Energi Keberagaman Berpadu dalam Perayaan Cap Go Meh di Singkawang Saat Ramadan
Awal Maret tahun ini, kalender seolah melukiskan sebuah kanvas yang indah, penuh warna sekaligus khusyuk. Di satu sisi, udara Indonesia dipenuhi dengan lantunan doa dan nuansa suci Ramadan. Di sisi lain, derap langkah barongsai, gebukan genderang, dan ritual penuh makna Tatung menggema, merayakan Cap Go Meh, penutup perayaan Tahun Baru Imlek. Dua perayaan besar, dua ritme spiritual, namun bertemu dalam harmoni yang memukau.
Pusaran harmoni itu terasa paling kental di Singkawang. Kota berjuluk “Seribu Kelenteng” di Kalimantan Barat ini kembali menjadi magnet ribuan warga dan wisatawan. Jalanan kota berubah menjadi panggung raksasa, di mana barongsai meliuk indah, tatung unjuk kebolehan dalam balutan ritual sakral, arak-arakan budaya memikat pandangan, dan ragam kuliner khas seolah memanggil-manggil.
Tahun ini, kemeriahan tersebut terasa semakin berenergi, berkat kehadiran Extrajoss yang untuk ketiga kalinya menjadi bagian tak terpisahkan dari Festival Cap Go Meh, didampingi Bobon Santoso, “Chef Rakyat Indonesia” yang selalu punya cara unik merayakan keberagaman.
Baca Juga
Bagi masyarakat Tionghoa, Cap Go Meh melambangkan penyempurnaan, kebersamaan, dan harapan akan keberuntungan. Namun di Singkawang, maknanya jauh melampaui seremoni. Perayaan ini adalah cermin hidup keseharian warganya, sebuah masyarakat yang terlahir dari keberagaman etnis Tionghoa, Melayu, Dayak, dan lainnya, namun tumbuh dalam untaian kerukunan dan saling menghormati.
Arwin Nugraha Hutasoit, Head of Marketing PT Bintang Toedjoe, yang turut merasakan langsung denyut perayaan, tak dapat menyembunyikan kekagumannya. “Singkawang menunjukkan bagaimana keberagaman bisa dirawat dengan baik. Di sini masyarakatnya tetap rukun, tetap menjaga budaya, dan saling menghormati. Ini energi positif yang nyata,” tuturnya.
Bukan omong kosong. Predikat Singkawang sebagai simbol harmoni bukanlah isapan jempol belaka. Indeks Kota Toleran versi SETARA Institute 2024 menempatkan Singkawang di posisi kedua sebagai kota paling toleran di Indonesia, tepat di bawah Salatiga. Sebuah capaian yang menggarisbawahi bagaimana perbedaan di sini tidak menjadi jarak, melainkan warna yang memperkaya, dirawat dengan sungguh-sungguh, dan dijaga bersama.
Di tengah kemeriahan itu, kehadiran Bobon Santoso menambah nuansa tersendiri. Dikenal dengan misi mengangkat kuliner daerah sebagai jembatan persatuan, Bobon percaya bahwa makanan memiliki kekuatan jujur untuk menyatukan siapa pun. Dalam momen Cap Go Meh, ia tak hanya hadir sebagai figur publik, melainkan berbaur, berbagi tawa, dan tentu saja, berbagi energi.
Bersama Extrajoss, ia membagikan minuman berenergi kepada komunitas Tatung yang membutuhkan stamina ekstra untuk menjalankan ritual mereka. “Menurut saya, Cap Go Meh itu bukan cuma perayaan budaya, tapi juga perayaan rasa. Lontong Cap Go Meh misalnya, itu simbol akulturasi. Ada perpaduan budaya Tionghoa dan Nusantara di satu piring. Itu yang bikin Indonesia istimewa,” ujar Bobon seraya ingin mengatakan sebuah filosofi sederhana namun mengena, bahwa keberagaman bisa hadir bahkan di dalam semangkuk kuliner.
Ramadan dan Cap Go Meh: Harmoni yang Tak Sekadar Seremonial

Chef Bobon Santoso saat perayaan Cap Go Meh di Singkawang
Mungkin yang paling berkesan adalah bagaimana Cap Go Meh tahun ini bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Momen ini justru membuktikan kekuatan toleransi yang nyata dan terasa dekat. Tidak ada yang saling mendominasi, tidak ada yang merasa terganggu. Umat Muslim menjalankan ibadah dengan khusyuk, sementara di sisi lain, perayaan Cap Go Meh berjalan penuh sukacita. Semua berjalan berdampingan, pada porsinya masing-masing, dengan saling menghormati. “Merayakan Cap Go Meh di tengah Ramadan menurut saya indah sekali. Ini contoh nyata bagaimana keberagaman bisa jadi kekuatan,” tambah Bobon, meresapi momen tersebut.
Dari kota kecil di Kalimantan Barat ini, sebuah pesan besar terkirim, Indonesia selalu punya ruang untuk hidup bersama. Di Singkawang, Cap Go Meh bukan hanya tentang perayaan. Ia tentang harapan. Tentang keyakinan bahwa perbedaan adalah kekayaan yang bisa berjalan berdampingan. Dan tentang energi baik yang, jika dijaga bersama, akan selalu mampu menguatkan negeri.
“Melalui momentum ini, Extrajoss berharap semangat toleransi dan kebersamaan dari Singkawang dapat menginspirasi masyarakat di berbagai daerah. Karena di tengah tantangan apa pun, energi positif dan rasa saling menghormati akan selalu menjadi fondasi Indonesia,” pungkas Arwin.
Di Singkawang, Cap Go Meh bukan hanya sebuah perayaan budaya, ia adalah manifestasi nyata dari Pancasila, sebuah perayaan kehidupan itu sendiri, yang selalu punya energi untuk dirayakan.