- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Bukan Sekadar Jargon, Hilirisasi Langkah Nyata Wujudkan Asta Cita

Keterangan Gambar : Hilirisasi jadi langkah nyata wujudkan Asta Cita (dok ESDM)
JAKARTA-Satu tahun implementasi kebijakan hilirisasi di bawah
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming
Raka telah menunjukkan dampak nyata bagi roda perekonomian daerah.
Program hilirisasi mineral yang
digerakkan oleh BUMN Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) tidak
hanya memperkuat struktur industri nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja
baru dan menumbuhkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar wilayah
operasi tambang.
Ketua Komisi XII DPR RI Bambang
Patijaya menilai kebijakan hilirisasi yang dijalankan saat ini bukan sekadar
jargon politik, melainkan wujud nyata transformasi ekonomi Indonesia dari
negara berbasis komoditas menuju negara industri bernilai tambah.
Baca Lainnya :
- Pemerintah Siapkan Skema Pembelian Hasil Produksi Minyak Rakyat 80% Dari ICP0
- Pertamina Wujudkan Transformasi Bisnis Berkelanjutan Melalui BBM Ramah Lingkungan 0
- Terbesar di Asia Tenggara, Tangki Raksasa Lawe-Lawe Ikon Baru Ketahanan Energi Indonesia0
- Pertamina Berkomitmen Perkuat Strategi Menuju Indonesia Mandiri Energi 0
- Listrik di Beranda NKRI: Energi Berkeadilan yang Menghidupkan Desa dan Harapan 0
“Hilirisasi itu bukan sekadar
narasi. Hilirisasi ini adalah bentuk dari transformasi ekonomi Indonesia, dari
yang tadinya berbasis komoditas menjadi minimal pengolahan barang setengah
jadi,” kata Bambang dalam sesi diskusi Minerba Convex 2025 di JCC Senayan,
Jakarta, dikutip Minggu (19/10/2025).
Menurut Bambang, hilirisasi
merupakan langkah penting dalam mewujudkan Asta Cita kelima Presiden Prabowo
Subianto, yakni melanjutkan hilirisasi dan melaksanakan industrialisasi untuk
memperkuat ekonomi dalam negeri. Karena itu, Pemerintah dan DPR, lanjutnya,
berkomitmen mengawal pelaksanaan kebijakan tersebut secara terukur dan
berkelanjutan.
“Kita lihat pemerintah sangat
serius. Kenapa saya katakan bahwa hilirisasi ini bukan sekadar wacana? Action
plan-nya sudah jelas. Untuk melakukan hilirisasi dan mewujudkannya sudah
dibentuk Satgas Hilirisasi. Apa yang mau dilakukan dalam hilirisasi (sudah)
ditentukan dan difokuskan,” ujarnya.
Lebih lanjut, politisi Golkar ini
mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyusun peta jalan hilirisasi dengan
fokus pada 28 komoditas unggulan yang mencakup sektor minerba, kelautan dan
perikanan, hingga perkebunan. Total investasi yang direncanakan dalam peta
jalan tersebut mencapai USD618 miliar hingga tahun 2040.
Dalam pelaksanaannya, Satuan
Tugas (Satgas) Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional yang diketuai oleh
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah
menyerahkan 18 dokumen feasibility study (FS) kepada BPI Danantara sebagai
lembaga pelaksana pembiayaan dan proyek.
Dari total proyek tersebut,
delapan di antaranya berasal dari sektor mineral dan batu bara dengan nilai
investasi mencapai USD20,1 miliar atau sekitar Rp321,8 triliun. Proyek-proyek
tersebut diperkirakan mampu menyerap lebih dari 100 ribu tenaga kerja baru di
daerah.
“Ada 18 proyek hilirisasi yang
diserahterimakan kepada Danantara. Nah, Danantara ini siapa? Danantara ini
adalah pihak yang akan membiayai dan melaksanakan proyek-proyek tersebut.
Konsepnya adalah B2B. Karena kalau hilirisasi hanya mengandalkan anggaran dari
APBN, tidak akan terjadi,” sambungnya.
Ia mengakui bahwa langkah
hilirisasi sumber daya alam untuk menciptakan nilai tambah memiliki tantangan
tersendiri. Namun, Komisi XII, tegas Bambang, akan terus mengawal pelaksanaan
hilirisasi terutama di sektor hulu, termasuk komoditas batu bara dan mineral.
“Nah, tentunya ini menjadi satu
tantangan, challenge bagi kita. Terkait dengan bagaimana kita menerjemahkan
Asta Cita yang kelima, saya pikir apa yang dilakukan oleh pemerintah dan DPR
itu sejalan,” ujarnya.
Bambang menilai, langkah
terintegrasi antara pemerintah, BUMN seperti MIND ID, dan dunia usaha menjadi
pondasi kuat bagi transformasi industri nasional. Hilirisasi, katanya, bukan
hanya memperkuat daya saing ekonomi, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi
pertumbuhan ekonomi daerah dan pemberdayaan UMKM di sekitar wilayah tambang.
Melansir laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, realisasi investasi hilirisasi pada semester I 2025 mencapai Rp280,08 triliun.Dari jumlah tersebut, Rp193,8 triliun berasal dari sektor minerba dengan kontribusi utamanya dari nikel Rp94,1 triliun, tembaga Rp40 triliun, bauksit Rp27,7 triliun, besi baja Rp21,5 triliun, timah Rp3,5 triliun, serta komoditas lainnya seperti pasir silika, emas, perak, kobalt, mangan, batubara, dan aspal buton senilai Rp7 triliun.
Melalui langkah terintegrasi ini,
hilirisasi dinilai bukan hanya memperkuat daya saing industri nasional, tetapi
juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru di daerah. Program ini
menjadi pendorong nyata pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif di tengah
transformasi besar menuju Indonesia Emas 2045. (wahyono)
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

