- Polusi Udara Meningkatkan Risiko dan Memperburuk Kondisi Penderita MND
- Sistem Pertahanan Tubuh Dapat Menentukan Seberapa Sakit Kita Saat Terserang Flu
- Aspek Hukum Clear, KPK Dukung KemenPKP Optimalkan Lahan Meikarta untuk Rusun Bersubsidi
- BRIN - OceanX Identifikasi 14 Spesies Megafauna dan Petakan Gunung Bawah Laut Sulawesi Utara
- Bantuan Bencana Sumatera Didominasi Makanan Instan, Kesehatan Anak Jadi Taruhan
- Krisis Makna di Balik Identitas Starbucks di Era Digital
- Mengapa Komunikasi PAM Jaya Perlu Berubah
- Krisis BBM Pertamina, Ketika Reputasi, Identitas, dan Kepercayaan Publik Bertabrakan
- Greenpeace-WALHI: Pencabutan 28 Izin Perusahaan Pasca Banjir Sumatera Harus Transparan dan Tuntas
- KemenPU Susun Rencana Rehabilitasi 23 Muara Sungai Terdampak Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Bobibos dari Jerami: Inovasi atau Ilusi Energi?
.jpg)
Muhammad Sirod
Dewan Pakar ASPEBINDO, Wasekjen HKTI
Baca Lainnya :
- Perkuat Ketahanan Energi, Tambahan Produksi Gas Medco dari Sumur Suban Jauh Lampaui Target 0
- Sektor Pertambangan Jadi Lokomotif Ekonomi Lokal di Berbagai Daerah0
- MIND ID Perkuat Komitmen Transisi Energi Lewat Hilirisasi Bauksit0
- Sampah Akan Jadi Rebutan Sebagai Sumber Bahan Bakar 0
- Pertamina Nyalakan Harapan dan Kemandirian Penyintas ODGJ Melalui Pemanfaatan Energi Surya0
PEMANFAATAN jerami sebagai sumber bio-oil
menawarkan janji energi terbarukan yang menarik. Jerami tersedia dalam jumlah
besar dan selama ini tidak memiliki nilai ekonomi tinggi. Potensi ini memicu
harapan publik bahwa Indonesia dapat menghasilkan bahan bakar alternatif secara
mandiri. Harapan ini wajar, tetapi efektivitas teknologi yang digunakan tetap
perlu dianalisis secara objektif.
Produksi bio-oil melalui pirolisis cepat menghasilkan
cairan energi yang volume hasilnya cukup tinggi. Proses pemanasan jerami dalam
kondisi tanpa oksigen dapat menghasilkan 40 hingga 60 persen bio-oil dari
total berat bahan baku. Angka ini memberi kesan efisiensi produksi yang memadai
di tahap awal. Namun kualitas bio-oil yang dihasilkan masih berada jauh di
bawah standar bensin konvensional yang dipakai kendaraan saat ini.
Bio-oil dari jerami memiliki kandungan
air dan oksigen yang tinggi. Sifat kimianya belum stabil untuk penyimpanan
jangka panjang dan nilai kalorinya relatif rendah. Pemurnian diperlukan agar bio-oil
mendekati standar bahan bakar modern.
Tahapan pemurnian ini
memerlukan energi, katalis, dan fasilitas industri yang kompleks. Tanpa
rangkaian pemurnian yang lengkap, bio-oil tidak dapat disetarakan dengan
bensin yang memiliki kualitas pembakaran tinggi. Klaim teoritis musti dilakukan
uji laboratorium lalu skala pilot plant, baru dicek skala industrinya.
Proses peningkatan kualitas bio-oil ini mempunyai
konsekuensi biaya yang besar. Upgrading melalui hydrotreating
atau cracking memerlukan infrastruktur yang setara dengan kilang minyak
skala menengah. Investasi untuk membangun fasilitas tersebut tidak kecil.
Operator di lapangan harus memastikan seluruh proses berada dalam kendali ketat
agar biaya produksi tetap rasional. Hal ini menentukan apakah bio-oil
dapat bersaing dengan bahan bakar fosil di pasar.
Pengelolaan jerami sebagai bahan baku juga menjadi faktor
penentu. Jerami memiliki kadar air tinggi dan volume besar sehingga memerlukan
upaya pengeringan dan pengurangan ukuran sebelum diproses. Logistik jerami dari
lahan ke fasilitas pirolisis dapat menghabiskan biaya operasional yang
signifikan. Efisiensi sistem hanya tercapai jika rantai pasok berjalan
terintegrasi dari petani hingga fasilitas produksi.
Pemanfaatan hasil samping seperti syngas dan biochar
dapat meningkatkan efisiensi total. Syngas dapat digunakan kembali untuk
mendukung proses pemanasan reaktor. Biochar dapat menjadi produk
tambahan untuk sektor pertanian. Nilai tambah ini membantu memperbaiki struktur
biaya, tetapi tidak mengubah karakter dasar bio-oil yang tetap
memerlukan pemrosesan lanjutan untuk menjadi bahan bakar kendaraan.
Indonesia membutuhkan inovasi energi terbarukan yang
realistis. Teknologi pirolisis jerami memberi peluang riset dan pengembangan
yang menarik, tetapi klaim kesetaraan bio-oil dengan bensin premium perlu
dikaji hati-hati. Publik memerlukan penjelasan jujur mengenai batasan teknis,
biaya upgrading, serta kesiapan infrastruktur industri yang diperlukan.
Pengembangan bio-oil dari jerami tetap penting
sebagai bagian dari diversifikasi energi. Teknologi ini dapat diarahkan untuk
sektor industri atau co-firing pembangkit yang tidak membutuhkan standar
setinggi bahan bakar kendaraan. Pendekatan bertahap ini lebih selaras dengan
kondisi teknologi yang tersedia saat ini. Inovasi perlu berjalan dengan
evaluasi yang transparan agar pengambilan keputusan energi nasional berbasis
pada data dan kapasitas nyata.
.jpg)
1.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)


.jpg)

.jpg)

