Pastikan Gizi Terjaga, Menko Pangan Tinjau Langsung Pelaksanaan MBG di Lampung Tengah
Program MBG bukan sekadar membagikan makanan tanpa biaya, ada misi besar agar anak tumbuh sehat dan ibu hamil mendapatkan asupan cukup

By Yani Andriyansyah 28 Feb 2026, 16:09:40 WIB Pangan
Pastikan Gizi Terjaga, Menko Pangan Tinjau Langsung Pelaksanaan MBG di Lampung Tengah

Keterangan Gambar : Menko Pangan Zulkifli Hasan saat berkunjung ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bandar Jaya Barat 4, Lampung Tengah, Kamis (26/2). (dok. Kemenkopangan)


Pagi itu, Kamis 26 Februari 2026, suasana di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bandar Jaya Barat 4, Lampung Tengah, terasa lebih sibuk dari biasanya. Uap hangat mengepul dari panci-panci besar, aroma sayur dan lauk bergizi memenuhi ruangan, sementara para petugas bergerak cekatan memastikan setiap porsi tersaji dengan rapi. 


Di tengah aktivitas itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan hadir untuk melihat langsung bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan di lapangan. Kunjungan kerja tersebut bukan sekadar seremoni. Bagi pemerintah, dapur-dapur seperti inilah yang menjadi garda depan dalam membangun generasi sehat sekaligus memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional.


Sejak resmi beroperasi pada 27 Oktober 2025, SPPG Bandar Jaya Barat 4 telah melayani 2.831 penerima manfaat. Mereka terdiri dari 2.398 peserta didikmulai dari PAUD, TK, SD, SMP/MTs hingga MAserta balita, dan 433 ibu hamil yang terdata melalui layanan posyandu.

Baca Lainnya :


Setiap hari, ribuan porsi makanan disiapkan dengan standar tertentu. Bukan hanya soal kenyang, tetapi juga soal kandungan gizi yang seimbang. Dalam skala nasional, dampak program ini terasa luas. Hingga kini, tercatat 23.678 SPPG telah beroperasi di 38 provinsi. Dari jumlah itu, 8.277 telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sebagai bukti bahwa keamanan pangan dan kebersihan dapur menjadi perhatian serius. SPPG Bandar Jaya Barat 4 pun mendapat apresiasi karena telah mengajukan SLHS. Langkah ini dinilai sebagai bentuk komitmen terhadap standar keamanan pangan dan sanitasi yang tidak bisa ditawar.


Bagi Zulkifli Hasan, angka-angka tersebut penting, tetapi bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.“Kehadiran saya hari ini untuk memastikan pelaksanaan dan efektivitas Program Makan Bergizi Gratis dalam mendukung ketahanan pangan nasional serta pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi anak-anak kita,” ujarnya saat kunjungan, Kamis 26 Februari 2026.


Dalam kunjungan itu, perhatian utama tertuju pada standar mutu. Dari kebersihan dapur, cara penyimpanan bahan baku, hingga proses distribusi makanan, semua menjadi bagian dari evaluasi. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program tidak cukup hanya dilihat dari jumlah penerima manfaat. Keamanan dan mutu makanan, higienitas dapur, serta konsistensi distribusi harus terjaga. Program sebesar MBG, menurutnya, harus berjalan dengan standar yang sama kuatnya di setiap daerah.


Di balik piring-piring makan bergizi itu, ada rantai pasok yang panjang. Sayuran, beras, telur, hingga bahan pokok lainnya sebagian besar disuplai dari pelaku usaha lokal. Dalam kesempatan tersebut, Zulkifli Hasan juga mendorong agar UMKM dan koperasi semakin dilibatkan.


Langkah ini dianggap strategis. Program MBG bukan hanya tentang gizi, tetapi juga tentang menggerakkan ekonomi daerah. Ketika dapur SPPG menyerap bahan baku dari petani dan pelaku usaha setempat, maka roda ekonomi ikut berputar. 


Lampung Tengah, dengan potensi pertaniannya, dinilai punya peluang besar untuk menjadi contoh integrasi program sosial dan pemberdayaan ekonomi. Program Makan Bergizi Gratis pada akhirnya bukan sekadar membagikan makanan tanpa biaya. Di baliknya ada misi besar, memastikan anak-anak tumbuh sehat, ibu hamil mendapatkan asupan cukup, dan ketahanan pangan nasional diperkuat dari tingkat paling dasar.


Di dapur sederhana di Bandar Jaya Barat itu, misi tersebut terasa nyata. Setiap porsi yang disajikan bukan hanya soal rasa, tetapi tentang masa depan. Dan bagi pemerintah, menjaga standar mutu serta efektivitas pelaksanaannya adalah kunci agar program ini tidak sekadar besar di atas kertas, melainkan benar-benar berdampak di meja makan masyarakat.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment