Logo Porosbumi
Rabu,
08 April 2026
LIVE TV

Begini Strategi PHE di Tengah Badai Geopolitik demi Menjaga Nadi Energi Negeri

Yani Andriyansyah 07 Apr 2026, 07:50:16 WIB
Begini Strategi PHE di Tengah Badai Geopolitik demi Menjaga Nadi Energi Negeri
Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Mery Luciawaty, dalam forum diskusi internasional Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (1/4/2026). (dok. Pertamina)

Di tengah riuhnya panggung geopolitik global dan gejolak harga minyak yang tak menentu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) tampil sebagai garda terdepan dalam memastikan ketahanan energi nasional Indonesia. Bukan sekadar wacana, komitmen ini diwujudkan melalui akselerasi pengembangan lapangan minyak dan gas bumi (migas) yang menjadi tulang punggung keberlangsungan pasokan energi bagi jutaan masyarakat dan industri.


Direktur Pengembangan dan Produksi PHE, Mery Luciawaty, menegaskan urgensi langkah ini di forum internasional Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia. Mengusung tema Accelerating Development for Energy Security: Fast-Tracking Field Strategies in a Volatile World, forum ini menjadi ajang bagi PHE untuk memaparkan strategi vitalnya. 


Di tengah ketidakpastian global, percepatan pengembangan lapangan migas menjadi langkah strategis untuk memastikan ketahanan energi nasional, sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan energi bagi masyarakat dan industri, ujar Mery dalam forum diskusi internasional Offshore Technology Conference (OTC) Asia 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, belum lama ini.


Sebagai Subholding Upstream Pertamina, PHE saat ini mengukir jejak signifikan dengan mengelola 20 basin yang menghasilkan sekitar 1 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD). Angka ini bukan main-main, menyumbang sekitar 65% produksi minyak nasional dan 36% produksi gas nasional, semua dari hanya 27% wilayah kerja migas domestik. Sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol.


Namun, di balik gemilangnya angka tersebut, PHE menghadapi tantangan yang tidak ringan. Laju penurunan produksi (decline rate) menjadi momok, mencapai 24% untuk minyak dan 21% untuk gas. Ditambah lagi, integritas aset menjadi isu krusial karena 65% aset PHE telah berusia lebih dari 30 tahun. 


Biaya operasional pun membengkak seiring dengan produksi yang sudah memasuki fase akhir (late stage of development), di mana teknik Enhanced Oil Recovery (EOR) seperti steamflood dan chemical oil recovery memerlukan investasi besar dan dukungan keandalan listrik. Belum lagi tantangan komersialisasi lapangan gas stranded di area terpencil yang menuntut inovasi teknologi seperti GTL atau mini LNG agar ekonomis.


Inovasi dan Strategi untuk Masa Depan

Menjawab berbagai tantangan tersebut, PHE tidak berdiam diri. Berbagai strategi jitu tengah dijalankan. Salah satunya adalah percepatan pematangan proyek (project maturation) yang melibatkan tim pengembangan sejak dini dalam proyek eksplorasi, memastikan rencana pengembangan yang lebih matang dan efisien. Optimalisasi lapangan marjinal juga dilakukan melalui pendekatan terintegrasi dan efisiensi biaya.


Inovasi teknologi menjadi kunci utama lainnya. PHE terus mendorong penerapan teknologi mutakhir untuk pengembangan lapangan deepwater, migas nonkonvensional, chemical enhanced oil recovery (CEOR), serta pengembangan ekosistem carbon capture, utilization and storage (CCUS). Ini semua adalah bagian dari visi jangka panjang PHE untuk energi yang lebih hijau dan berkelanjutan.


Tak hanya di dalam negeri, PHE juga meluaskan sayapnya ke kancah global. Melalui anak usahanya, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), PHE mengelola aset di Aljazair, Irak, dan Malaysia. Ditambah lagi dengan kepemilikan saham mayoritas di Maurel & Prom yang beroperasi di Afrika, Amerika, dan Eropa, portofolio internasional PHE semakin kokoh.


Dengan segala inisiatif dan strategi yang terencana, PHE optimistis dapat terus meningkatkan kinerja operasionalnya, sekaligus menjadi pilar penting dalam mewujudkan swasembada energi nasional. Dengan penguatan kapabilitas organisasi, kemitraan strategis, serta dukungan kebijakan fiskal yang kompetitif, PHE berkomitmen untuk terus mengoptimalkan pengembangan migas nasional guna mendukung ketahanan energi Indonesia, pungkas Mery.


Lebih dari sekadar bisnis, PHE juga mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam setiap pengelolaan operasi dan bisnis hulu migasnya. Komitmen Zero Tolerance on Bribery dengan implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang terstandardisasi ISO 37001:2016 menjadi bukti nyata bahwa PHE tidak hanya mengejar profit, tetapi juga integritas dan keberlanjutan. Melalui langkah-langkah strategis ini, PHE tidak hanya mengamankan pasokan energi hari ini, tetapi juga membangun fondasi kuat untuk masa depan energi Indonesia yang lebih cerah. (yans)

Topik Terkait

Komentar Pembaca ( 0)

Tulis Komentar
Tinggalkan Komentar
```