Logo Porosbumi
28 Mar 2026,
28 March 2026
LIVE TV

Mekkah 1979: Ketika Masjidil Haram Disabotase, dan Arab Saudi Berubah Selamanya

PorosBumi 27 Mar 2026, 15:41:06 WIB
Mekkah 1979: Ketika Masjidil Haram Disabotase, dan Arab Saudi Berubah Selamanya

20 November 1979. Fajar baru saja menyingsing di Mekah. Sekitar 50.000 umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Masjidil Haram untuk salat Subuh. Suasana tenang, sakral, dan penuh khusyuk. Tak ada yang menyangka, pagi itu akan berubah menjadi salah satu tragedi paling mengguncang dalam sejarah dunia Islam.

Di tengah lautan jamaah, sekitar 200 pria menyusup diam-diam. Mereka dipimpin seorang pengkhotbah kharismatik berusia 40 tahun, Juhayman al-Utaybi. Ketika imam selesai memimpin salat, tiba-tiba situasi berubah. Juhayman dan para pengikutnya mendorong imam ke samping, lalu mengambil alih mikrofon.

Di tengah halaman, beberapa peti mati telah diletakkan. Awalnya tampak seperti tradisi biasa—orang membawa jenazah untuk mencari berkah. Namun saat peti itu dibuka, isi sebenarnya terungkap. Bukan jenazah.
Melainkan senapan, pistol, dan amunisi.

Senjata langsung dibagikan. Dalam hitungan detik, tempat paling suci umat Islam berubah menjadi medan bersenjata. Salah satu pengikut Juhayman mulai membaca deklarasi yang telah disiapkan. "Rekan-rekan Muslim, hari ini kami mengumumkan kedatangan Mahdi... yang akan membawa keadilan setelah dunia dipenuhi penindasan."

Pernyataan itu membuat jamaah terkejut.
Sebagian terpaku. Sebagian bingung. Sebagian mulai panik. Dalam tradisi Islam, Mahdi diyakini sebagai sosok penyelamat yang akan muncul menjelang akhir zaman. Klaim itu bukan sekadar pengumuman—itu adalah deklarasi revolusi.

Nama yang disebut sebagai Mahdi adalah Mohammed bin Abdullah al-Qahtani, seorang ulama muda yang memiliki pengaruh kuat di kalangan pengikutnya. Ia dikenal karena ketegasan dan keyakinannya akan pentingnya menjaga kemurnian ajaran Islam. Kedekatannya dengan kelompok militan membuat namanya semakin identik dengan peristiwa 1979.

Tanpa menunggu lama, Juhayman segera memerintahkan orang-orangnya menutup gerbang masjid. Penembak jitu ditempatkan di menara tinggi yang mengelilingi Masjidil Haram. "Jika ada yang mencoba keluar, tembak!" perintahnya. Teriakan "Allahu Akbar!" menggema. Sebagian jamaah ikut berbaiat. Sebagian lainnya ketakutan.

Abdel Moneim Sultan, mahasiswa Mesir yang menjadi saksi mata, mengingat suasana mencekam itu. "Orang-orang bersenjata di tempat suci. Tembakan pertama terdengar. Jamaah mulai berlari mencari jalan keluar. Namun dalam waktu kurang dari satu jam, semuanya sudah terlambat. Masjidil Haram—jantung dunia Islam—jatuh ke tangan kelompok bersenjata."

Kelompok Juhayman berasal dari gerakan ultra-konservatif bernama al-Jamaa al-Salafiya al-Muhtasiba (JSM). Mereka menentang modernisasi Arab Saudi yang saat itu mulai berubah akibat ledakan kekayaan minyak. Mobil mewah, televisi, urbanisasi, hingga percampuran laki-laki dan perempuan di ruang publik dianggap sebagai tanda kemerosotan moral.

Juhayman sendiri adalah sosok kompleks. Ia pernah terlibat penyelundupan, hidup di jalan gelap, lalu bertobat dan menjadi pengkhotbah. Kisah masa lalunya membuat banyak anak muda tertarik. Karismanya kuat. Pengikutnya semakin banyak.

Juhayman juga punya pengalaman militer dari Garda Nasional. Pengalaman itu membuat rencana pendudukan Masjidil Haram tersusun rapi. Ketika ia bertemu Mohammed al-Qahtani, ia percaya telah menemukan Mahdi.

Awalnya Qahtani menolak. Namun setelah masa pengasingan, ia akhirnya menerima peran itu. Rumor mulai menyebar. Banyak orang mengaku bermimpi melihat Qahtani sebagai Mahdi. Keyakinan itu makin menguatkan kelompok Juhayman. Dan akhirnya, rencana besar pun dijalankan.

Pemerintah Saudi awalnya lambat merespons. Putra Mahkota Fahd sedang berada di Tunisia sedang menghadiri KTT Liga Arab, sedangkan Pangeran Abdullah berada di Maroko. Koordinasi kacau. Polisi pertama yang datang langsung dihujani peluru. Pasukan Garda Nasional kemudian menyerang. Namun mereka terpukul mundur. Para pemberontak sudah siap. Senjata mereka lengkap. Posisi mereka strategis.

Hari kedua, pertempuran semakin brutal. Helikopter militer berputar di udara. Artileri diarahkan ke menara. Masjidil Haram berubah menjadi medan perang. Karpet dibakar untuk menciptakan asap. Pertempuran jarak dekat terjadi. Korban berjatuhan.

Saksi mata menyebut bau kematian mulai menyelimuti area suci itu. Qahtani, yang dianggap Mahdi, bergerak tanpa rasa takut. Ia yakin dirinya tak bisa mati. Namun keyakinan itu runtuh, Qahtani tertembak. "Mahdi terluka!" teriak para pengikutnya. Namun Juhayman menolak percaya. "Jangan percaya mereka!" katanya.

Hari keenam, pasukan Saudi berhasil menguasai sebagian masjid. Namun pemberontak yang tersisa mundur ke labirin yang berisi kamar-kamar dan sel di bawah tanah, diyakinkan oleh Juhayman bahwa Mahdi masih hidup, di suatu tempat dalam bangunan itu.

Pemberontak mundur ke ruang bawah tanah. Kondisi mereka memburuk. Air habis. Makanan habis. Bau kematian menyelimuti ruangan. Pemerintah Saudi akhirnya meminta bantuan rahasia dari Prancis. Presiden Prancis Valéry Giscard d'Estaing diam-diam mengirim tim khusus GIGN.

Rencana dibuat, gas dimasukkan ke ruang bawah tanah. Lubang digali. Gas dimasukkan.
Granat asap dilempar. Para pemberontak mulai menyerah. Juhayman akhirnya ditangkap. Saat ditanya mengapa melakukan semua itu, jawabannya singkat. "Ini takdir." Ia hanya meminta satu hal, air minum.

Sebulan kemudian, 63 pemberontak dieksekusi di delapan kota Arab Saudi.
Juhayman menjadi yang pertama. Namun dampaknya jauh lebih besar. Peristiwa ini mengubah Arab Saudi. Modernisasi dihentikan.

Kebijakan konservatif diperketat.
Presenter perempuan menghilang dari televisi. Arab Saudi masuk era ultra-konservatif selama hampir empat dekade. Salah satu yang terpengaruh adalah Osama bin Laden, yang kemudian mengkritik pemerintah Saudi terkait penanganan krisis itu.

Baru pada 2018, Putra Mahkota Mohammed bin Salman menyebut bahwa sebelum 1979, Arab Saudi lebih terbuka—perempuan bisa mengemudi, bioskop ada, dan kehidupan lebih normal. Semua berubah setelah pengepungan Masjidil Haram. Dan dunia Islam tak pernah sama lagi.

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```