- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Menghidupkan Kembali Tradisi Muslim 500 Tahun Silam, Naik Haji Berkuda Andalusia-Mekkah

TIGA Muslim asal Spanyol, Abdallah Hernandez, Abdelkader Harkassi, dan Tariq Rodriguez, melakukan perjalanan haji ke Mekkah dengan menunggang kuda, menghidupkan kembali tradisi Muslim Andalusia yang telah berusia 500 tahun.
Perjalanan mereka dimulai dari Spanyol dan menempuh jarak sekitar 8.000 kilometer melintasi Italia, Slovenia, Kroasia, Bosnia, Montenegro, Kosovo, Makedonia Utara, Bulgaria, Yunani, dan Turki, sebelum menuju Arab Saudi melalui Suriah. Mereka menghadapi berbagai tantangan, termasuk cuaca ekstrem dan keterbatasan logistik, namun tetap berpegang teguh pada niat mereka untuk menunaikan ibadah haji dengan cara tradisional.
Hernandez, yang masuk Islam setelah mendalami Al-Qur'an dan Alkitab, bersumpah untuk berhaji dengan berkuda seperti leluhurnya. Dalam perjalanan ini, mereka juga didukung oleh Bouchaib Jadil, seorang mandor konstruksi asal Spanyol yang membantu logistik perjalanan mereka.
Selain sebagai bentuk ibadah, ekspedisi ini juga menjadi pengalaman spiritual dan petualangan yang penuh makna bagi mereka. Harkassi menegaskan bahwa perjalanan ini bukan hanya sekadar tantangan fisik, tetapi juga ujian keimanan yang memperkuat keyakinan mereka terhadap Allah.
Perhentian di Sarajevo
Sarajevo, sebuah kota dengan tradisi haji yang mengakar kuat, menyediakan perhentian bermakna di perjalanan tiga muslim asal Spanyol ini. Setibanya di kota tersebut, rombongan mengunjungi Baščaršija dan tempat-tempat bersejarah lainnya, memberikan penghormatan khusus kepada Masjid Hadzijska (Masjid Vekil-Harrach). Masjid ini secara historis berfungsi sebagai titik keberangkatan bagi para peziarah haji Bosnia, dan kunjungan mereka melambangkan kebangkitan kembali tradisi lama ini.
Penyelenggara ekspedisi, Abdelkader Harkassi Aidi, menyampaikan bahwa mereka telah melintasi sebagian besar Eropa. Mengenang pengalaman mereka di Bosnia Herzegovina, ia menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat yang mereka terima.
“Ini adalah puncak perjalanan kami, syukur kepada Allah. Kami berterima kasih kepada masyarakat BiH. Mereka telah membantu kami selama ini sejak kami memasuki Bosnia Herzegovina,” kata Harkassi Aidi, sebagaimana dilansir AboutIslam.
Tantangan Selama Perjalanan
Meskipun antusiasme mereka meluap, para peziarah menghadapi tantangan logistik. Harkassi Aidi mengungkapkan bahwa mereka belum diberi izin untuk memasuki Serbia karena keruntuhan pemerintahan baru-baru ini.
Ketika ditanya tentang makna spiritual dari perjalanan mereka, ia menyampaikan pesan yang membangkitkan semangat: “Melalui perjalanan ini, kami belajar bahwa Allah membuat segalanya mungkin. Jika Anda percaya kepada Allah dan memulai proyek Anda, Anda akan mencapainya. Alhamdulillah.”
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

