Melihat Dari Dekat Kekerabatan Jamaah Musala Nurul Hikmah, Jakarta Barat Menyembelih Kurban
PAGI-PAGI sekali sejumlah warga di Kampung Jelambar, Jakarta Barat, nampak berbondong-bondong membawa beragam senjata tajam, mulai dari golok, pisau, kampak, gerinda hingga pisau cutter. Warga yang terdiri dari kaum muda dan bapak-bapak itu lalu mengasah semua senjata yang dibawa tadi setajam mungkin.
Meski cuaca sedikit mendung, tak menyurutkan semangat warga, yang hari itu tengah bersiap hendak menyembelih hewan kurban, sebuah ritual tahunan umat Islam di Hari Raya Idul Adha, 10 Dzulhijah 1447/27 Mei 2026.
Kentara sekali pelaksanaan pemotongan hewan kurban di sebuah gang kecil, Jl Jelambar Selatan 7, persisnya di dekat Musala Nurul Hikmah, itu berlangsung dengan suka cita dan menghadirkan suasana kekerabatan. Sebagian besar warga yang bergotong royong tadi juga merupakan jamaah musala yang ketuanya bernama Ustad Ali Mustofa.
"Tiap tahun pemotongan hewan kurban di Musala Nurul Hikmah ini dilakukan sendiri oleh jamaah musala bersama warga sekitar. Jadi kurban di sini benar-benar dari warga, oleh warga, dan untuk warga," ujar Ustad Ali Mustafa yang juga bertindak sebagai juru sembelih.
"Warga sangat antusiasme membantu proses penyembelihan, mulai dari mengikat dan merobohkan sapi, pemotongan dan pencacahan daging, hingga pengemasan sebelum dibagikan kepada penerima," sambung Ustad Ali Mustafa.
Sementara itu, Ketua RT 06 RW 4, Duaji, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momen yang dinantikan masyarakat setiap tahun karena mempererat hubungan antarwarga. Selain menerima daging kurban, sejumlah warga juga ikut terlibat langsung membantu proses pemotongan hingga distribusi kepada masyarakat sekitar.
"Alhamdulillah senang bisa ikut bantu dari pagi sampai pembagian daging. Di sini warga saling bantu semua, jadi terasa kebersamaannya. Daging kurban juga dibagikan ke warga sekitar supaya semuanya bisa ikut merasakan," kata Duadji.
Pelaksanaan kurban di lingkungan permukiman seperti ini tentunya membuat proses pembagian lebih cepat dan tepat sasaran, karena warga sudah saling mengenal satu sama lain. "Momentum Iduladha menjadi pengingat pentingnya nilai kepedulian sosial dan kebersamaan di tengah masyarakat," timpal Darmin, Ketua RT 02 RW 11.
Setali tiga uang, Ketua RT 04, RW 11, Sugito juga mengakui kekompakan warga sekitar dan jamaah musala Nurul Hikmah. "Bukan hanya Idul Kurban saja, setiap momen peringatan hari besar Islam, warga sekitar Musala Nurul Hikmah selalu bahu membahu, bergotong royong. Makanya setiap bikin acara selalu ramai dan berjalan sukses," ujar Sugito.
Patut diakui, kekompakan warga dalam bergotong royong memotong hewan kurban sebuah cermin nilai kepedulian sosial yang kuat. Aktivitas ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, tetapi juga momen penting untuk mempererat silaturahmi, persaudaraan, dan kerja sama antar sesama anggota masyarakat.
Pembagian peran yang terstruktur, di mana warga biasanya membentuk panitia untuk mengelola seluruh proses agar berjalan lancar. Lalu ditunjuk eksekutor atau juru sembelih, orang yang dipercaya atau ahli agama setempat untuk menyembelih hewan sesuai syariat.Islam.
Tak hanya itu, ada juga tim pengikat, penarik dan merobohkan. Ini biasanya para kaum muda yang bertugas menangani hewan secara fisik sebelum dan saat proses penyembelihan.
Ada pula tim pencacah dan menguliti hewan kurban. Warga yang bertanggung jawab di bagian ini, memotong daging menjadi bagian-bagian kecil, menimbang, dan membagi daging dalam kantong-kantong plastik yang sudah disediakan.
"Proses dari penyembelihan, pengulitan, hingga pembersihan jeroan membutuhkan tenaga ekstra. Dengan bergotong royong, pekerjaan berat ini selesai dalam waktu singkat karena dikerjakan secara bersama-sama," kata Ustad Khandirin, sektetaris sekaligus Ketua Panitia Kurban.
Setelah daging dikemas, panitia bergotong royong mendata ulang warga yang sudah diberi kupon dan mengantre dengan tertib. Ini guna memastikan pendistribusian tepat sasaran tanpa memandang latar belakang. "Bahkan warga yang nonmuslim pun dibagi daging kurban," kata Ustad Khandirin.
Mengurus hewan kurban dan membagikan dagingnya merata ke warga tentu bukan pekerjaan mudah. Namun di tengah rasa lelah, suasana akrab dan penuh kekeluargaan tetap begitu kental terlihat, bahkan sesekali diselingi canda dan gelak tawa.
Kearifan lokal yang menjadi tradisi turun temurun dalam mengurus hewan kurban sebuah wadah perekat yang menyatukan warga di lingkungan tempat tinggal. Kegiatan ini pun menumbuhkan empati dan memastikan semangat saling berbagi terus terjaga di masyarakat, terutama warga sekitar dan jamaah Musala Nurul Hikmah. (hendri irawan)
