Logo Porosbumi
14 Agu 2026,
14 August 2026
LIVE TV

Dari Kalijaya Menyemai Kepemimpinan Perempuan Pejuang Reforma Agraria Sejati

PorosBumi 14 Agu 2026, 07:58:15 WIB
Dari Kalijaya Menyemai Kepemimpinan Perempuan Pejuang Reforma Agraria Sejati
ARAS Siti Halimah, bangunan berupa ruang belajar bagi para perempuan tani yang menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan gerakan reforma agraria. [Foto: KPA]

EMBUN pagi masih menggantung di dedaunan kopi ketika perempuan-perempuan petani mulai memenuhi halaman sebuah bangunan sederhana di Desa Kalijaya, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Mereka datang dari berbagai penjuru Jawa Barat, sebagian membawa hasil panen, sebagian lain membawa cerita panjang tentang tanah yang bertahun-tahun mereka perjuangkan.

Hari itu, Kamis, 02 Juli 2026, mereka tidak datang untuk berunjuk rasa ataupun menghadiri rapat organisasi. Mereka datang untuk meresmikan sebuah bangunan ruang belajar yang diyakini akan menjadi tempat lahirnya generasi baru perempuan pejuang reforma agraria. Bangunan itu bernama ARAS Siti Halimah.


Gedung ARAS Siti Halimah dikelilingi hamparan hijau kebun dan lahan pertanian warga Kalijaya. [Foto: KPA]

Dari berandanya, hamparan hijau membentang hingga kaki langit. Kebun kopi tumbuh berdampingan dengan kelapa, durian, albasia, dan beragam tanaman pangan yang dikelola masyarakat. Lanskap itu bukan sekadar pemandangan. Ia menjadi bukti bahwa tanah yang pernah dipenuhi konflik kini telah berubah menjadi ruang hidup yang memberi penghidupan bagi warga.

Bagi orang yang baru pertama kali datang, ARAS mungkin tampak seperti balai pertemuan biasa. Namun bagi perempuan-perempuan tani yang berkumpul pagi itu, bangunan tersebut memiliki arti yang jauh lebih besar. Ia lahir bukan dari proyek pemerintah ataupun bantuan korporasi, melainkan dari gotong royong petani yang meyakini bahwa perjuangan memperoleh tanah harus dilanjutkan dengan perjuangan membangun pengetahuan.

Bagi Agustiana, nama ARAS Siti Halimah bukan sekadar penghormatan kepada seorang perempuan. Nama itu menjadi simbol keberanian, keteguhan, dan kemampuan perempuan desa melahirkan generasi yang membawa perubahan.

Ia mengaitkannya dengan sosok Siti Halimah As-Sa’diyah, ibu susu Nabi Muhammad SAW, yang meski hidup dalam keterbatasan mampu membesarkan sosok yang kelak membawa perubahan besar bagi dunia. “Kami berharap nama itu menjadi spirit agar perempuan-perempuan desa percaya diri melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa,” ujarnya.

Makna tersebut sekaligus mengingatkan bahwa kepemimpinan lahir dari pengalaman hidup sehari-hari. Dari tangan perempuan benih disimpan, pangan diproduksi, dan nilai-nilai gotong royong diwariskan. Karena itu, memperkuat kepemimpinan perempuan sejatinya berarti memperkuat fondasi kehidupan pedesaan.


Sekjen KPA, Dewi Kartika saat meresmikan Gedung ARAS Siti Halimah. [Foto: KPA]

Peresmian ARAS Siti Halimah menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan gerakan reforma agraria. Bersamaan dengan momentum tersebut, dideklarasikan pula Federasi Serikat Petani Perempuan (FSPP) Jawa Barat. Dua peristiwa ini saling melengkapi: satu membangun ruang kaderisasi, satunya lagi memperkuat organisasi perempuan di tingkat wilayah.

Namun, bagi Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Kartika, makna terbesar hari itu bukanlah berdirinya sebuah bangunan. “Ini merupakan pusat pendidikan reforma agraria sejati yang diperuntukkan khusus bagi kader-kader perempuan pejuang reforma agraria,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa ARAS tidak dibangun sebagai gedung serbaguna ataupun tempat pelatihan sesaat. Sekolah ini diproyeksikan sebagai ruang kaderisasi jangka panjang yang akan memperkuat kepemimpinan perempuan dalam gerakan reforma agraria.

Selama ini, perempuan selalu hadir dalam kehidupan agraria. Mereka menanam benih, merawat tanaman, menjaga cadangan pangan keluarga, mengelola ekonomi rumah tangga, hingga berdiri di garis depan ketika tanah dan ruang hidup masyarakat terancam.


Beberapa potret kegiatan perempuan pejuang reforma agraria di salah satu dinding Gedung ARAS Siti Halimah. [Foto: KPA]

Namun, besarnya peran tersebut tidak selalu diikuti dengan kesempatan yang setara untuk memimpin organisasi maupun menentukan arah perjuangan. Karena itu, bagi Dewi, memperjuangkan reforma agraria pada masa kini berarti juga memperjuangkan lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan dari desa.

Menurutnya, gerakan rakyat tidak cukup hanya menghasilkan keberhasilan dalam merebut kembali tanah. Gerakan juga harus melahirkan kader yang mampu membaca persoalan agraria secara kritis, mengorganisasi masyarakat, serta mengembangkan pengelolaan wilayah yang adil dan berkelanjutan. Di situlah ARAS menemukan perannya.

 

Pendidikan Tahap Penting Perjuangan Reforma Agraria

Di ARAS, ruang kelas tidak berhenti pada dinding bangunan. Kebun-kebun rakyat menjadi laboratorium hidup. Tanah yang dahulu diperjuangkan kini menjadi media pembelajaran tentang bagaimana reforma agraria sejati dijalankan. Sekolah ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman nyata masyarakat.

Para peserta tidak hanya mempelajari hukum agraria kritis, ekonomi kerakyatan, teknik pengorganisasian rakyat, kepemimpinan perempuan, hingga strategi membangun solidaritas antarkomunitas. Mereka juga akan belajar langsung dari praktik masyarakat yang berhasil mempertahankan dan mengelola tanah hasil perjuangan reforma agraria.


Sekjen SPP, Agustiana bersama kader muda perempuan SPP di depan Gedung ARAS Siti Halimah. [Foto: KPA]

Kalijaya dipilih bukan tanpa alasan. Desa ini menyimpan pengalaman panjang mengenai perjuangan masyarakat merebut kembali hak atas tanah dan mengubahnya menjadi tanah sebagai sumber kehidupan yang produktif. Karena itu, setiap sudut desa menjadi bagian dari proses belajar.

Bagi Dewi, pendidikan merupakan tahap penting dalam perjuangan reforma agraria. Setelah masyarakat sudah bisa menggarap dan mengelolah tanah, tantangan berikutnya adalah memastikan tanah tersebut mampu menopang kehidupan secara adil, produktif, dan berkelanjutan. Tanpa pengetahuan dan organisasi yang kuat, keberhasilan tersebut akan sulit dipertahankan.

Pandangan itu sekaligus menandai perubahan orientasi gerakan reforma agraria. Selama puluhan tahun, perhatian lebih banyak tercurah pada upaya memperjuangkan pengakuan hak atas tanah. Kini, tantangannya berkembang: membangun kapasitas masyarakat untuk mengelola, mempertahankan, dan mewariskan hasil-hasil perjuangan kepada generasi berikutnya.

Dalam proses itu, perempuan memegang peran yang semakin strategis. Mereka bukan hanya pengelola pangan keluarga, tetapi juga penggerak organisasi, pendidik di komunitasnya, sekaligus calon pemimpin yang akan menentukan arah gerakan di masa depan. Karena itu, pendidikan kader perempuan bukan agenda pelengkap, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari reforma agraria sejati.

Kehadiran ARAS Siti Halimah menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut. Sekolah ini dibangun agar perempuan desa memiliki ruang untuk memperkuat kapasitas, bertukar pengalaman, dan mengembangkan kepemimpinan yang tumbuh dari realitas kehidupan mereka sendiri.

Pendidikan yang dikembangkan di ARAS juga berangkat dari keyakinan bahwa reforma agraria tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun masyarakat yang lebih adil. Tanah bukan sekadar aset ekonomi, tetapi ruang hidup yang harus mampu menghadirkan kesejahteraan, menjaga keberlanjutan lingkungan, sekaligus memperkuat solidaritas di tingkat komunitas.

Karena itu, para peserta tidak hanya diajak memahami kebijakan agraria, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat Kalijaya mengelola bentang agroforestri yang memadukan kopi, kelapa, durian, albasia, dan tanaman pangan dalam satu sistem pengelolaan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa reforma agraria dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan.

Di tengah meningkatnya konflik agraria, ekspansi investasi skala besar, dan krisis iklim yang semakin dirasakan masyarakat desa, ARAS Siti Halimah diharapkan menjadi tempat lahirnya kader-kader perempuan yang mampu menjawab tantangan zaman.

Mereka dipersiapkan bukan hanya untuk mempertahankan tanah, tetapi juga membangun organisasi rakyat yang tangguh serta mengembangkan pengelolaan wilayah yang berpihak pada keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis.

Menjelang sore, halaman ARAS mulai lengang. Para peserta kembali ke desa masing-masing dengan membawa lebih dari sekadar pengalaman menghadiri sebuah peresmian. Mereka membawa pengetahuan baru, jejaring yang semakin kuat, dan keyakinan bahwa perjuangan reforma agraria harus terus dilanjutkan dan diperkuat melalui pendidikan.

Di lereng-lereng hijau Kalijaya, sebuah sekolah rakyat telah berdiri. Bukan sekadar bangunan yang menjadi tempat belajar, melainkan ruang tempat pengalaman perjuangan diwariskan dan kepemimpinan perempuan dipersiapkan. Dari tempat inilah harapan akan reforma agraria sejati ditanam, dirawat, dan kelak akan tumbuh bersama generasi baru yang melanjutkan perjuangan. (penulis: pramudhita/editor: benni wijaya)


Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```