam kegiatan ini Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti; Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak; Deputi Bidang Infrastruktur Dasar Kemenko Infra, Rachmat Kaimuddin; Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum, Dewi Chomistriana; dan Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Ikhsan.
Lalu, Staf Khusus Menko, Agust Jovan Latuconsina; Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dedik Irianto; Kepala Balai Cipta Karya, Airyn Saputri; Direktur Manajemen Proyek dan EBT PLN, Wiluyo Kusdwiharto; Direktur Utama PT Sumber Organik, Agus Nugroho Santoso; serta Deputi General PT Sumber Organik, Hari Sunjayana.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

