Hadapi Perubahan Iklim, BRIN Kembangkan Strategi Tanam Kentang–Bawang Merah di Solok
ANOMALI iklim seperti El Niño dan La
Niña berpotensi mempengaruhi potensi produksi komoditas pangan, khususnya di
Kecamatan Lembang Jaya, Kecamatan Danau Kembar, dan Kecamatan Lembah Gumanti,
Sumatera Barat. Wilayah tersebut merupakan daerah penghasil kentang dan bawang
merah sebagai komoditas utama.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi
Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) beserta tim dari PR Peternakan OR Pangan dan
Pertanian, serta Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumatera Barat,
mengkaji dampak variabilitas curah hujan terhadap tanaman kentang dan bawang
merah serta menyusun strategi pola tanam yang efektif. Analisis dilakukan
terhadap data curah hujan periode 2010–2023 dan perhitungan neraca air tanah.
“Kentang dan bawang merah merupakan komoditas yang
dibudidayakan di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, dan konsumsi tahunan kentang
dan bawang merah masyarakat terus meningkat. Namun, adanya perubahan iklim
menjadi faktor terhadap produksi kentang dan bawang merah,” ungkap Peneliti
Ahli Utama dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), Aris Pramudia, Selasa
(28/4).
Baca Juga
Berdasarkan analisis neraca air tanah yang dilakukan oleh
Aris dan tim risetnya, merekomendasikan pengaturan pola tanam dapat menjadi
kentang – bawang merah – bawang merah pada tahun normal dan La Niña, serta
bawang merah – kentang – bawang merah pada tahun El Niño.
“Strategi pengelolaan ini bertujuan untuk meningkatkan
indeks pertanaman dan produksi hortikultura serta mendukung pertanian yang
tangguh terhadap perubahan iklim. Anomali iklim ini memberikan dampak yang
berbeda, dengan pengaruh yang paling nyata terjadi pada periode curah hujan
rendah. Curah hujan cenderung menurun dan berfluktuasi pada musim kemarau,
sedangkan pada musim hujan relatif stabil,” lanjut Aris.
Data yang dikumpulkan meliputi curah hujan, suhu udara, luas
tanam, dan produksi kentang serta bawang merah. Data curah hujan yang digunakan
berupa data harian periode 2011–2023. Untuk setiap kecamatan, diambil tiga
titik pengamatan, kemudian dirata-ratakan menjadi data tingkat kecamatan.
Limbah Kentang dan Bawang Merah Berpotensi
Dukung Pertanian Zero Waste
Di sisi lain, pertanian kentang dan bawang merah yang
merupakan hortikultura di Sumatera Barat juga berpotensi menghasilkan limbah
dalam jumlah besar. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat
menimbulkan permasalahan baru.
Ari menyebutkan bahwa limbah bawang merah dan kentang
memiliki potensi besar untuk mendukung prinsip zero waste melalui
pemanfaatannya sebagai bahan kompos, karena memiliki kandungan organik yang
tinggi pada daun dan akar. “Seperti yang kita ketahui, kompos dari limbah
bawang merah dan kentang dapat meningkatkan kesuburan tanah, mengurangi
kebutuhan pupuk kimia, serta mendorong praktik pertanian ramah lingkungan,”
jelasnya.
Limbah hasil budidaya dan pengolahan kedua komoditas
tersebut mengandung senyawa fenolik bioaktif, seperti asam klorogenat pada
kulit kentang dan flavonoid pada limbah bawang merah. Limbah ini umumnya
dimanfaatkan sebagai pupuk dan pakan ternak, namun pengolahan lebih lanjut
menjadi produk bernilai tambah dapat mengurangi dampak lingkungan sekaligus
mendukung pertanian berkelanjutan.
“Kami berharap riset ini dapat mendukung swasembada pangan
yang tangguh dari anomali iklim serta memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi
petani serta menjadikan Sumatera Barat sebagai model pengelolaan limbah
pertanian yang dapat diterapkan di wilayah lain,” pungkas Aris. (kpv/ed:kg,jml)
