- Panggung Hijau di Tengah Euforia, XLSMART Sulap Konser Jadi Ajang Zero Waste Berkelanjutan
- Ramadan Tanpa Khawatir, Telkomsel Siaga 24 Jam Temani Pelanggan hingga Idulfitri 2026
- Bangun Pagi dan Gaya Hidup Aktif Dapat Mencegah Penyakit Saraf Mematikan
- Pastikan Gizi Terjaga, Menko Pangan Tinjau Langsung Pelaksanaan MBG di Lampung Tengah
- Dari Sawah ke Panggung Dunia, Obsesi Besar Mentan Amran untuk Kedaulatan Pangan Indonesia
- Music Awards Japan 2026 Bakal Kembali Gegerkan Asia, Siap Mengubah Peta Musik
- Kemenkoinfra Luncurkan Podcast InfraMe, Hadirkan Wajah Pembangunan Nasional yang Lebih Humanis
- Villas for Rent in Bali: Menikmati Keindahan Alam Pulau Dewata dari Sebuah Vila
- Menjelajah 10 Negara Terkecil di Dunia
- Mentan Minta Kontrak Cetak Sawah Rakyat 101 Ribu Hektare Tuntas dalam Sebulan
Bangun Pagi dan Gaya Hidup Aktif Dapat Mencegah Penyakit Saraf Mematikan
Gaya hidup sehat punya efek jangka panjang

Keterangan Gambar : Rutin bangun pagi dan tidur yang cukup bisa membantu menjaga kesehatan tubuh
Pernah nggak sih kepikiran kalau bangun pagi itu bukan cuma soal biar nggak telat kerja atau kuliah, tapi juga bisa jadi investasi buat kesehatan otak? Sebuah studi terbaru menemukan fakta menarik,kebiasaan simpel seperti bangun lebih pagi dan tetap aktif bergerak ternyata bisa menurunkan risiko penyakit saraf langka tapi mematikan yang disebut amyotrophic lateral sclerosis (ALS).
Penasaran apa itu ALS? Ini adalah penyakit serius yang menyerang sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang, tepatnya sel yang mengatur gerakan otot. Saat sel-sel ini rusak dan mati perlahan, tubuh ikut “shutdown” sedikit demi sedikit.
Penderita ALS akan kehilangan kemampuan untuk berjalan, berbicara, menelan, bahkan bernapas. Penyakit ini juga dikenal sebagai Lou Gehrig's disease, diambil dari nama atlet bisbol legendaris Lou Gehrig yang pernah didiagnosis mengidapnya. Yang bikin miris, sampai sekarang belum ada obatnya. Sebagian besar pasien hanya bertahan dua sampai lima tahun setelah gejala muncul.
Baca Lainnya :
- Pastikan Gizi Terjaga, Menko Pangan Tinjau Langsung Pelaksanaan MBG di Lampung Tengah0
- Dari Sawah ke Panggung Dunia, Obsesi Besar Mentan Amran untuk Kedaulatan Pangan Indonesia 0
- Music Awards Japan 2026 Bakal Kembali Gegerkan Asia, Siap Mengubah Peta Musik 0
- Kemenkoinfra Luncurkan Podcast InfraMe, Hadirkan Wajah Pembangunan Nasional yang Lebih Humanis0
- Villas for Rent in Bali: Menikmati Keindahan Alam Pulau Dewata dari Sebuah Vila0
Tim Early Bird vs Night Owl
Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Hong-Fu Li dari Zhejiang University ini melibatkan lebih dari 500.000 orang dewasa dengan rata-rata usia 57 tahun dan dipantau selama sekitar 14 tahun. Hasilnya cukup bikin kaget. Orang-orang yang terbiasa bangun pagi alias “early bird” punya risiko sekitar 20 persen lebih rendah terkena ALS dibanding mereka yang hobi begadang alias “night owl”.
Dari total peserta penelitian, 675 orang didiagnosis ALS. Angka ini memang kecil dibanding total partisipan, tapi itu juga menunjukkan betapa langkanya penyakit ini. Meski begitu, dampaknya luar biasa besar bagi pasien dan keluarganya.
Para ahli menegaskan, studi ini menunjukkan hubungan, bukan bukti mutlak bahwa bangun pagi atau olahraga pasti mencegah ALS. Masih perlu penelitian lanjutan untuk memastikan sebab-akibatnya.
Yang perlu dicatat, durasi tidur juga berpengaruh. Mereka yang tidur cukup, sekitar enam sampai delapan jam per malam, cenderung punya risiko lebih rendah dibanding yang kurang tidur atau justru kebanyakan tidur. Kenapa bisa begitu?
Jawabannya ada di ritme sirkadian, alias “jam biologis” tubuh. Ritme ini mengatur banyak hal penting,hormon, metabolisme, sampai proses perbaikan sel di otak. Kalau pola tidur kita berantakan terus-menerus, jam internal ini bisa terganggu. Dalam jangka panjang, efeknya bisa ke mana-mana, termasuk kesehatan saraf.
Selain pola tidur, aktivitas fisik juga jadi faktor penting. Orang yang aktif, entah itu jalan kaki, olahraga ringan, bersih-bersih rumah, atau aktivitas lain yang bikin tubuh bergerak, punya risiko ALS sekitar 26 persen lebih rendah dibanding mereka yang jarang gerak. Olahraga memang sudah lama dikenal bisa menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, sampai demensia. Nah, penelitian ini memberi sinyal bahwa kebiasaan aktif mungkin juga bantu melindungi sel-sel saraf.
Secara ilmiah, aktivitas fisik bisa meningkatkan aliran darah ke otak, mengurangi peradangan, membantu tubuh membuang zat-zat berbahaya. Semua itu penting buat menjaga “hardware” otak tetap awet. Tapi satu hal yang jelas—gaya hidup sehat memang punya efek jangka panjang. Jadi, mulai besok bangun lebih pagi. Mungkin kita nggak bisa mengontrol semua risiko penyakit. Tapi kabar baiknya, ada hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan seperti tidur teratur, Cukup tidur (6–8 jam), bangun saat matahari mulai naik, dan tetap aktif sepanjang hari.
Buat generasi milenial dan Gen Z yang sering “balas dendam begadang”, mungkin ini saatnya mikir ulang. Bangun pagi bukan cuma soal produktivitas atau estetik sunrise di Instagram. Bisa jadi, itu salah satu cara paling simpel buat jaga otak tetap sehat dalam jangka panjang. Kadang, perubahan besar memang dimulai dari hal yang kelihatannya sepele seperti bangun pagi.
.jpg)
1.jpg)

2.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)

