Pefindo Ingatkan Penerbitan Obligasi Hadapi Biaya Tinggi
JAKARTA- Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai
penerbitan surat utang korporasi atau obligasi masih akan menghadapi tantangan biaya dana
tinggi. Pasalnya, kebijakan Bank Indonesia telah menaikan suku bunga acuannya guna redam
gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Bank Indonesia terakhir menaikan suku bunga acuannya
ke level 5,75 persen pada pertengahan Juni 2026. Pefindo memandang BI masih berpeluang
mengulangi kebijakan serupa.
Dampaknya, yield
SBN 5 dan 10 tahun naik ke level 7,5 persen persen akhir
Juni 2026. SRBI pun tak kalah menarik dengan yield 7,75 persen untuk tenor 1
tahun per akhir Juni 2026.
Baca Juga
“Realisasi kupon obligasi semester I 2026 memang
mencerminkan pengaruh dari kenaikan benchmark.
Dan biaya dana berapa peringkat sudah
berada diatas rata rata suku bunga pinjaman sehingga emiten lebih menerbitkan
obligasi,”jelas Direktur Pemeringkatan Pefindo, Hendro Utomo dalam paparan
media, Rabu(8/7/2026).
Ia menilai dinamika tersebut perlu menjadi perhatian
bagi emiten dalam menerbitkan surat utang kedepannya. Karena emiten perlu
membanding dengan pilihan pendanaan lain seperti pinjaman perbankan.
“Dengan era kenaikan suku Bunga maka pendanaan melalui
obligasi jadi kurang kompetetif karena bagi emiten mereka harus bayar bunga atau
biaya pendanaan lebih tinggi,”ingat Hendro.
Hendro bilang pembiayaan melalui kredit perbankan akan
lebih menarik bagi emiten penyandang peringkat efek idA ke bawah.
“Apalagi investor lebih selektif terhadap penerbit
obligasi dengan peringkat idA ke atas. Sehingga penerbitan dari peringakt efek
lebih rendah tetap terbatas,” papar Hendro.
Sebagai catatan sepanjang semester I 2026 rata rata
kupon tenor 1 tahun peringkat AAA berada di level 5 persen, tenor 3 dan 5 tahun
berada di level 6 persen. Untuk peringkat AA rerata kupon 1 tahun 4.75 persen,
tenor 3 tahun 6 persen dan tenor 5 tahun berada di level 6,5 persen.
Sedangkan rerata kupon peringkat A untuk tenor1 tahun
berada di level 8 persen, tenor 3 tahun 8,5 persen dan tenor 5 tahun 8,75
persen. Adapun kupun rerata peringkat BBB
untuk tenor 1 tahun 9 persen, tenor 3 tahun 10,75 persen persen dan tenor 5 tahun 11 persen.
Namun demikian dia mencatat ada berapa faktor
penerbitan surat utang tetap akan menjadi pilihan perusahaan terutama kebutuhan
pembiayan berulang.
“Kami mencatat nilai obligasi dan Sukuk yang jatuh
tempo pada semester II 2026 mencapai Rp107,5 triliun. Ditambah fenomena investor
yang mencari alternatif imbal hasil di tengah tertekannya pasar saham,” terang dia.
Hendro bilang penerbitan obligasi selama semester I
2026 mencapai Rp87,35 triliun atau turun 3,9 persen dari periode sama tahun
2025 yang tercatat Rp90,9 triliun. Tapi dia menakar penerbitan obligasi sepanjang
tahun 2026 berkisar
Rp154,00 – Rp196,86 triliun, dengan titik tengah Rp175,77 triliun.
“Pefindo saja masih memegang mandat memeringkat obligasi yang akan
diterbitan senilai Rp50,8 triliun per 30 Juni 2026.” Pungkas dia.
