Kesaksian Orang Muda Tentang Bagaimana Krisis Iklim Merusak Wajah Indonesia
KAMI, orang muda, menyaksikan
langsung bagaimana krisis iklim mengubah wajah Indonesia. Dari hutan yang terus
terbakar, pesisir yang kian terkikis, hingga desa-desa yang semakin rentan
terhadap gagal panen, semua menunjukkan bahwa krisis ini bukan ancaman masa
depan, melainkan kenyataan hari ini.
Orang muda menjadi generasi yang akan menanggung dampak
terberat dalam jangka panjang. Kami hidup di tengah cuaca ekstrem, kualitas
air, udara dan lingkungan yang menurun, dan bencana ekologis yang semakin
sering terjadi. Namun, kami bukan pihak yang paling bertanggung jawab atas
krisis ini. Ketidakadilan inilah yang harus segera diakhiri.
Kegagalan Tata Kelola dan Krisis Multidimensi
Baca Juga
Krisis iklim di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari
kegagalan tata kelola sumber daya alam. Deforestasi, industri ekstraktif, dan
pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan telah memperparah
kerusakan. Negara kerap hadir sebagai pemberi izin, bukan pelindung. Akibatnya,
masyarakat adat dan lokal semakin tersingkir dari ruang hidupnya.
Dampak dari kegagalan tata kelola ini dirasakan oleh
masyarakat, dan dalam situasi ini perempuan menjadi kelompok yang paling rentan
dan paling terdampak, terutama di komunitas adat dan lokal. Perempuan sering
berada di garis depan dalam menghadapi dampak dari adanya krisis, dengan
mengelola sumber pangan, menjaga ketersediaan air, hingga merawat pengetahuan
lokal tentang lingkungan.
Peran ini menjadikan perempuan sebagai penjaga penting
keberlanjutan ekosistem, namun masih kerap tidak diakui dalam pengambilan
keputusan. Di saat yang sama, beban yang mereka tanggung justru semakin besar
di tengah krisis yang terus memburuk.
Sementara itu, krisis keanekaragaman hayati berjalan
beriringan dengan krisis iklim. Hilangnya habitat, degradasi ekosistem, dan
penurunan spesies berdampak langsung pada ketahanan pangan, kesehatan, dan
keberlanjutan sosial-budaya masyarakat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa keadilan iklim tidak dapat
dipisahkan dari keadilan gender dan perlindungan keanekaragaman hayati. Tanpa
pengakuan terhadap peran perempuan dan tanpa perlindungan terhadap
keanekaragaman hayati, upaya penanganan krisis iklim hanya akan menjadi solusi
parsial yang tidak menyentuh akar persoalan.
Kami menolak cara pandang yang menjadikan alam sekadar
komoditas. Alam adalah ruang hidup yang memiliki batas dan harus dijaga. Ketika
hutan rusak, laut tercemar, dan tanah kehilangan fungsi ekologisnya, yang
hilang bukan hanya lingkungan hidup, tetapi juga masa depan generasi kami.
Sehingga, kehidupan harus berada di atas keuntungan.
Mandat untuk Pemerintah dan DPR RI
Kami mendesak Pemerintah dan DPR RI untuk mengambil langkah
nyata yang memihak pada rakyat, bukan pada keuntungan korporasi. Kami menuntut
pengesahan RUU Keadilan Iklim sebagai dasar hukum mendesak yang menjamin
perlindungan bagi generasi sekarang dan yang akan datang, bagi petani, nelayan,
masyarakat adat, serta kelompok rentan termasuk perempuan dan penyandang
disabilitas.
Kemudian, transformasi kelembagaan yang kuat dengan membentuk
lembaga khusus yang berwenang melakukan sinkronisasi kebijakan lintas sektor
secara horizontal dan vertikal untuk memutus pola kerja sektoral yang tumpang
tindih.
Lalu, memastikan standar Gender, Disability, and Social
Inclusion (GEDSI) menjadi kewajiban hukum yang koheren dalam setiap keputusan
strategis penanganan iklim, serta melakukan pemulihan lingkungan hidup secara
menyeluruh serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku perusakan
lingkungan.
Memilih Masa Depan, Memperjuangkan Hari Ini
Hari Bumi bukan sekadar seremoni. Ini adalah pengingat bahwa
waktu untuk bertindak semakin sempit. Kebijakan iklim tanpa keadilan hanya akan
menjadi formalitas yang jauh dari kebutuhan rakyat. Kami, orang muda, akan
terus bersuara dan bergerak. Namun, tanggung jawab terbesar tetap ada pada
Pemerintah dan DPR RI, memilih berpihak pada masa depan yang adil dan
berkelanjutan, atau terus mempertahankan arah yang membawa kita pada krisis
yang lebih dalam.
