Ketika 1.720 Orang Menggalang Donasi Dalam Program #MelihatMasaDepan
SEORANG anak perempuan berusia sembilan
tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) menerima kacamata pertamanya di awal tahun
ini. Bertahun-tahun ia kesulitan menyerap pembelajaran di sekolah. Gurunya
mengira ia tidak serius. Orang tuanya mengira ia lamban belajar.
Dua perkiraan ini ternyata keliru. Anak tersebut ternyata
kesusahan melihat tulisan di papan tulis, dan tidak ada yang pernah
memeriksanya. Kisah ini bukan satu-satunya, dan ini adalah cerminan dari sebuah
tantangan yang jauh lebih luas. Diperkirakan 37 juta warga Indonesia hidup
dengan gangguan penglihatan.
Namun survei komunitas yang dilakukan dalam inisiatif ini
menemukan bahwa 45,8% responden belum pernah sekalipun menjalani pemeriksaan
mata secara profesional. Bukan karena mereka tidak peduli, 94,8% menyebut
kesehatan mata sebagai prioritas pribadi, tetapi karena akses dan sumber daya
belum selalu menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Baca Juga
#MelihatMasaDepan hadir untuk menjawab celah itu. Melihat
Bersama Initiative didukung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan
Ishk Tolaram Foundation sebagai mitra strategis, dengan Campaign for Good
sebagai mitra keterlibatan komunitas serta mitra riset bersama Universitas
Negeri Malang dan PKBI Lampung, inisiatif ini menggabungkan penyaluran hibah,
partisipasi publik, dan riset menjadi kesatuan gerakan yang menyeluruh.
Model Pendanaan yang Digerakkan oleh Komunitas
Tujuh organisasi kesehatan mata dari berbagai daerah di
Indonesia dipilih melalui proses seleksi ketat berdasarkan rekam jejak, dampak
dan kemampuan menjangkau komunitas dampingan. Kemudian, masyarakat luas bisa
mendukung di platform Campaign for Good.
Caranya sederhana, dengan menonton video edukasi tentang
kesehatan mata dan mengisi survei komunitas, kemudian aksi yang terverifikasi
akan membuka dana Rp50.000 dari untuk organisasi yang didukung. Tidak perlu
berdonasi uang, tidak perlu mengisi survei panjang. Cukup waktumu, perhatianmu,
dan keyakinanmu bahwa perubahan akan terjadi.
1.720 masyarakat, bagian dari komunitas berpartisipasi dan
bersama-sama membuka Rp71.500.000 dana donasi di platform Campaign for
Good. Tiga organisasi melampaui target mereka, yakni Yayasan Pelayanan Anak dan
Keluarga (LAYAK) mencapai 142% dari targetnya, sementara Yayasan Tanpa Batas
dan Yayasan Para Mitra Indonesia masing-masing mencapai 127% yang kemudian
terpilih untuk mendapatkan dana hibah lebih besar lagi, yakni Rp95.000.000 untuk
masing-masing organisasi.
Hibah tersebut mendukung berbagai program kesehatan mata di
seluruh Indonesia, di antaranya skrining kesehatan mata ke lebih dari 700 siswa
di Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan wilayah Jabodetabek. Lalu,
distribusi 225 pasang kacamata di Sidoarjo, Trenggalek, Purworejo, dan Kupang. Kemudian,
edukasi kesehatan mata untuk lebih dari 300 anak di sekolah-sekolah terpencil
di Nusa Tenggara Timur.
Selanjutnya, pemeriksaan mata gratis dan pemberian kacamata
bagi keluarga di Jawa Tengah. Berikutnya, sesi pelatihan “AI untuk Tunanetra”
bagi lebih dari 300 peserta untuk membantu penyandang disabilitas netra di
Indonesia menggunakan teknologi AI dalam kehidupan sehari-hari, difasilitasi
oleh pelatih tunanetra untuk peserta tunanetra
Ketua Umum, Yayasan Pelayanan Anak dan Keluarga (LAYAK), Evie
Tarigan, mengatakan, bergabung dengan #MelihatMasaDepan bukan hanya membuka
akses terhadap dukungan pendanaan, tetapi juga memperluas jaringan berbagi
pengalaman untuk lebih memperdalam pemahaman mengenai berbagai isu kesehatan
mata di Indonesia.
“Melalui program ini, kami merasa yakin bahwa ada komunitas
yang benar-benar peduli terhadap pekerjaan yang kami lakukan. Dukungan serta
responsivitas tim Melihat Bersama Initiative sepanjang program juga membuat
seluruh proses berjalan dengan lancar dan kolaboratif.”
Riset Komunitas Tentang Kesehatan Mata
Proses partisipasi ini juga menghasilkan salah satu kumpulan
data komunitas terbesar yang pernah dikumpulkan untuk studi ekosistem kesehatan
mata di Indonesia, mencakup 35 organisasi dan lebih dari 1.700 responden dari
29 provinsi dilakukan bersama Universitas Negeri Malang dan PKBI Lampung
sebagai partner riset.
Ada empat temuan didapatkan. Pertama, yang paling
aktif dalam isu ini adalah yang paling tidak terjangkau oleh pemberi dana.
65,7% organisasi kesehatan mata yang aktif tidak terdaftar dalam sistem formal,
sehingga tidak memenuhi syarat untuk pendanaan institusional atau kemitraan
pemerintah.
Kedua, ketika data berbeda dengan kenyataan.
91,4% organisasi merasa infrastruktur mereka sudah cukup, sampai kami bertanya
lebih dalam. Di balik angka itu ada sistem yang belum menyeluruh, teknologi
yang hanya dipahami satu orang, dan hampir tidak ada pengelolaan data sama
sekali.
Ketiga, minat terhadap AI nyata.
Aksesnya belum. 60% menyebut AI penting bagi masa depan layanan mata. Namun 80%
belum menggunakan fitur AI apapun. Hambatannya adalah biaya dan pelatihan,
bukan kemauan.
Keempat, komunitas dengan kebutuhan
terbesar paling sedikit terwakili. 40% responden studi berasal dari Jawa Timur.
Kalimantan dan Papua tidak terwakili sama sekali, padahal keduanya termasuk
wilayah dengan tingkat kebutuhan layanan mata yang tidak terpenuhi tertinggi di
Indonesia.
Temuan-temuan ini kini menjadi bahan diskusi lanjutan
tentang masa depan investasi kesehatan mata dan pengembangan ekosistem di
Indonesia. Program #MelihatMasaDepan mengundang para pemberi dana,
pembuat kebijakan, dan organisasi masyarakat sipil untuk melihat laporan
lengkap beserta rekomendasinya di melihatmasadepan.campaign.com.
