Dari Kalijaya Menyemai Kepemimpinan Perempuan Pejuang Reforma Agraria Sejati
EMBUN pagi masih menggantung di
dedaunan kopi ketika perempuan-perempuan petani mulai memenuhi halaman sebuah
bangunan sederhana di Desa Kalijaya, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis,
Jawa Barat. Mereka datang dari berbagai penjuru Jawa Barat, sebagian membawa
hasil panen, sebagian lain membawa cerita panjang tentang tanah yang
bertahun-tahun mereka perjuangkan.
Hari itu, Kamis, 02 Juli 2026, mereka tidak datang untuk berunjuk rasa ataupun menghadiri rapat organisasi. Mereka datang untuk meresmikan sebuah bangunan ruang belajar yang diyakini akan menjadi tempat lahirnya generasi baru perempuan pejuang reforma agraria. Bangunan itu bernama ARAS Siti Halimah.

Baca Juga
Gedung ARAS Siti Halimah dikelilingi hamparan hijau kebun dan lahan pertanian warga Kalijaya. [Foto: KPA]
Dari berandanya, hamparan hijau membentang hingga kaki langit. Kebun kopi tumbuh berdampingan dengan kelapa, durian, albasia, dan beragam tanaman pangan yang dikelola masyarakat. Lanskap itu bukan sekadar pemandangan. Ia menjadi bukti bahwa tanah yang pernah dipenuhi konflik kini telah berubah menjadi ruang hidup yang memberi penghidupan bagi warga.
Bagi orang yang baru pertama kali datang, ARAS mungkin
tampak seperti balai pertemuan biasa. Namun bagi perempuan-perempuan tani yang
berkumpul pagi itu, bangunan tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar. Ia
lahir bukan dari proyek pemerintah ataupun bantuan korporasi, melainkan dari
gotong royong petani yang meyakini bahwa perjuangan memperoleh tanah harus
dilanjutkan dengan perjuangan membangun pengetahuan.
Bagi Agustiana, nama ARAS Siti Halimah bukan sekadar
penghormatan kepada seorang perempuan. Nama itu menjadi simbol keberanian,
keteguhan, dan kemampuan perempuan desa melahirkan generasi yang membawa
perubahan.
Ia mengaitkannya dengan sosok Siti Halimah As-Sa’diyah, ibu
susu Nabi Muhammad SAW, yang meski hidup dalam keterbatasan mampu membesarkan
sosok yang kelak membawa perubahan besar bagi dunia. “Kami berharap nama itu
menjadi spirit agar perempuan-perempuan desa percaya diri melahirkan
pemimpin-pemimpin bangsa,” ujarnya.
Makna tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kepemimpinan lahir dari pengalaman hidup sehari-hari. Dari tangan perempuan benih disimpan, pangan diproduksi, dan nilai-nilai gotong royong diwariskan. Karena itu, memperkuat kepemimpinan perempuan sejatinya berarti memperkuat fondasi kehidupan pedesaan.

Sekjen KPA, Dewi Kartika saat meresmikan Gedung ARAS Siti Halimah. [Foto: KPA]
Peresmian ARAS Siti Halimah menjadi salah satu penanda
penting dalam perjalanan gerakan reforma agraria. Bersamaan dengan momentum
tersebut, dideklarasikan pula Federasi Serikat Petani Perempuan (FSPP) Jawa
Barat. Dua peristiwa ini saling melengkapi: satu membangun ruang kaderisasi,
satunya lagi memperkuat organisasi perempuan di tingkat wilayah.
Namun, bagi Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria
(KPA), Dewi Kartika, makna terbesar hari itu bukanlah berdirinya sebuah
bangunan. “Ini merupakan pusat pendidikan reforma agraria sejati yang
diperuntukkan khusus bagi kader-kader perempuan pejuang reforma agraria,”
ujarnya.
Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa ARAS tidak dibangun
sebagai gedung serbaguna ataupun tempat pelatihan sesaat. Sekolah ini
diproyeksikan sebagai ruang kaderisasi jangka panjang yang akan memperkuat
kepemimpinan perempuan dalam gerakan reforma agraria.
Selama ini, perempuan selalu hadir dalam kehidupan agraria. Mereka menanam benih, merawat tanaman, menjaga cadangan pangan keluarga, mengelola ekonomi rumah tangga, hingga berdiri di garis depan ketika tanah dan ruang hidup masyarakat terancam.

Beberapa potret kegiatan perempuan pejuang
reforma agraria di salah satu dinding Gedung ARAS Siti Halimah. [Foto: KPA]
Namun, besarnya peran tersebut tidak selalu diikuti dengan
kesempatan yang setara untuk memimpin organisasi maupun menentukan arah
perjuangan. Karena itu, bagi Dewi, memperjuangkan reforma agraria pada masa
kini berarti juga memperjuangkan lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan dari
desa.
Menurutnya, gerakan rakyat tidak cukup hanya menghasilkan
keberhasilan dalam merebut kembali tanah. Gerakan juga harus melahirkan kader
yang mampu membaca persoalan agraria secara kritis, mengorganisasi masyarakat,
serta mengembangkan pengelolaan wilayah yang adil dan berkelanjutan. Di situlah
ARAS menemukan perannya.
Pendidikan Tahap Penting Perjuangan Reforma Agraria
Di ARAS, ruang kelas tidak berhenti pada dinding bangunan.
Kebun-kebun rakyat menjadi laboratorium hidup. Tanah yang dahulu diperjuangkan
kini menjadi media pembelajaran tentang bagaimana reforma agraria sejati
dijalankan. Sekolah ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan dengan
pengalaman nyata masyarakat.
Para peserta tidak hanya mempelajari hukum agraria kritis, ekonomi kerakyatan, teknik pengorganisasian rakyat, kepemimpinan perempuan, hingga strategi membangun solidaritas antarkomunitas. Mereka juga akan belajar langsung dari praktik masyarakat yang berhasil mempertahankan dan mengelola tanah hasil perjuangan reforma agraria.

Sekjen SPP, Agustiana bersama kader muda perempuan SPP di depan Gedung ARAS Siti Halimah. [Foto: KPA]
Kalijaya dipilih bukan tanpa alasan. Desa ini menyimpan
pengalaman panjang mengenai perjuangan masyarakat merebut kembali hak atas
tanah dan mengubahnya menjadi tanah sebagai sumber kehidupan yang produktif.
Karena itu, setiap sudut desa menjadi bagian dari proses belajar.
Bagi Dewi, pendidikan merupakan tahap penting dalam
perjuangan reforma agraria. Setelah masyarakat sudah bisa menggarap dan
mengelolah tanah, tantangan berikutnya adalah memastikan tanah tersebut mampu
menopang kehidupan secara adil, produktif, dan berkelanjutan. Tanpa pengetahuan
dan organisasi yang kuat, keberhasilan tersebut akan sulit dipertahankan.
Pandangan itu sekaligus menandai perubahan orientasi gerakan
reforma agraria. Selama puluhan tahun, perhatian lebih banyak tercurah pada
upaya memperjuangkan pengakuan hak atas tanah. Kini, tantangannya berkembang:
membangun kapasitas masyarakat untuk mengelola, mempertahankan, dan mewariskan
hasil-hasil perjuangan kepada generasi berikutnya.
Dalam proses itu, perempuan memegang peran yang semakin
strategis. Mereka bukan hanya pengelola pangan keluarga, tetapi juga penggerak
organisasi, pendidik di komunitasnya, sekaligus calon pemimpin yang akan
menentukan arah gerakan di masa depan. Karena itu, pendidikan kader perempuan
bukan agenda pelengkap, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari reforma
agraria sejati.
Kehadiran ARAS Siti Halimah menjadi jawaban atas kebutuhan
tersebut. Sekolah ini dibangun agar perempuan desa memiliki ruang untuk
memperkuat kapasitas, bertukar pengalaman, dan mengembangkan kepemimpinan yang
tumbuh dari realitas kehidupan mereka sendiri.
Pendidikan yang dikembangkan di ARAS juga berangkat dari
keyakinan bahwa reforma agraria tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun
masyarakat yang lebih adil. Tanah bukan sekadar aset ekonomi, tetapi ruang
hidup yang harus mampu menghadirkan kesejahteraan, menjaga keberlanjutan
lingkungan, sekaligus memperkuat solidaritas di tingkat komunitas.
Karena itu, para peserta tidak hanya diajak memahami
kebijakan agraria, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat
Kalijaya mengelola bentang agroforestri yang memadukan kopi, kelapa, durian,
albasia, dan tanaman pangan dalam satu sistem pengelolaan. Pengalaman tersebut
menjadi pelajaran bahwa reforma agraria dapat berjalan beriringan dengan
pelestarian lingkungan.
Di tengah meningkatnya konflik agraria, ekspansi investasi
skala besar, dan krisis iklim yang semakin dirasakan masyarakat desa, ARAS Siti
Halimah diharapkan menjadi tempat lahirnya kader-kader perempuan yang mampu
menjawab tantangan zaman.
Mereka dipersiapkan bukan hanya untuk mempertahankan tanah,
tetapi juga membangun organisasi rakyat yang tangguh serta mengembangkan
pengelolaan wilayah yang berpihak pada keadilan sosial dan keberlanjutan
ekologis.
Menjelang sore, halaman ARAS mulai lengang. Para peserta
kembali ke desa masing-masing dengan membawa lebih dari sekadar pengalaman
menghadiri sebuah peresmian. Mereka membawa pengetahuan baru, jejaring yang
semakin kuat, dan keyakinan bahwa perjuangan reforma agraria harus terus
dilanjutkan dan diperkuat melalui pendidikan.
Di lereng-lereng hijau Kalijaya, sebuah sekolah rakyat telah
berdiri. Bukan sekadar bangunan yang menjadi tempat belajar, melainkan ruang
tempat pengalaman perjuangan diwariskan dan kepemimpinan perempuan
dipersiapkan. Dari tempat inilah harapan akan reforma agraria sejati ditanam,
dirawat, dan kelak akan tumbuh bersama generasi baru yang melanjutkan
perjuangan. (penulis: pramudhita/editor: benni wijaya)
